Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwaPolkam

Di Tengah Guncangan Dunia, Bupati Kupang Tegaskan Pancasila Tetap Menjadi Bintang Penuntun Bangsa

51
×

Di Tengah Guncangan Dunia, Bupati Kupang Tegaskan Pancasila Tetap Menjadi Bintang Penuntun Bangsa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUPANG | LINTASTIMOR.ID – Pagi yang teduh menyelimuti Kabupaten Kupang, Senin (1/6/2026). Di tengah kibaran Merah Putih yang bergerak perlahan diterpa angin, ratusan peserta upacara berdiri dalam keheningan yang sarat makna. Bukan sekadar memperingati sebuah tanggal bersejarah, mereka hadir untuk mengenang sekaligus meneguhkan kembali sebuah warisan yang telah menjaga Indonesia tetap utuh di tengah derasnya arus perubahan zaman: Pancasila.

Pada momentum Hari Lahir Pancasila Tahun 2026, Bupati Kupang Yosef Lede bertindak sebagai Inspektur Upacara dan membacakan sambutan tertulis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Yudian Wahyudi. Upacara berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan, menjadi ruang refleksi bersama atas pentingnya menjaga api ideologi negara agar tetap menyala dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Example 300x600

Tema yang diusung tahun ini, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia,” menjadi pesan yang menggema kuat sepanjang jalannya upacara. Tema tersebut menegaskan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila bukan hanya menjadi perekat keutuhan Indonesia, tetapi juga menawarkan jalan bagi terciptanya perdamaian dunia yang berkeadilan.

Di tengah berbagai tantangan global yang ditandai konflik, ketidakpastian ekonomi, perubahan teknologi yang cepat, hingga ancaman perpecahan sosial, Indonesia terus berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman dapat dipersatukan dalam satu ikatan kebangsaan.

╔══════════════════════════════════╗ “Pancasila adalah ‘Bintang Penuntun’ yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah badai perubahan zaman, ia tetap menjadi panduan yang tak tergoyahkan.” ╚══════════════════════════════════╝

Pernyataan yang dibacakan oleh Bupati Yosef Lede itu seolah menjadi pengingat bahwa kekuatan Indonesia tidak lahir dari kesamaan, melainkan dari kemampuan merawat perbedaan dalam bingkai persatuan. Dari lebih dari 17.000 pulau dan ratusan kelompok etnis, bangsa ini tetap berdiri teguh karena memiliki fondasi yang sama: Pancasila.

Sambutan tersebut juga menyoroti kontribusi Indonesia di tingkat global. Kehadiran pasukan perdamaian Indonesia di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), keterlibatan dalam berbagai upaya mediasi konflik regional, hingga konsistensi menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa yang tertindas menjadi bukti nyata implementasi nilai kemanusiaan yang terkandung dalam Pancasila.

╔══════════════════════════════════╗ “Perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia. Itulah yang ingin kita tunjukkan kepada dunia.” ╚══════════════════════════════════╝

Dalam amanat tersebut, Kepala BPIP juga menitipkan pesan kepada seluruh pemimpin daerah agar setiap kebijakan publik selalu berpijak pada prinsip keadilan sosial. Negara tidak boleh membiarkan ada rakyat yang merasa tertinggal, terpinggirkan, atau kehilangan akses terhadap hak-haknya sebagai warga negara. Bersamaan dengan itu, seluruh elemen bangsa diajak untuk terus melawan intoleransi, radikalisme, dan segala bentuk ancaman yang dapat merusak persatuan nasional.

Secara kontekstual, pesan yang disampaikan dalam peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini memiliki relevansi yang semakin kuat. Dunia saat ini tengah menghadapi berbagai krisis multidimensi, mulai dari konflik geopolitik, polarisasi sosial, hingga tantangan transformasi digital yang mengubah pola kehidupan masyarakat. Dalam situasi tersebut, nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, musyawarah, toleransi, dan keadilan sosial menjadi modal strategis yang mampu menjaga Indonesia tetap stabil sekaligus menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa lain dalam membangun harmoni di tengah keberagaman.

Menjelang akhir sambutan, Bupati Yosef Lede menyampaikan seruan yang menggugah semangat kebangsaan seluruh peserta upacara.

╔══════════════════════════════════╗ “Mari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan kita. Mari kita tunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, yang menjunjung tinggi religiusitas dengan semangat persatuan, serta kuat karena nilai-nilai kemanusiaan. Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa hidup dalam setiap denyut nadi seluruh anak bangsa.” ╚══════════════════════════════════╝

Upacara tersebut turut dihadiri Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Kupang Thome Da Costa, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah Mateldius Sanam, Kepala Kantor Kementerian Agama, Kepala Cabang Bank NTT Oelamasi, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kupang.

Ketika upacara berakhir dan peserta perlahan meninggalkan lapangan, pesan yang tertinggal jauh lebih besar daripada sekadar rangkaian seremonial. Ia menjadi pengingat bahwa bangsa ini pernah dibangun oleh cita-cita luhur yang mempersatukan perbedaan. Dan selama Pancasila tetap hidup dalam pikiran, tindakan, serta kebijakan anak-anak bangsa, Indonesia akan terus melangkah sebagai negeri yang kokoh menghadapi zaman, damai dalam keberagaman, dan bermartabat di hadapan dunia.

Example 300250