LOTAS |LINTASTIMOR.ID | – Siang itu, langit di atas perbukitan Kecamatan Rinhat tampak tenang. Namun di Kilometer 10 Desa Lotas, sebuah kendaraan trayek berwarna kuning mendadak menjadi pusat perhatian. Mobil yang mengangkut material bangunan dari Betun menuju wilayah Rinhat itu tak lagi bergerak bebas. Ia berdiri miring di badan jalan yang rusak akibat longsor, seolah sedang berjuang menahan beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Jalan yang biasanya menjadi urat nadi penghubung masyarakat mendadak lumpuh. Deretan kendaraan mengular panjang dari kedua arah. Mesin-mesin dimatikan. Para pengemudi turun dari kendaraan. Sebagian memilih menunggu dengan sabar, sebagian lainnya menatap ke arah trayek yang melintang di jalan dengan wajah penuh tanya.
Di tengah suasana itu, debu tipis beterbangan diterpa angin. Material bangunan yang diangkut trayek tersebut masih tersusun rapi, sementara roda-roda kendaraan tampak kehilangan tenaga untuk menaklukkan tanjakan yang telah berubah menjadi jalur berbahaya akibat longsoran tanah.
Warga setempat menduga kendaraan tersebut tidak mampu menahan beban saat melewati tanjakan pada ruas jalan yang kondisinya sudah tergerus longsor.
“Diduga mobil tidak kuat menanjak sehingga miring dan akhirnya menutup sebagian badan jalan,” tutur Yosefina Banfatin, warga Desa Lotas, kepada Lintastimor.id, Selasa (16/6/2026).
Peristiwa itu terjadi pada siang hari ketika aktivitas masyarakat sedang ramai. Material bangunan yang seharusnya menjadi bagian dari pembangunan justru tertahan di tengah perjalanan. Kendaraan-kendaraan lain pun terpaksa berhenti, menunggu jalur kembali terbuka.
Bagi warga Rinhat, jalan tersebut bukan sekadar hamparan aspal dan tanah. Ia adalah jalur kehidupan yang menghubungkan kampung-kampung dengan pusat ekonomi di Betun. Ketika satu kendaraan tersendat, denyut aktivitas masyarakat ikut melambat.
Antrian panjang yang terbentuk menjadi pemandangan yang kontras dengan sunyinya perbukitan Lotas. Di satu sisi, alam menyajikan keindahan khas pedalaman Malaka. Di sisi lain, kerusakan jalan dan longsoran tanah menghadirkan cerita tentang tantangan yang harus dihadapi masyarakat setiap hari.
Di jalan yang terluka oleh longsor itu, sebuah trayek kuning mengajarkan bahwa perjalanan bukan hanya soal sampai tujuan. Kadang, ia juga menjadi pengingat bahwa infrastruktur yang rapuh dapat menghentikan langkah banyak orang dalam waktu yang bersamaan.
Hingga berita ini ditulis, arus lalu lintas masih mengalami gangguan akibat posisi kendaraan yang menutup sebagian badan jalan. Warga berharap penanganan segera dilakukan agar akses transportasi yang menjadi urat nadi Kecamatan Rinhat dapat kembali normal.


















