Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanHukum & KriminalKabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkam

Polri Gelar Minggu Kasih Di mimika: Kapolda Gaungkan Layanan 110 dan Perang Narkoba

38
×

Polri Gelar Minggu Kasih Di mimika: Kapolda Gaungkan Layanan 110 dan Perang Narkoba

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di tengah suasana Minggu yang membawa jemaat mendekat kepada Tuhan, pesan tentang keamanan dan masa depan generasi muda hadir di Gereja GKI Jemaat Ottow Geissler Mile 32, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Di ruang perjumpaan antara gereja dan kepolisian itu, sebuah pesan disampaikan: menjaga kedamaian bukan hanya tugas aparat, melainkan tanggung jawab bersama.

Minggu, 25 Oktober 2026, Kepala Kepolisian Daerah Papua Tengah Brigadir Jenderal Polisi Jermias Rontini hadir dalam kegiatan Minggu Kasih. Ia tidak hanya membawa pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), tetapi juga memperkenalkan layanan Call Center Polri 110 sebagai saluran bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan kepolisian.

Example 300x600

Di hadapan jemaat, kehadiran polisi menemukan makna yang lebih luas daripada sekadar seragam dan kewenangan. Ada upaya membangun kedekatan, membuka ruang komunikasi, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa ketika gangguan keamanan terjadi, warga memiliki saluran untuk menyampaikan laporan.

Jermias didampingi Kepala Kepolisian Resor Mimika Ajun Komisaris Besar Polisi Alfredo Agustinus Rumbiak bersama sejumlah pejabat utama Polres Mimika.

Pertemuan itu menjadi ruang dialog tentang keamanan, toleransi, kehidupan keluarga, dan ancaman narkoba yang dapat merampas masa depan generasi muda.

### layanan 110, jembatan antara warga dan polisi

Bagi masyarakat, sebuah layanan publik baru benar-benar bermakna ketika mereka mengetahui cara mengaksesnya dan merasa tidak ragu menggunakannya. Karena itu, sosialisasi Call Center Polri 110 menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Minggu Kasih tersebut.

Jermias mengajak masyarakat memanfaatkan layanan itu ketika menghadapi gangguan keamanan atau membutuhkan bantuan kepolisian. Ia menekankan pentingnya keberanian warga untuk melapor agar setiap persoalan dapat ditangani sesuai prosedur.

“Layanan Call Center Polri 110 dapat dimanfaatkan masyarakat untuk melaporkan gangguan keamanan maupun meminta bantuan kepolisian. Jangan ragu untuk menghubungi Polri apabila membutuhkan bantuan, sehingga setiap laporan dapat ditindaklanjuti sesuai prosedur,” ujarnya.

Pesan itu menempatkan layanan 110 sebagai salah satu penghubung antara masyarakat dan institusi kepolisian. Di balik sebuah nomor telepon, terdapat harapan agar persoalan yang dihadapi warga tidak berhenti sebagai keluhan, tetapi memperoleh perhatian dan penanganan yang semestinya.

Bagi Mimika, penguatan komunikasi semacam ini penting untuk membangun hubungan yang terbuka antara aparat dan masyarakat. Keamanan tidak hanya bertumpu pada tindakan setelah gangguan terjadi, tetapi juga pada kepercayaan yang memungkinkan warga menyampaikan persoalan sejak awal.

Jermias menilai kegiatan Minggu Kasih merupakan salah satu pendekatan untuk mendekatkan kepolisian kepada masyarakat. Ia menekankan pelayanan yang humanis, komunikasi yang terbuka, serta hubungan yang dibangun melalui perjumpaan langsung.

Pendekatan tersebut, menurut dia, sejalan dengan tagline Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, yakni “Polisi Bersama Masyarakat”.

Sebab, kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak semata-mata diukur dari kemampuan menindak pelanggaran. Kemampuan mendengarkan, memberikan penjelasan, dan membangun kepercayaan juga menjadi bagian penting dari pelayanan publik.

Menjaga persaudaraan, merawat kedamaian

Dari persoalan pelayanan, pesan Jermias bergerak menuju sesuatu yang lebih mendasar: persaudaraan.

Ia mengajak jemaat menjaga persatuan dan toleransi, baik di lingkungan gereja maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Kerukunan antarumat beragama dan antarkelompok, menurut dia, merupakan unsur penting dalam memelihara keamanan di Kabupaten Mimika.

Di tengah masyarakat yang hidup dengan latar belakang dan pengalaman berbeda, kedamaian membutuhkan kesediaan untuk saling menghormati. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun jarak, apalagi memicu pertentangan.

Karena itu, Jermias mengingatkan warga agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi atau terpengaruh hasutan yang berpotensi memecah belah masyarakat.

“Jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah kita. Mari kita jaga persaudaraan, saling menghormati, dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman, damai, serta penuh toleransi,” katanya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa menjaga keamanan juga dimulai dari sikap sehari-hari: menahan diri sebelum menyebarkan informasi, memeriksa kebenaran kabar, dan memilih dialog ketika persoalan muncul.

Dalam kehidupan bermasyarakat, sebuah kabar yang tidak teruji dapat berkembang menjadi prasangka. Prasangka yang dibiarkan dapat merusak hubungan, sementara komunikasi yang baik membuka jalan bagi penyelesaian masalah tanpa memperbesar pertentangan.

Karena itu, upaya menjaga kamtibmas tidak hanya berlangsung melalui patroli atau penegakan hukum. Ia juga tumbuh melalui kesadaran masyarakat untuk merawat kepercayaan dan menolak provokasi.

Ketika masa depan anak-anak menjadi taruhan

Namun, dari seluruh pesan yang disampaikan dalam pertemuan itu, terdapat persoalan yang menyentuh ruang paling dekat dengan kehidupan masyarakat: keluarga.

Jermias menyoroti ancaman penyalahgunaan narkoba dan minuman keras terhadap generasi muda. Ia mengingatkan bahwa perlindungan anak tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada kepolisian, sebab pengawasan dan pendidikan pertama bermula dari rumah.

Orang tua, menurut dia, perlu memperhatikan lingkungan pergaulan anak, membangun komunikasi yang sehat, serta memberikan bimbingan agar mereka tidak terjerumus dalam perilaku yang dapat merusak masa depan.

“Peran orang tua sangat penting dalam menjaga masa depan anak-anak kita. Awasi pergaulan mereka, bangun komunikasi yang baik di dalam keluarga, dan jangan biarkan mereka terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba maupun minuman keras,” ujarnya.

Peringatan itu membawa persoalan narkoba keluar dari batas penindakan hukum semata. Di balik setiap ancaman penyalahgunaan zat terlarang, ada keluarga yang membutuhkan perhatian, anak-anak yang membutuhkan pendampingan, serta masa depan yang harus dijaga bersama.

Pengawasan orang tua bukan berarti membangun hubungan yang hanya dipenuhi larangan. Anak-anak juga membutuhkan ruang untuk bercerita, keberanian untuk mengungkapkan masalah, dan keyakinan bahwa keluarga merupakan tempat aman ketika mereka menghadapi tekanan atau pengaruh buruk dari lingkungan.

Komunikasi yang terbuka dapat membantu orang tua mengenali perubahan perilaku anak lebih dini. Sementara itu, bimbingan yang konsisten memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk memahami risiko dan mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab.

Dalam konteks tersebut, keluarga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Sekolah, gereja, tokoh adat, dan masyarakat turut memiliki ruang untuk memperkuat perlindungan terhadap anak-anak dan remaja.

Perang melawan narkoba membutuhkan banyak tangan

Jermias menegaskan bahwa pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak dapat dibebankan kepada satu institusi. Kepolisian membutuhkan dukungan keluarga, tokoh agama, tokoh adat, dan lingkungan pendidikan untuk menghadapi ancaman yang menyasar generasi muda.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar upaya pencegahan tidak berhenti pada imbauan, tetapi berkembang menjadi kepedulian yang nyata di lingkungan masing-masing.

> “Mari kita bersama-sama memerangi narkoba dan minuman keras. Lindungi anak-anak kita dan jaga keluarga kita. Polri tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat,” kata Jermias.

Pernyataan itu menempatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi. Polisi memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam penegakan hukum, tetapi keluarga dan lingkungan sosial berperan penting dalam membangun ketahanan anak-anak terhadap pengaruh yang merusak.

Tokoh agama dapat memperkuat pendidikan moral dan kepedulian sosial. Tokoh adat dapat menghidupkan nilai kebersamaan. Sekolah dapat membangun kesadaran melalui pendidikan, sedangkan keluarga memberikan pendampingan yang berkelanjutan.

Semua unsur tersebut memiliki peran berbeda, tetapi bertemu pada tujuan yang sama: melindungi kehidupan, menjaga ketertiban, dan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk tumbuh dengan aman.

Pendekatan bersama juga memperlihatkan bahwa pencegahan lebih luas daripada penindakan. Ketika masyarakat berani menyampaikan informasi, orang tua terbuka terhadap persoalan anak, dan lingkungan tidak membiarkan perilaku berisiko berkembang tanpa perhatian, ruang perlindungan menjadi lebih kuat.

### dari gereja, pesan itu kembali ke masyarakat

Kegiatan Minggu Kasih di Gereja GKI Jemaat Ottow Geissler Mile 32 mempertemukan beberapa kepentingan dalam satu ruang: pelayanan publik, keamanan lingkungan, toleransi, dan perlindungan generasi muda.

Sosialisasi Call Center Polri 110 memberikan pengetahuan tentang saluran untuk meminta bantuan. Ajakan menjaga persaudaraan mengingatkan masyarakat akan pentingnya toleransi. Sementara itu, pesan tentang narkoba menegaskan bahwa masa depan anak-anak memerlukan perhatian yang dimulai dari keluarga dan diperkuat oleh seluruh lingkungan sosial.

Polda Papua Tengah berharap kegiatan tersebut semakin membuka komunikasi antara kepolisian dan masyarakat. Warga diharapkan mengetahui saluran yang dapat digunakan ketika membutuhkan bantuan, sekaligus semakin terlibat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungannya.

Pada akhirnya, makna Minggu Kasih tidak berhenti pada pertemuan antara pejabat kepolisian dan jemaat. Nilai sebuah perjumpaan justru diuji setelah kegiatan berakhir: ketika warga memilih memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya, ketika orang tua menyediakan waktu untuk mendengarkan anak-anak, dan ketika masyarakat tidak menutup mata terhadap persoalan di sekitarnya.

Di Mimika, pesan yang dibawa ke dalam gereja itu mengarah kembali kepada kehidupan sehari-hari. Keamanan membutuhkan pelayanan yang dapat dijangkau, kedamaian membutuhkan persaudaraan, dan masa depan generasi muda membutuhkan perlindungan bersama.

Sebab, menjaga keamanan bukan hanya tentang mencegah kejahatan, melainkan juga tentang memastikan masyarakat merasa terlindungi, keluarga tetap kuat, dan anak-anak memiliki masa depan yang layak diperjuangkan.

Example 300250