ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID— Pagi itu, di bawah teduh doa dan kidung di Katedral Santa Maria Immaculata Atambua, kemerdekaan tidak hanya dikenang sebagai sejarah. Ia hadir sebagai sebuah pertanyaan yang lebih dekat kepada kehidupan sehari-hari: sudah sejauh mana kemerdekaan dirasakan masyarakat melalui pelayanan negara?
Pertanyaan itu mengemuka dalam Misa Syukur Kenegaraan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Gereja Katedral Santa Maria Immaculata Atambua, Sabtu (15/8/2026).
Di ruang ibadah yang dipenuhi suasana khidmat dan kebangsaan itu, Pemerintah Kabupaten Belu mengajak aparatur sipil negara tidak berhenti pada seremoni kemerdekaan. Ada pekerjaan yang jauh lebih sunyi, tetapi menentukan: melayani masyarakat dengan ketulusan, bekerja bersama dan menghadirkan negara di tengah kebutuhan rakyat.
Misa Syukur dihadiri Wakil Bupati Belu Vicente Hornai Gonsalves, ST, Ketua TP PKK Kabupaten Belu beserta jajaran, para Asisten Sekda Belu, pimpinan perangkat daerah, perwakilan Dharma Wanita Persatuan, anggota TNI dan Polri serta ASN lingkup Pemerintah Kabupaten Belu.
Perayaan Ekaristi dipimpin Romo Kris Fallo, Pr, bersama imam konselebran. Paduan suara Abdi Praja Kabupaten Belu turut mengiringi perayaan, membuat suasana pagi itu terasa teduh, khidmat sekaligus sarat pesan kebangsaan.
Dari mimbar, Deken Belu Utara, Romo Agustinus Bere, Pr, mengingatkan bahwa kemerdekaan merupakan anugerah yang harus diisi dengan persatuan dan karya nyata.
Ia meminta seluruh umat menanggalkan ego pribadi maupun ego sektoral yang berpotensi menghambat kerja bersama membangun daerah.
“Singkirkan ego pribadi, ego sektoral, karena musuh kita bersama adalah kemiskinan dan ketidaksejahteraan.”
— Romo Agustinus Bere, Pr
Pesan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan pekerjaan besar. Kemiskinan tidak mengenal batas perangkat daerah, jabatan atau kepentingan sektoral. Karena itu, menurut Romo Agus, persoalan tersebut hanya dapat dihadapi melalui persatuan dan kerja bersama.
Ia juga mengajak umat Katolik, khususnya umat Paroki Katedral, menghadirkan nilai-nilai iman di tempat tugas masing-masing.
“Mari sebagai orang Katolik kita hadir di tempat tugas dan menjalankan tugas pengabdian secara baik.”
— Romo Agustinus Bere, Pr
kemerdekaan yang diuji di meja pelayanan
Pesan dari mimbar gereja itu kemudian bersambung dengan refleksi Pemerintah Kabupaten Belu. Wakil Bupati Belu Vicente Hornai Gonsalves mengajak seluruh ASN menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan pengabdian mereka.
Bukan sekadar menghitung pekerjaan yang telah diselesaikan, tetapi bertanya lebih jauh: apakah pekerjaan itu benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat?
“Mari kita merefleksikan kemerdekaan ini. Apa yang sudah kita buat untuk daerah ini, terutama untuk masyarakat Kabupaten Belu?”
— Vicente Hornai Gonsalves, Wakil Bupati Belu
Bagi Vicente, perjuangan mengisi kemerdekaan pada masa kini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata. Medannya telah berubah. Ia berada di ruang pelayanan publik, kantor pemerintahan, sekolah, fasilitas kesehatan, jalan, program pemberdayaan, hingga setiap keputusan yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Dan di antara pekerjaan besar itu, kemiskinan menjadi salah satu tantangan yang harus dijawab bersama.
“Kemiskinan menjadi tugas kita semua sebagai ASN untuk menurunkan angka kemiskinan. Saya berharap ini memberikan refleksi yang mendalam bagi kita semua.”
— Vicente Hornai Gonsalves, Wakil Bupati Belu
Pernyataan tersebut menempatkan ASN bukan sekadar sebagai pelaksana administrasi pemerintahan, tetapi sebagai bagian dari perjuangan sosial untuk memastikan kemerdekaan memiliki arti bagi masyarakat.
ketika merah putih harus terasa dalam pelayanan
Dalam konteks pembangunan daerah, kemerdekaan akan kehilangan sebagian maknanya jika hanya berhenti pada upacara, spanduk dan seremoni tahunan. Kemerdekaan justru memperoleh makna paling konkret ketika masyarakat miskin mendapat perhatian, pelayanan publik menjadi lebih mudah, pemerintah hadir ketika rakyat membutuhkan, dan pembangunan dikerjakan tanpa dikalahkan oleh ego sektoral. Karena itu, kualitas pengabdian aparatur menjadi salah satu wajah nyata negara di hadapan masyarakat.
Vicente mengajak seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat memperkuat kolaborasi untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.
“Tema Indonesia berdaulat, adil dan makmur ini tugas kita semua. Mari kita berkolaborasi untuk membangun Rai Belu dengan pelayanan cinta dan kasih.”
— Vicente Hornai Gonsalves, Wakil Bupati Belu
Kata cinta dan kasih dalam pesan tersebut menjadi penting. Sebab pelayanan publik pada akhirnya bukan hanya tentang prosedur dan dokumen. Di balik setiap berkas ada manusia; di balik setiap permohonan ada kebutuhan; dan di balik setiap warga yang datang ke kantor pemerintah terdapat harapan agar negara tidak terasa jauh.
Senada dengan itu, Romo Kris Fallo, Pr, mengajak umat mengisi kemerdekaan melalui tugas dan tanggung jawab masing-masing.
“Mari kita mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya lewat tugas dan pelayanan kita masing-masing.”
— Romo Kris Fallo, Pr
Ia kemudian menyampaikan ucapan selamat memperingati HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia serta mendoakan agar Tuhan senantiasa memberkati seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia.
Misa Syukur Kenegaraan itu pun berakhir. Namun pesan yang dibawa dari dalam katedral tidak selesai bersama doa penutup.
Ia kembali ke kantor-kantor pemerintahan, ke ruang-ruang pelayanan, ke meja kerja para ASN dan kepada seluruh masyarakat yang setiap hari menggantungkan harapan pada hadirnya pemerintah.
Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana sebuah bangsa terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan menemukan maknanya ketika rakyat dapat merasakan negara hadir dengan pelayanan yang tulus, pembangunan yang adil dan pengabdian yang tidak mengenal lelah.
Di situlah merah putih benar-benar hidup: bukan hanya berkibar di langit Belu, tetapi terasa di hati setiap rakyat yang dilayani.


















