Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHiburanNasionalPeristiwaPolkam

Festival Timor Liliba Rawat Warisan di Tengah Modernisasi

26
×

Festival Timor Liliba Rawat Warisan di Tengah Modernisasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUPANG |LINTASTIMOR.ID— Di antara riuh tawa, gerak tari, aroma jagung bose yang dimasak para mama, dan warna-warni pakaian dari bahan daur ulang, budaya Timor menemukan panggungnya kembali di RW 11, Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Festival Budaya Timor bertajuk “Nekaf Mese Ansaof Mese — Satu Hari Satu Jiwa, Sehati Sepikir” yang berlangsung sejak 12 hingga 14 Agustus 2026 itu digelar meriah sebagai ruang bersama untuk merawat adat, memperkenalkan kembali tradisi leluhur, sekaligus menggerakkan ekonomi warga.

Example 300x600

Rangkaian kegiatan tersebut dijadwalkan ditutup secara resmi pada 14 Agustus 2026 oleh Camat Oebobo, Zet Batmalo, S.H., M.H.

Selama festival berlangsung, masyarakat tidak hanya disuguhi hiburan. Berbagai kekayaan budaya Timor dihadirkan melalui proses pembuatan jagung bose oleh para mama, perlombaan tarian tradisional, berbagai lomba hiburan, hingga ajang “Menari Timor Terheboh” yang menghidupkan suasana perayaan.

Ada pula fashion show dengan memanfaatkan bahan daur ulang sampah. Kreativitas itu mempertemukan tradisi dan gagasan baru dalam satu panggung: budaya tetap dijaga, sementara generasi hari ini diberi ruang untuk mengekspresikannya dengan cara mereka sendiri.

“Festival ini bukan sekadar panggung hiburan. Di dalamnya ada upaya menghidupkan kembali adat dan tradisi asli Timor agar tidak hilang ditelan arus modernisasi,” demikian semangat yang dibangun melalui kegiatan Festival Budaya Timor di Liliba.

Ketika Tradisi Menjadi Ruang Pertemuan

Festival tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan kembali keragaman tradisi dari berbagai komunitas dan wilayah Timor, termasuk Helong, Sabu, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Belu, hingga Malaka.

Bagi masyarakat, kebudayaan tidak semestinya hanya tinggal sebagai cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia harus hadir, dipraktikkan, dikenalkan kepada anak-anak, dan dirayakan bersama agar tetap memiliki tempat dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah perubahan zaman, festival semacam ini menjadi penting karena modernisasi kerap membuat generasi muda semakin jauh dari akar budayanya. Ketika tradisi diberi ruang untuk tampil dalam bentuk seni, makanan, busana, dan permainan, warisan leluhur tidak hanya disimpan sebagai kenangan, tetapi kembali menjadi pengalaman yang hidup.

Di Liliba, budaya tidak dibiarkan menjadi benda lama di dalam lemari sejarah. Ia diturunkan ke panggung, disentuh tangan anak-anak muda, ditarikan, dimasak, dikenakan, lalu dirayakan bersama.

Budaya Sekaligus Menggerakkan Ekonomi

Festival juga dirancang menjadi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk mereka.

Puluhan stand UMKM hadir membawa produk pangan lokal dan berbagai olahan yang memanfaatkan bahan dasar jagung dan ubi. Kreativitas warga dalam menciptakan menu pangan lokal menjadi bagian dari upaya menggerakkan ekonomi masyarakat.

Lurah Liliba Victor Makoni berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda budaya semata, tetapi mampu memberikan dampak langsung terhadap kehidupan ekonomi warga.

“Festival ini kami harapkan dapat menggerakkan ekonomi warga. Puluhan stand pelaku UMKM lokal mendapat ruang untuk memasarkan produknya, sehingga usaha kecil terus tumbuh dan semakin berdaya saing,” demikian harapan Lurah Liliba Victor Makoni.

Dengan demikian, kebudayaan dan ekonomi warga berjalan beriringan. Makanan tradisional tidak sekadar menjadi sajian, tetapi dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi. Seni tradisi tidak hanya menjadi tontonan, tetapi membuka ruang kreativitas dan partisipasi masyarakat.

Mewariskan Budaya kepada Generasi Muda

Ketua Panitia Festival Budaya Timor, Jean Salem, mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat tali persaudaraan dan membangun kebersamaan masyarakat.

Festival digelar dalam suasana menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, sehingga perayaan budaya sekaligus menjadi ruang suka cita masyarakat menjelang momentum kemerdekaan.

“Festival Budaya Timor ini menjadi sarana mempererat tali persaudaraan, membangun kebersamaan dan menghadirkan suka cita bagi masyarakat dalam menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia,” kata Jean Salem.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut membawa pesan edukasi bagi generasi muda. Mereka diajak mengenal, menghargai, mencintai, sekaligus mewarisi budaya leluhur agar identitas Timor tetap tumbuh bersama perkembangan zaman.

Harapan itu menjadi semakin penting ketika kebudayaan berhadapan dengan arus modernisasi yang bergerak cepat. Pelestarian tidak cukup hanya melalui seremoni, tetapi membutuhkan keterlibatan generasi muda sebagai penerus yang akan menentukan apakah tradisi tersebut tetap hidup atau perlahan menghilang.

Karena itu, Festival Budaya Timor Liliba menjadi lebih dari sekadar rangkaian lomba dan pertunjukan. Ia mempertemukan adat, seni, pangan lokal, kreativitas, UMKM, persaudaraan, dan pendidikan budaya dalam satu ruang kehidupan masyarakat.

Tiga hari perayaan itu pun mendekati penghujungnya. Namun pesan yang dibawanya jauh lebih panjang daripada usia sebuah festival.

Sebab, sebuah tradisi akan benar-benar hilang bukan ketika zaman berubah, melainkan ketika generasi penerus berhenti mengenal, mencintai, dan merayakannya. Di Liliba, warisan itu kembali ditarikan—agar akar Timor tetap hidup, meski dunia terus bergerak maju.

Example 300250