MANGGARAI TIMUR |LINTASTIMOR.ID — Malam yang biasanya menjadi waktu untuk memejamkan mata di balik dinding asrama berubah menjadi malam panjang yang penuh kecemasan.
Di Kisol, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Pulau Flores, para siswa SMP dan SMA Seminari Pius XII Kisol memilih bermalam di luar asrama pada Sabtu malam (15/8/2026), setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur.
Di bawah langit malam, halaman luar asrama menjadi tempat mereka mencari rasa aman. Kasur dan tempat tidur seolah kehilangan maknanya ketika bumi baru saja memperlihatkan betapa rapuhnya bangunan dan rasa tenang manusia.
Dokumentasi Seminari Pius XII Kisol memperlihatkan para siswa berada di luar asrama. Mereka tidak sedang berkemah. Mereka sedang menunggu malam berlalu, dengan kecemasan terhadap kemungkinan guncangan susulan.
Gempa utama terjadi pada Sabtu pagi dan mengguncang sejumlah wilayah di Flores serta kawasan NTT. Gempa dangkal berkekuatan M7,7 itu memicu peringatan tsunami yang kemudian dihentikan. Laporan media internasional menyebut gempa tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah NTT, sementara proses pencarian dan pendataan masih berlangsung.
Bagi para siswa Seminari Pius XII Kisol, malam itu bukan lagi tentang pelajaran, jadwal asrama, atau rutinitas pendidikan. Yang tersisa adalah kewaspadaan—menjaga diri sembari menunggu bumi benar-benar tenang.
“Malam ini, halaman asrama menjadi tempat kami mencari rasa aman. Anak-anak memilih berada di luar karena keselamatan adalah yang paling utama setelah gempa mengguncang.”
Kegelisahan itu menjadi gambaran kecil dari suasana Flores pada malam setelah gempa. Di banyak tempat, warga memilih keluar dari rumah atau bangunan karena khawatir terhadap guncangan susulan. Laporan juga mencatat adanya sejumlah gempa susulan setelah gempa utama.
Secara kontekstual, keputusan para siswa untuk bermalam di luar asrama merupakan bentuk kewaspadaan yang manusiawi di tengah situasi pascagempa. Sekolah dan asrama bukan hanya ruang pendidikan, tetapi juga tempat perlindungan bagi anak-anak yang tinggal jauh dari keluarga. Karena itu, keselamatan mereka menjadi perhatian utama ketika kondisi bangunan dan lingkungan belum sepenuhnya dapat dipastikan aman.
Di tengah gelap malam Kisol, anak-anak itu mungkin hanya ingin satu hal: pagi segera datang.
Dan ketika matahari kembali menyentuh Flores, semoga yang tersisa bukan ketakutan, melainkan keberanian untuk bangkit—sebab setelah bumi berguncang, manusia selalu punya cara untuk saling menguatkan dan kembali berdiri.


















