Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
NasionalPeristiwaPolkam

Dari Tondok Bakaru, Mamasa Menyiapkan Pemimpin Sekolah Masa Depan

3
×

Dari Tondok Bakaru, Mamasa Menyiapkan Pemimpin Sekolah Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pelatihan BCKS Reguler Menyatukan Pendidikan dan Potensi Pariwisata

MAMASA | LINTASTIMOR.ID – Di antara bentang alam Tondok Bakaru yang menyimpan keindahan pegunungan Mamasa, sebuah ikhtiar untuk masa depan pendidikan sedang berlangsung. Selama sepuluh hari, tempat yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata Kabupaten Mamasa itu menjadi ruang belajar bagi 30 bakal calon kepala sekolah (BCKS) yang tengah mempersiapkan diri memikul tanggung jawab kepemimpinan di dunia pendidikan.

Example 300x600

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa memilih Desa Wisata Tondok Bakaru sebagai lokasi penyelenggaraan Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) Reguler Tahun 2026. Kegiatan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia pendidikan yang memiliki kapasitas kepemimpinan, integritas, serta visi pembaruan sekolah.

Sebanyak 30 peserta mengikuti pelatihan setelah dinyatakan lolos tahapan seleksi bakal calon kepala sekolah melalui mekanisme seleksi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Untuk memperkuat proses pembelajaran, tenaga pengajar didatangkan dari Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Sulawesi Barat melalui kerja sama dengan kementerian terkait.

Di tempat yang jauh dari kesibukan ruang-ruang birokrasi perkotaan itu, para peserta tidak hanya berhadapan dengan materi pelatihan, tetapi juga dengan sebuah pertanyaan mendasar: pemimpin seperti apa yang dibutuhkan sekolah untuk menghadapi tantangan pendidikan masa depan?

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa, Yohanis, S.Pd., mengatakan pelatihan tersebut dirancang untuk melahirkan calon kepala sekolah yang tidak hanya menguasai aspek manajerial, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan yang kuat dan mampu menggerakkan seluruh ekosistem pendidikan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mencetak pemimpin sekolah yang berkualitas, berkarakter, dan mampu membawa lembaga pendidikan kita ke arah yang lebih baik. Kita membutuhkan kepala sekolah yang tidak hanya pintar mengelola administrasi, tetapi juga mampu menjadi teladan dan membangun semangat warga sekolah di tengah masyarakat.”

Pernyataan Yohanis menegaskan bahwa kepemimpinan sekolah tidak berhenti pada urusan surat-menyurat, laporan, atau pengelolaan anggaran. Lebih dari itu, seorang kepala sekolah dituntut mampu membangun budaya belajar, menumbuhkan kedisiplinan, mengembangkan potensi guru, serta memastikan setiap peserta didik memperoleh lingkungan pendidikan yang mendukung pertumbuhan mereka.

Sebab, sekolah bukan sekadar bangunan tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar. Di dalamnya terdapat harapan orang tua, masa depan anak-anak, pengabdian para guru, dan cita-cita masyarakat yang menginginkan kehidupan lebih baik melalui pendidikan.

Tondok Bakaru, ruang belajar di tengah potensi wisata

Pemilihan Tondok Bakaru sebagai lokasi pelatihan bukan tanpa pertimbangan. Bagi Pemerintah Kabupaten Mamasa, kawasan ini memiliki nilai strategis sebagai salah satu permata pariwisata daerah yang keindahannya telah dikenal hingga ke luar wilayah Mamasa.

Yohanis menjelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan di desa wisata tersebut juga membawa pesan tentang pentingnya membangun keterhubungan antara pendidikan dan sektor pariwisata.

“Kehadiran kita di Desa Wisata Tondok Bakaru ini memiliki makna yang lebih luas. Pilihan lokasi ini bukan kebetulan. Tondok Bakaru adalah salah satu permata pariwisata Kabupaten Mamasa yang keindahannya dikenal hingga ke luar daerah. Di sinilah kita ingin menanamkan kesadaran: pendidikan dan pariwisata dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan.”

Pesan tersebut membuka perspektif bahwa pendidikan tidak harus selalu berlangsung dalam ruang formal yang terbatas pada dinding kelas. Lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber pembelajaran, tempat membangun kepekaan sosial, mengenal potensi lokal, sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menjaga identitas dan kekayaan daerah.

Dalam konteks ini, desa wisata bukan hanya latar penyelenggaraan pelatihan. Ia dapat menjadi laboratorium sosial bagi calon pemimpin sekolah untuk memahami bahwa pendidikan memiliki hubungan erat dengan kebudayaan, ekonomi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan daerah.

Kepala sekolah masa depan diharapkan mampu melihat potensi tersebut sebagai bagian dari pengembangan pendidikan berbasis kearifan lokal. Sekolah dapat menjadi ruang yang memperkenalkan generasi muda kepada kekayaan budaya Mamasa, potensi alam, tradisi masyarakat, serta peluang pengembangan ekonomi kreatif.

Dengan demikian, pendidikan tidak tercerabut dari lingkungan tempat peserta didik tumbuh dan mengenal kehidupannya.

Dari ruang pelatihan menuju perubahan sekolah

Bagi 30 peserta yang mengikuti kegiatan ini, sepuluh hari pelatihan merupakan bagian dari perjalanan profesional menuju tanggung jawab kepemimpinan yang lebih besar.

Materi dan pengalaman yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan selama pelatihan, melainkan menjadi bekal untuk membangun sekolah yang lebih adaptif, inklusif, dan berorientasi pada mutu pembelajaran.

Peserta pelatihan, Dewi Lakkiran Jufri, turut memberikan tanggapan mengenai pelaksanaan kegiatan tersebut. Namun, substansi pernyataannya masih perlu dilengkapi agar pandangan peserta dapat disajikan secara utuh dan akurat.

Pada akhirnya, keberhasilan pelatihan BCKS tidak hanya dapat diukur dari jumlah peserta yang hadir ataupun berakhirnya sepuluh hari kegiatan. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana proses tersebut mampu melahirkan pemimpin sekolah yang membawa perubahan nyata ketika kembali ke lingkungan pendidikan masing-masing.

Sebab, kualitas sebuah sekolah tidak hanya ditentukan oleh gedung yang berdiri megah, fasilitas yang tersedia, atau kelengkapan administrasi. Ada kepemimpinan yang bekerja di baliknya, ada guru yang terus bertumbuh, dan ada anak-anak yang membutuhkan kesempatan untuk meraih masa depan.

Dari Tondok Bakaru, Mamasa sedang menyiapkan sebuah harapan: bahwa kepemimpinan pendidikan harus tumbuh bersama karakter, kebudayaan, dan potensi daerah.

Keindahan desa wisata boleh menjadi pemandangan selama pelatihan berlangsung. Namun, warisan terpenting dari kegiatan ini semestinya hadir jauh setelah para peserta meninggalkan Tondok Bakaru—ketika mereka kembali ke sekolah dan mulai menyalakan perubahan dari ruang-ruang kelas.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.id Editor: Agustinus Bobe