Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanNasionalPeristiwaPolkam

Festival Budaya Timor Satukan Hati Warga Liliba

35
×

Festival Budaya Timor Satukan Hati Warga Liliba

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUPANG |LINTASTIMOR.ID — Denting drum band anak-anak SDI Liliba membuka sore di RW 11, Kelurahan Liliba, Kota Kupang, Rabu (12/8/2026). Setelah itu, natoni mengalir, tarian Likurai bergerak, dan siri pinang disuguhkan. Di tengah warna-warni budaya Timor, sebuah pesan tentang persaudaraan menemukan panggungnya: Nekaf mese ansaof mese—satu hati, satu jiwa, sehati sepikir.

Festival Budaya Timor Kelurahan Liliba resmi digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan yang berlangsung 12–14 Agustus 2026 itu dipusatkan di RW 11 yang terdiri atas RT 21, RT 39, dan RT 40.

Example 300x600

Pembukaan festival berlangsung meriah. Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis bersama rombongan disambut drum band anak-anak SDI Liliba. Penyambutan kemudian dilanjutkan dengan natoni yang dibawakan Kris Taek, sebelum rombongan diantar melalui tarian Likurai dan kembali disambut tarian siri pinang oleh anak-anak SDI Liliba.

Di halaman kegiatan, tradisi tidak sekadar dipertontonkan. Ia hadir sebagai bahasa yang mempertemukan generasi—anak-anak yang belajar mengenal akar budayanya, orang tua yang kembali mengingat tradisi, serta masyarakat yang merayakan keberagaman dalam satu ruang.

Ketua Panitia Jeanne Salem dalam laporannya mengatakan festival tersebut dirancang untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga, membangun kebersamaan, serta melestarikan seni dan budaya lokal di tengah masyarakat.

Festival itu sekaligus menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan semangat nasionalisme. Di dalamnya terdapat upaya merayakan identitas dan jiwa Kota Kupang yang dibangun di atas keberagaman suku, etnis, dan kolaborasi.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang pertunjukan budaya, tetapi tentang mempererat tali persaudaraan, membangun kebersamaan, dan menjaga seni serta budaya lokal tetap hidup di tengah masyarakat.”

Gelar budaya tersebut melibatkan masyarakat melalui berbagai pementasan seni. Ruang budaya kemudian bertemu dengan ruang ekonomi melalui keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar lokasi kegiatan.

Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis dalam sambutannya meminta masyarakat, terutama para orang tua, terus memperkenalkan budaya dan adat istiadat kepada anak-anak sejak dini.

Menurut dia, pengenalan budaya sejak masa kanak-kanak penting agar generasi muda tidak hanya mengetahui tradisi, tetapi juga tumbuh dengan rasa cinta terhadap warisan budaya mereka.

“Budaya dan adat istiadat harus diperkenalkan kepada anak-anak sejak kecil, agar mereka tumbuh mencintai dan menjaga warisan yang kita miliki.”

Serena juga berharap keberadaan event budaya yang melibatkan pelaku UMKM dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.

Di sisi lain, Lurah Liliba Victor Makoni menunjukkan dukungannya terhadap kegiatan tersebut. Ia menyebut pemilihan budaya Timor sebagai bagian dari festival bukan berarti mengesampingkan keberagaman yang ada di Liliba.

Justru sebaliknya.

Liliba, kata dia, dihuni masyarakat dari berbagai suku dan budaya. Namun keberagaman tersebut tidak menjadi alasan untuk terpecah.

“Di Liliba ini ada berbagai suku dan budaya, tetapi kami selalu satu hati untuk bersama-sama membuat Liliba menjadi kelurahan yang cinta perdamaian.”

Voktor berharap pemerintah dapat memberikan ruang yang lebih panjang bagi penyelenggaraan festival budaya pada masa mendatang. Dengan waktu kegiatan yang lebih luas, para pelaku UMKM diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk menjalankan usaha dan meningkatkan perekonomian mereka.

“Masih kita satu hati, satu jiwa, sehati sepikir untuk memajukan Kelurahan Liliba, Kota Kupang, NTT, dan NKRI.”

budaya sebagai ruang persaudaraan dan ekonomi

Secara kontekstual, Festival Budaya Timor di Liliba memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi lebih dari sekadar panggung kesenian. Ketika tradisi dilibatkan bersama pendidikan anak, partisipasi masyarakat dan UMKM, kebudayaan berubah menjadi ruang sosial yang mempertemukan identitas, perdamaian, sekaligus peluang ekonomi. Di tengah masyarakat perkotaan yang semakin beragam, model seperti ini penting untuk menjaga agar keberagaman tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kehadiran anak-anak SDI Liliba dalam penyambutan bukan sekadar bagian dari seremoni pembukaan. Drum band, natoni, Likurai, dan siri pinang menjadi semacam jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Di satu sisi, para tetua membawa ingatan tentang tradisi. Di sisi lain, anak-anak membawa harapan agar tradisi itu tidak berhenti pada satu generasi.

Festival Budaya Timor Kelurahan Liliba pun menjadi perayaan yang memiliki wajah ganda: merawat identitas sekaligus merawat persaudaraan.

Ketika berbagai suku dan budaya bertemu dalam satu kelurahan, pilihan untuk tetap berjalan bersama menjadi kekuatan tersendiri.

Dan di Liliba, pesan itu diringkas dalam satu ungkapan yang sederhana, tetapi dalam maknanya:

Nekaf mese, ansaof mese—satu hati, satu jiwa, sehati sepikir.

Sebab pada akhirnya, budaya bukan hanya tentang dari mana kita berasal, tetapi tentang bagaimana keberagaman itu membuat kita memilih untuk tetap menjadi satu.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.id Editor: Agustinus Bobe