Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupKabupaten MimikaNasionalPeristiwa

Di Tengah Gerimis Iduladha, Mimika Diajak Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim

87
×

Di Tengah Gerimis Iduladha, Mimika Diajak Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID– Gerimis tipis turun perlahan membasahi halaman Gedung Graha Eme Neme Yauware, Rabu pagi (27/5/2026). Namun cuaca yang dingin tak mampu meredupkan langkah ratusan umat Muslim di Kabupaten Mimika yang datang dengan hati penuh khusyuk untuk menunaikan Salat Iduladha 1447 Hijriah.

Di bawah langit yang kelabu, gema takbir berkumandang syahdu, menyatu dengan doa-doa yang dipanjatkan dalam suasana penuh ketenangan. Momentum Iduladha tahun ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga ruang perenungan tentang makna pengorbanan, keikhlasan, dan cinta dalam keluarga sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS.

Example 300x600

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Mimika, KH Abdul Karim, mengatakan bahwa tahun ini PHBI menetapkan sebanyak 94 titik pelaksanaan Salat Iduladha di wilayah Mimika. Penetapan tersebut dilakukan melalui koordinasi bersama Dewan Kemakmuran Masjid, MUI, mubaligh, serta organisasi Islam lainnya.

Pelaksanaan Salat Iduladha di halaman Graha Eme Neme Yauware dipimpin oleh Imam Ustadz Kamsir dan diikuti ratusan jamaah yang tetap bertahan meski hujan ringan mengguyur sejak pagi.

Dalam khotbah Iduladha, mengajak umat Islam untuk meneladani Nabi Ibrahim AS, terutama dalam menjaga keimanan, menghormati orang tua, serta mendidik anak-anak dengan doa dan kasih sayang.

Suasana mendadak hening ketika pesan-pesan khotbah itu mengalir pelan namun dalam, seolah menyentuh ruang batin para jamaah yang duduk bersaf-saf di bawah rinai hujan.

╔════════════════════════════════╗
║ “Di tengah kehidupan sekarang, umat harus lebih bijak menggunakan akal dan hati untuk membedakan mana yang benar dan mana yang tidak,” ujar KH Abdul Karim.
╚════════════════════════════════╝

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dalam keluarga, saling menghormati antaranggota keluarga, serta tidak pernah berhenti mendoakan orang tua maupun anak-anak.

Bagi KH Abdul Karim, Iduladha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga tentang kesediaan manusia mengorbankan ego, kesombongan, dan kepentingan pribadi demi nilai-nilai ketakwaan dan kemanusiaan.

╔════════════════════════════════╗
║ “Ibadah kurban merupakan bentuk keikhlasan dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT,” tegasnya.
╚════════════════════════════════╝

Di tengah kehidupan modern yang semakin cepat dan penuh tekanan sosial, pesan Iduladha tahun ini terasa semakin relevan. Ketika hubungan keluarga mulai renggang oleh kesibukan dan manusia semakin mudah terpecah oleh perbedaan, nilai pengorbanan dan kasih sayang yang diwariskan Nabi Ibrahim menjadi pengingat bahwa iman sejati selalu bertumbuh dari ketulusan hati.

Pemandangan jamaah yang tetap bertahan dalam gerimis pagi itu seakan menghadirkan satu pesan sederhana: bahwa keimanan tidak selalu lahir dari suasana yang nyaman, melainkan dari hati yang rela datang, bersujud, dan berserah diri dengan penuh keikhlasan.

Dan di Mimika pagi itu, di antara hujan yang jatuh perlahan dan gema takbir yang terus berkumandang, Iduladha kembali mengajarkan manusia tentang arti cinta yang paling sunyi—pengorbanan yang dilakukan dengan tulus hanya karena Allah SWT.

Example 300250