Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupInternasionalNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

Fulan Fehan Menyatukan Dunia: Dari Savana Perbatasan, NTT Menari untuk Persahabatan

80
×

Fulan Fehan Menyatukan Dunia: Dari Savana Perbatasan, NTT Menari untuk Persahabatan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

LAMAKNEN |LINTASTIMOR.ID – Sore itu, langit Fulan Fehan seolah menundukkan diri untuk menyaksikan sebuah peristiwa yang lebih besar dari sekadar festival. Hamparan savana yang selama ini dikenal sebagai salah satu bentang alam paling memukau di Pulau Timor berubah menjadi lautan manusia, warna budaya, dan semangat persahabatan yang mengalir tanpa batas.

Di tengah rerumputan yang bergelombang diterpa angin perbatasan, ribuan orang berkumpul. Warga, wisatawan, tokoh nasional, hingga tamu mancanegara menyatu dalam satu irama yang sama pada Puncak Festival Fulan Fehan IV Tahun 2026 yang mengusung tema “Dance for Friendship”.

Example 300x600

Tema itu bukan sekadar slogan. Ia hidup dalam setiap langkah kaki penari, dalam setiap dentuman tifa, dan dalam setiap senyum yang terukir di wajah mereka yang hadir.

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, yang hadir langsung bersama sang istri, menyaksikan bagaimana budaya mampu menjelma menjadi bahasa universal yang dipahami oleh semua orang, tanpa memandang asal-usul maupun kebangsaan.

╔════════════════ ❝ ════════════════╗

“Ada tempat di NTT yang bukan hanya indah untuk dilihat, tetapi juga mampu membuat kita bangga menjadi bagian dari cerita ini. Hari ini saya menyaksikan sendiri bagaimana Savana Fulan Fehan berubah menjadi lautan manusia, budaya, dan persahabatan,” ungkap Melki Laka Lena.

╚════════════════ ❝ ════════════════╝

Puncak kemeriahan festival terlihat saat ribuan penari menampilkan Tarian Likurai Kolosal. Gerakan yang serempak, hentakan kaki yang berirama, dan tabuhan tifa yang menggema di antara bukit-bukit Fulan Fehan menghadirkan suasana magis yang membawa kisah leluhur Pulau Timor kembali hidup di hadapan dunia.

Bagi masyarakat Belu, Likurai bukan sekadar tarian. Ia adalah warisan identitas, simbol penghormatan, sekaligus cerita panjang tentang sejarah, perjuangan, dan persaudaraan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kehadiran sejumlah tokoh penting semakin menegaskan posisi Festival Fulan Fehan sebagai agenda budaya yang memiliki daya tarik nasional bahkan internasional. Turut hadir Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Muhammad Tito Karnavian bersama Ny. Tri Tito Karnavian, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto bersama istri, perwakilan Kementerian Pariwisata, Wali Kota Darwin Australia, delegasi Timor Leste, unsur Forkopimda, serta berbagai tamu undangan lainnya.

╔════════════════ ❝ ════════════════╗

“NTT bukan hanya tentang alam yang indah. NTT adalah tentang budaya yang hidup, masyarakat yang ramah, dan tradisi yang mampu menghubungkan dunia,” tutur Melki Laka Lena.

╚════════════════ ❝ ════════════════╝

Di sela kemegahan panggung budaya itu, denyut ekonomi rakyat juga ikut bergerak. Stan-stan UMKM dipenuhi pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan lokal Belu. Tenun tradisional, kuliner khas, kerajinan tangan, hingga berbagai produk kreatif masyarakat mendapatkan ruang yang layak untuk tampil dan dikenal lebih luas.

Festival ini membuktikan bahwa budaya tidak hanya berfungsi menjaga identitas, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Ketika wisatawan datang, yang bergerak bukan hanya sektor pariwisata, melainkan juga rantai usaha rakyat yang tumbuh bersama kebanggaan terhadap warisan daerahnya.

Secara kontekstual, Festival Fulan Fehan menunjukkan bagaimana wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste kini tidak lagi dipandang sebagai garis pemisah, melainkan ruang perjumpaan yang memperkuat diplomasi budaya. Melalui seni, tradisi, dan keterlibatan masyarakat, Belu menghadirkan wajah NTT yang inklusif, terbuka, dan mampu membangun hubungan persahabatan lintas negara secara alami dan berkelanjutan.

Dari ujung timur Indonesia, dari hamparan savana yang memeluk langit Pulau Timor, sebuah pesan sederhana kembali dikirimkan kepada dunia: bahwa budaya memiliki kekuatan untuk menyatukan, dan persahabatan memiliki daya untuk menguatkan.

Fulan Fehan hari itu bukan hanya menjadi panggung tarian. Ia menjelma menjadi ruang tempat sejarah, identitas, dan harapan bertemu dalam satu denyut yang sama—mengingatkan kita bahwa warisan budaya yang dijaga dengan cinta akan selalu menemukan jalannya untuk menghubungkan manusia, melampaui batas-batas geografis dan waktu.

Example 300250