KUPANG |LINTASTIMOR.ID— Merah Putih tetap berkibar di Alun-Alun Rumah Jabatan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Senin pagi. Namun, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini terasa berbeda.
Di tengah pakaian adat yang merayakan keberagaman NTT, suasana justru dijaga tetap khidmat dan sederhana—sebuah cara pemerintah provinsi menunjukkan empati kepada masyarakat Flores yang sedang menghadapi dampak gempa bumi.
Upacara tingkat Provinsi NTT itu diikuti aparatur sipil negara, instansi pemerintah, unsur TNI dan Polri, pelajar, serta berbagai elemen masyarakat. Seluruh peserta dan tamu undangan mengenakan busana adat dari sejumlah daerah di NTT.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Ketua TP PKK Provinsi NTT Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena mengenakan busana adat Manggarai Timur. Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma bersama Staf Ahli TP PKK Provinsi NTT Ny. Vera Christina Sirait Asadoma mengenakan busana adat Nagekeo.
Beragam corak, warna, motif, dan kelengkapan busana adat itu menghadirkan wajah NTT yang sesungguhnya: banyak warna, banyak asal-usul, tetapi berdiri dalam satu rumah kebangsaan bernama Indonesia. Di hari kemerdekaan, warisan leluhur tidak sekadar menjadi ornamen upacara, melainkan simbol persatuan dan penghormatan terhadap kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur.
Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena bertindak sebagai Inspektur Upacara. Ketua DPRD Provinsi NTT Emilia Nomleni membacakan Naskah Proklamasi, sedangkan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dibacakan Kepala Kejaksaan Tinggi NTT Roch Adi Wibowo. Doa dipimpin Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT Fransiskus Kariyanto.
Pasukan upacara berasal dari berbagai unsur, yakni gabungan TNI dan Polri, TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, Polda NTT, ASN Kementerian Pertahanan, Satuan Polisi Pamong Praja, Bakamla RI, Basarnas, Kanwil Kementerian Hukum dan HAM, ASN Pemerintah Daerah Provinsi NTT, peserta SPPG Provinsi NTT, serta para pelajar.
Pasukan Pengibar Bendera terdiri atas Abid Aqila Faeza Gibran Arsyad, siswa SMA Swasta Katolik Pancasila Borong, Kabupaten Manggarai Timur; Ignasius Tefan Ghele, siswa SMA Swasta Katolik Syuradikara Ende, Kabupaten Ende; dan Benediktus Ronaldi Bawu, siswa SMA Negeri 1 Aimere, Kabupaten Ngada.
Pembawa baki dipercayakan kepada Agnetta Michika Bunda Kaligis, siswi SMA Negeri 1 Atambua, Kabupaten Belu. Sementara Komandan Upacara dipercayakan kepada Letnan Kolonel Arhanud Rahmad Situmorang, S.E., Komandan Batalyon Arhanud 9/Angkasa Widya Jayanta.
Paduan suara SMA Negeri 5 Kupang turut mengiringi upacara dengan lagu-lagu nasional dan lagu daerah.
Kemerdekaan yang Dirayakan dengan Empati
Usai upacara, Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena menjelaskan alasan di balik kesederhanaan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di NTT tahun ini.
Tidak ada pesta rakyat setelah upacara. Tidak ada rangkaian acara seremonial tambahan. Bahkan, upacara penurunan bendera pada Senin sore juga akan berlangsung tanpa acara tambahan, termasuk tanpa tos kenegaraan.
“Ini bagian dari kami turut merasakan kondisi yang terjadi di Pulau Flores,” ujar Emanuel.
Keputusan itu bukan sekadar perubahan susunan acara. Di tengah situasi bencana, pemerintah memilih mengubah cara memaknai perayaan kemerdekaan: sebagian energi yang biasanya tercurah untuk seremoni dialihkan menjadi kekuatan untuk memperkuat penanganan bencana.
Gubernur juga mengimbau para kepala daerah di seluruh daratan Flores tetap melaksanakan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI, meskipun sederhana dan hanya berupa upacara bendera.
“Setelah acara ini tidak ada agenda yang lain, langsung kita bubar. Masing-masing koordinasi dengan instansinya masing-masing, dengan jalurnya, untuk persiapan penanganan mulai siang hari ini dan seterusnya,” katanya.
Pameran Tetap Berjalan, Donasi untuk Flores
Di tengah penghapusan sejumlah kegiatan seremonial, Pemerintah Provinsi NTT tetap mempertahankan Pameran Pembangunan Provinsi NTT.
Alasannya sederhana tetapi penting: lebih dari 600 pelaku UMKM dan masyarakat terlibat dan menggantungkan perputaran ekonomi dari kegiatan tersebut.
Namun, pameran itu diarahkan dengan semangat kepedulian. Keuntungan dan donasi yang terkumpul nantinya akan turut diarahkan untuk membantu masyarakat terdampak gempa Flores. Pada akhir pelaksanaan pameran, pemerintah akan mengumumkan total donasi yang berhasil dihimpun dari masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya untuk penanganan dampak gempa di Flores.
Dengan demikian, ruang ekonomi tidak dipisahkan dari ruang kemanusiaan. Pameran tetap bergerak, pelaku UMKM tetap berdagang, tetapi sebagian denyut ekonominya diarahkan untuk mereka yang sedang menghadapi masa sulit.
Tujuh Belas Truk Bergerak Menuju Flores
Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi NTT telah mengirimkan bantuan awal sebanyak 17 truk menuju Flores. Bantuan tersebut dikoordinasikan BPBD NTT untuk kemudian didistribusikan ke berbagai wilayah terdampak.
“Ini bantuan pertama dari Pemda Provinsi, dan kami lagi siapkan lagi bantuan kedua dan seterusnya,” kata Emanuel.
Dukungan tidak hanya datang dari pemerintah provinsi. Pemerintah pusat, pemerintah daerah lain, TNI, Polri, dunia usaha, organisasi, dan berbagai elemen masyarakat dari seluruh Indonesia turut mengirimkan bantuan.
Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya telah mengirimkan bantuan, disusul dukungan dari berbagai kementerian dan lembaga. Jawa Tengah mengirimkan tujuh truk logistik beserta tenaga medis. Dukungan juga datang dari NTB, Bali, dan Jawa Timur, baik dalam bentuk logistik maupun tenaga untuk memperkuat penanganan di lapangan.
Pemerintah Provinsi NTT juga terus melakukan pendataan terhadap kerusakan akibat gempa, baik rumah warga maupun fasilitas publik. Data tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan langkah perbaikan dan pemulihan setelah masa tanggap darurat berakhir.
Gotong Royong Menjadi Kekuatan Flores
Dalam situasi bencana, angka-angka bantuan hanyalah bagian dari cerita. Di balik 17 truk yang bergerak, tenaga medis yang datang, dan logistik yang dikumpulkan, ada satu kebutuhan yang lebih besar: memastikan masyarakat Flores tidak merasa berjalan sendirian menghadapi bencana.
Karena itu, Emanuel mengajak seluruh masyarakat NTT tetap optimistis dan menjadikan semangat kemerdekaan sebagai kekuatan untuk menghadapi keadaan. Ia mengingatkan kembali semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa, termasuk gagasan Bung Karno yang pernah dirumuskan di Ende, NTT.
“Dengan semangat gotong royong kita bisa melewati badai sejarah apa pun. Yang penting bersama-sama dan gotong royong,” tegasnya.
Secara kontekstual, pilihan Pemprov NTT merayakan kemerdekaan secara sederhana sekaligus menggerakkan sumber daya untuk Flores memperlihatkan bahwa makna peringatan nasional dapat diterjemahkan ke dalam tindakan konkret. Ketika sebagian wilayah sedang dilanda bencana, solidaritas menjadi bentuk lain dari perayaan kemerdekaan—bukan dengan kemeriahan, melainkan dengan hadir, membantu, dan memastikan pemulihan terus bergerak.
Pagi itu, Merah Putih berkibar di Kupang. Busana adat dari berbagai penjuru NTT menyatu dalam satu barisan. Sementara dari ruang-ruang pemerintahan, bantuan bergerak menuju Flores.
Kemerdekaan akhirnya bukan hanya tentang bagaimana sebuah bangsa mengenang perjuangannya, tetapi tentang bagaimana mereka yang sedang tertimpa musibah diyakinkan bahwa dalam badai apa pun, mereka tetap memiliki saudara yang berdiri bersama.


















