Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwa

Kapolda NTT Terima Bintang Veteran, Tegaskan Amanah Nasionalisme

6
×

Kapolda NTT Terima Bintang Veteran, Tegaskan Amanah Nasionalisme

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUPANG |LINTASTIMOR.ID— Di tengah deretan para veteran yang pernah menukar masa muda dengan pengabdian panjang kepada republik, sebuah penghormatan berlangsung di bumi Flobamorata, Jumat (18/9/2026). Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., menerima penganugerahan dan penyematan Bintang Kehormatan dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Penganugerahan itu bukan sekadar seremoni. Di hadapan para pejuang yang menjadi saksi perjalanan bangsa, penghargaan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara generasi yang pernah berjuang mempertahankan republik dan generasi yang kini memikul tanggung jawab menjaga nilai-nilai kebangsaan.

Example 300x600

Prosesi berlangsung dengan suasana penuh penghormatan dan dihadiri langsung Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LVRI, Jenderal TNI (Purn) H. B. L. Mantiri. Hadir pula Ketua Wantimpus LVRI Komjen Pol (Purn) Dr. H. Ito Sumardi DS., S.H., MBA., M.M., M.H.; Wakil Ketua Umum I DPP LVRI Letjen TNI (Purn) Muzani Syukur; Pengurus DPP LVRI Irjen Pol (Purn) Drs. Zainal Abidin Ishak, S.H. bersama Marsma TNI (Purn) Drs. Moh. Frans Yusuf, M.M. beserta Ibu.

Dari unsur pemerintah daerah, hadir Wakil Gubernur NTT Irjen Pol (Purn) Dr. Drs. Johni Asadoma, M.Hum., Ketua DPRD Provinsi NTT beserta jajaran Forkopimda atau yang mewakili, unsur DPD LVRI Provinsi NTT, Irwasda Polda NTT, para Pejabat Utama (PJU) Polda NTT, serta para tamu undangan.

Suasana nasionalisme semakin terasa ketika Kapolda NTT membuka rangkaian sambutannya melalui pantun khas daerah:

“Ke Pasar Oeba membeli melati,
Melati putih harum mewangi,
Selamat datang para veteran sejati,
Di bumi Flobamorata yang kami sayangi.”

Pantun itu menjadi jembatan menuju pesan utama Kapolda: bahwa penghormatan kepada veteran bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang menjaga agar nilai perjuangan tetap hidup dalam pengabdian hari ini.

Di hadapan para veteran, Rudi Darmoko menyampaikan rasa hormat sekaligus kebanggaannya dapat berada di tengah para senior yang telah memberikan bagian terbaik hidup mereka bagi bangsa dan negara.

“Hari ini merupakan sebuah kehormatan yang sangat besar bagi saya selaku Kapolda NTT, dapat berdiri di tengah para senior veteran, para pejuang yang telah memberikan bagian terbaik dari seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara,” ujar Kapolda NTT.

Pernyataan tersebut menempatkan penghargaan itu dalam konteks yang lebih luas: bukan semata penghormatan kepada seorang pejabat, melainkan penghargaan terhadap nilai pengabdian yang diwariskan para veteran kepada generasi penerus.

Kapolda mengingatkan, kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari perjalanan yang mudah. Kemerdekaan dibangun melalui keberanian, pengorbanan, serta keteguhan hati para pejuang. Ia kemudian mengutip ungkapan Jenderal Douglas MacArthur, “Old soldiers never die; they just fade away”—prajurit tua tidak pernah mati, mereka hanya perlahan menghilang.

Namun, bagi Rudi Darmoko, usia dan waktu tidak seharusnya menghapus semangat perjuangan. Nilai-nilai yang diwariskan para pejuang justru harus diterjemahkan ke dalam pengabdian nyata pada masa kini.

“Namun bagi kami, semangat seorang pejuang tidak akan pernah hilang. Penghormatan terbaik adalah melanjutkan nilai-nilai perjuangan tersebut melalui karya nyata dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” tegasnya.

Pesan itu memperlihatkan bahwa penghormatan terhadap veteran tidak berhenti pada simbol atau seremoni. Nilai perjuangan justru memperoleh makna ketika diteruskan melalui tindakan nyata, terutama dalam menjaga pelayanan kepada masyarakat, kecintaan kepada tanah air, serta tanggung jawab kebangsaan.

Kapolda NTT juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada keluarga besar LVRI yang terus mewariskan nilai cinta tanah air, kesetiaan, pengorbanan, dan kehormatan kepada generasi penerus.

Ketika berbicara mengenai bintang kehormatan yang baru saja disematkan kepadanya, Rudi Darmoko kembali menempatkan penghargaan tersebut bukan sebagai pencapaian personal semata, melainkan sebagai tanggung jawab moral untuk meneruskan semangat perjuangan.

“Bintang veteran yang disematkan kepada saya hari ini akan saya terima dengan penuh rasa hormat dan kebanggaan. Saya memaknainya bukan hanya sebagai penghargaan pribadi, tetapi sebagai amanah untuk terus berjuang dan menjaga serta menumbuhkan semangat untuk meneruskan perjuangan para veteran dalam rangka meningkatkan rasa nasionalisme kepada tanah air tercinta, serta mempererat persaudaraan antara Polri dengan keluarga besar veteran, khususnya di Polda NTT,” pungkasnya.

Secara kontekstual, penyematan penghargaan tersebut mempertemukan dua bentuk pengabdian dalam satu ruang: pengabdian para veteran yang telah melewati fase perjuangan bangsa pada masa lalu dan pengabdian institusi kepolisian dalam menjaga keamanan serta melayani masyarakat pada masa kini. Di titik itulah pesan tentang nasionalisme memperoleh relevansinya—nilai perjuangan tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi melalui keteladanan dan kerja nyata lintas generasi.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama agar seluruh veteran dan keluarga besar LVRI senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kebahagiaan.

Sebelum acara benar-benar berakhir, Kapolda NTT kembali menghadirkan suasana hangat melalui pantun penutup:

“Burung Nuri terbang ke Tablolong,
Singgah sejenak ke pohon nira,
Dulu NTT ‘Nanti Tuhan Tolong’,
Kini NTT ‘Nikmat Tiada Tara’.”

Di antara tepuk tangan dan kenangan panjang para veteran, bintang itu akhirnya menemukan makna yang lebih dalam: bukan hanya sesuatu yang disematkan di dada, melainkan pengingat bahwa perjuangan sebuah bangsa tidak pernah selesai—ia hanya berpindah tangan, dari mereka yang dahulu berjuang untuk kemerdekaan kepada mereka yang hari ini bertugas menjaga kehormatan republik.

Example 300250