JAKARTA |LINTASTIMOR.ID– Di tengah gemuruh tepuk tangan dan hiruk-pikuk perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Istana Merdeka, Senin (17/8/2026), hadir seorang sosok yang membawa serta hembusan angin sejarah. Ratna Sari Dewi Soekarno, mantan istri Presiden pertama RI, tampil anggun dalam kebaya putih bersih yang dipadu selendang merah menyala. Kombinasi warna itu bukan sekadar pilihan estetika, melainkan simbolisasi halus: kesucian hati yang dibalut semangat kebangsaan yang tak pernah padam.
Kehadirannya menjadi momen penyejuk di tengah seremonial kenegaraan yang kaku. Setelah menempuh perjalanan jauh dari Jepang menggunakan pesawat Garuda Indonesia, Dewi mendarat di tanah air bukan hanya sebagai tamu undangan, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia yang rindu pada akarnya. Tatap matanya menyapu halaman Istana yang kini telah bertransformasi; dari ruang yang dulu ia kenal sempit, kini menjelma menjadi taman luas yang asri, penuh dengan tanaman hijau yang bernapas lega.
Bagi Dewi, perubahan fisik Istana adalah metafora dari progresivitas bangsa. Namun, di balik kekagumannya pada pembaruan infrastruktur, terselip rasa nostalgia yang menyentuh soal memori kolektif yang kian terkikis. Ia berbicara kepada pers dengan nada lembut namun sarat makna, menyinggung jejak-jejak masa lalu yang seolah tenggelam oleh waktu.
“Saya melihat di halaman Istana Kepresidenan RI banyak perubahan sangat luar biasa. Dulu halamannya sempit dan sekarang luas dan banyak tanaman. Foto saya juga ada di dalam gedung Istana. Tetapi apakah masih ada atau hilang entah di mana… sayang sekali, dan foto koleksi Bapak Soekarno ada di dalam Gedung Istana banyak itu.”
Ungkapan tersebut bukan hanya keluhan tentang arsip yang hilang, melainkan sebuah pengingat halus tentang pentingnya preservasi memori. Dalam konteks Indonesia yang bergerak cepat menuju modernitas, keberadaan artefak sejarah—seperti foto-foto koleksi Bung Karno—berfungsi sebagai jangkar identitas.
Hilangnya atau terabaikannya dokumen-dokumen tersebut bisa dimaknai sebagai risiko amnesia kolektif, di mana generasi baru mungkin kehilangan koneksi emosional dengan fondasi bangsa yang dibangun oleh para pendiri negara.
Kehadiran Dewi, dengan segala keterbatasannya mengingat detail arsip, justru menjadi saksi hidup bahwa sejarah tidak boleh dibiarkan menjadi abu.
Di penghujung wawancaranya, Dewi menegaskan komitmen cintanya yang tak tergoyahkan. “Saya sangat cinta Indonesia,” tuturnya singkat, namun kalimat itu memiliki bobot yang jauh lebih berat daripada ribuan kata-kata retorika politik.
Ketika upacara usai dan kerumunan mulai bubar, sosok Dewi tetap berdiri sejenak, memandang Istana dengan tatapan haru. Ia mungkin datang dari negeri sakura, tetapi hatinya telah lama berlabuh di bumi pertiwi. Dalam diamnya, tersirat pesan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang merayakan masa kini, tetapi juga tentang merawat ingatan agar akar bangsa tidak pernah kering.


















