Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHukum & KriminalNasionalPeristiwaPolkam

Pengungsi Manggarai Timur Bakar Tenda Bantuan

47
×

Pengungsi Manggarai Timur Bakar Tenda Bantuan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MANGGARAI TIMUR |LINTASTIMOR.ID) — Di halaman Kantor Camat Lamba Leda, Senin (24/8/2026), bara api menjadi bahasa paling keras dari kekecewaan warga korban gempa. Sejumlah tenda darurat bantuan BNPB dibakar pengungsi di Kampung Tengku Leda setelah warga yang menanti kedatangan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tak kunjung bertemu dengannya.

Aksi itu bukan muncul dari ruang yang sunyi. Di balik kepulan asap, ada warga yang masih berhadapan dengan rumah rusak, ketidakpastian, dan kebutuhan bantuan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Example 300x600

Informasi yang dihimpun menyebutkan, warga telah menunggu sejak pagi hingga siang untuk menyambut kunjungan Khofifah. Namun, gubernur yang dinantikan tersebut tidak kunjung tiba di lokasi.

Kekecewaan yang semula tertahan kemudian berubah menjadi aksi protes.

Sejumlah tenda darurat yang merupakan bantuan BNPB dibakar warga. Peristiwa itu menjadi gambaran getir tentang bagaimana penantian, harapan, dan rasa kecewa dapat bertemu di satu titik ketika masyarakat sedang berada dalam kondisi paling rentan.

“Ketika warga datang membawa harapan, tetapi yang mereka temui adalah penantian yang tak berujung, kekecewaan mudah berubah menjadi amarah.”

Namun, peristiwa di Lamba Leda tidak berdiri sendiri.

Beberapa hari sebelumnya, persoalan distribusi bantuan memang telah memunculkan ketegangan di wilayah Manggarai Timur. Camat Lamba Leda Utara Agustinus Supratman sempat terlibat perselisihan dengan petugas BNPB terkait distribusi logistik untuk warga terdampak gempa. Dalam video yang beredar, ia mempersoalkan kecukupan bantuan yang harus dibagikan kepada warga di 11 desa.

Agustinus menyebut tekanan di lapangan sangat besar karena bantuan harus dibagi kepada sekitar 21.171 warga terdampak di 11 desa. Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah desa mengeluhkan belum menerima bantuan secara memadai.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur memberikan penjelasan berbeda. Wakil Bupati Manggarai Timur Tarsisius Syukur menyatakan hasil penelusuran pemerintah daerah tidak menemukan adanya tekanan dari BNPB terhadap camat untuk menandatangani berita acara penerimaan bantuan. Menurut dia, berita acara merupakan bagian dari proses administrasi penyaluran bantuan.

BNPB juga menjelaskan bahwa distribusi di sejumlah wilayah menghadapi tantangan di lapangan. Petugas BNPB menyebut kendala akses menjadi salah satu persoalan, termasuk jembatan di Maki, Satar Kampas, yang tidak dapat dilalui kendaraan besar sehingga logistik harus dilansir menggunakan kendaraan yang lebih kecil.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian juga telah mendatangi wilayah terdampak di Lamba Leda Utara pada 17 Agustus. Pemerintah menyatakan pendataan kerusakan rumah menjadi bagian penting untuk menentukan bantuan, dengan besaran yang disebut Rp15 juta untuk kerusakan ringan, Rp30 juta untuk kerusakan sedang, dan Rp70 juta untuk kerusakan berat.

Amarah di Tengah Masa Tanggap Darurat

Secara kontekstual, rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa persoalan pascabencana bukan hanya tentang seberapa banyak bantuan yang dikirim, tetapi juga tentang seberapa cepat, tepat, transparan, dan merata bantuan itu diterima warga. Ketika data di posko, laporan pemerintah, dan pengalaman warga di lapangan tidak bertemu dalam satu pemahaman, ruang komunikasi dapat berubah menjadi ruang kecurigaan. Karena itu, distribusi bantuan membutuhkan koordinasi yang kuat sekaligus komunikasi terbuka agar keresahan masyarakat tidak berkembang menjadi konflik.

Aksi pembakaran tersebut tetap perlu dilihat secara hati-hati. Informasi mengenai motif lengkap, kronologi detail, serta apakah aksi itu secara langsung berkaitan dengan batalnya pertemuan dengan Khofifah masih memerlukan konfirmasi dari warga, pemerintah daerah, BNPB, maupun pihak keamanan.

Yang jelas, api di halaman kantor kecamatan hari itu menyisakan pesan yang jauh lebih besar daripada bara yang segera padam.

Di tengah bencana, warga tidak hanya membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup; mereka juga membutuhkan kepastian bahwa suara mereka didengar. Sebab ketika harapan terlalu lama dibiarkan menunggu, bahkan sebuah tenda bantuan pun dapat berubah menjadi simbol kekecewaan.

Example 300250