Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHiburanNasionalPeristiwa

Gagasan Muda Menggema dari Yogyakarta untuk Indonesia

22
×

Gagasan Muda Menggema dari Yogyakarta untuk Indonesia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

YOGYAKARTA |LINTASTIMOR.ID — Di kota yang sejak lama dikenal sebagai ruang bertemunya pengetahuan, kebudayaan, dan keberanian untuk bermimpi, gagasan-gagasan muda Indonesia menemukan panggungnya. Bukan hanya untuk diperlombakan, melainkan untuk diuji, dipertajam, dan dipertemukan dengan kenyataan.

Semangat itu mengemuka dalam Jogja Essay Competition (JEC) 2026 yang sukses digelar pada 25–26 Juli 2026 di Yogyakarta. Kompetisi karya tulis ilmiah tersebut mempertemukan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia untuk menuangkan ide, gagasan, dan solusi inovatif dalam menjawab beragam tantangan bangsa melalui karya ilmiah yang berkualitas.

Example 300x600

Diselenggarakan melalui kolaborasi Ruang Inovasi Sains dan Karya Ilmiah (RISKI) bersama Ikatan Mahasiswa Sastra Arab (IKMASA) Universitas Gadjah Mada, JEC 2026 mengangkat tema “Kontribusi Pemuda Indonesia dalam Menjawab Tantangan Global melalui Inovasi Ilmiah.”

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Yusuf Ahmad Khairiy, Sekretaris Ikatan Mahasiswa Sastra Arab Universitas Gadjah Mada. Dalam sambutannya, ia berharap JEC tidak berhenti sebagai kompetisi, tetapi tumbuh sebagai ruang yang mempertemukan keberanian berpikir dengan semangat berkolaborasi.

“Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton perubahan. Mereka harus berani melahirkan gagasan, mengembangkan inovasi, dan membangun kolaborasi agar ilmu pengetahuan benar-benar menjadi jalan untuk menghadirkan solusi bagi persoalan bangsa dan dunia.”

Selama dua hari, para finalis menjalani rangkaian kegiatan yang padat. Mereka mempresentasikan karya ilmiah di hadapan dewan juri, mengikuti seminar internasional, berdiskusi, menjawab pertanyaan, menjalani proses penjurian, hingga menanti pengumuman pemenang.

Di ruang-ruang itulah gagasan diuji. Argumentasi dipertaruhkan. Setiap peserta membawa bukan hanya karya tulis, tetapi juga cara pandang tentang Indonesia dan masa depannya.

JEC 2026 dengan demikian tidak sekadar menjadi arena untuk menentukan siapa yang terbaik. Kompetisi ini memperlihatkan bahwa tradisi akademik dapat tumbuh melalui keberanian bertanya, kemampuan berpikir kritis, dan kesediaan untuk mendengarkan gagasan orang lain. Di tengah perubahan global yang bergerak cepat, kemampuan generasi muda untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata menjadi modal penting bagi Indonesia untuk melahirkan solusi yang relevan dan berkelanjutan.

Salah satu rangkaian utama kegiatan adalah Seminar Internasional yang menghadirkan tiga narasumber inspiratif. Miss Aisha Juma Musa menyampaikan materi Empowering Future Leaders. Sementara Miss Alaa Eltelwany menekankan pentingnya keterampilan komunikasi dalam menghadapi persaingan global. Adapun Almas Azzahra, Puteri Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, mengajak peserta membangun personal branding dan kepercayaan diri sebagai bekal menuju kepemimpinan masa depan.

Namun, JEC 2026 tidak hanya berbicara tentang gagasan yang lahir di ruang akademik. Para peserta juga diajak mengenal wajah lain Yogyakarta melalui Cultural Field Trip ke Museum Sonobudoyo, Candi Prambanan, serta salah satu pusat oleh-oleh khas Yogyakarta.

Perjalanan tersebut menjadi ruang untuk mengenali kekayaan budaya Indonesia sekaligus mempertemukan peserta dalam suasana yang lebih cair. Dari sana, persahabatan tumbuh, wawasan budaya meluas, dan jejaring kolaborasi antarpeserta dari berbagai daerah menemukan jalannya sendiri.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Juara I diraih oleh ketua tim Gesti Maradella dari Universitas Muhammadiyah Semarang. Juara II diraih oleh ketua tim Kadek Arlyatha Anantha dari Universitas Udayana, sedangkan Juara III diraih oleh ketua tim Ahmad Khavabi dari MAN 2 Bojonegoro.

Adapun Juara Harapan I diraih oleh ketua tim Adam Mufid Annajib dari Universitas Muhammadiyah Semarang. Juara Harapan II diraih oleh ketua tim Amrizar Pratama I. Udin dari Institut Seni Indonesia Surakarta, dan Juara Harapan III diraih oleh ketua tim Dwi Ramdoni Subekti dari Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri.

Panitia juga memberikan sejumlah penghargaan khusus. Best Presentation diraih oleh ketua tim Syalman Al-Farizi dari Universitas Muhammadiyah Mataram. Best Paper diraih oleh ketua tim Gesti Maradella dari Universitas Muhammadiyah Semarang. Best Poster diraih oleh ketua tim Henny Meilisa dari Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur, sedangkan Favorite Paper diraih oleh ketua tim Adam Mufid Annajib dari Universitas Muhammadiyah Semarang.

Sementara itu, penghargaan The Most Favorite Poster diraih oleh ketua tim Henny Meilisa dan ketua tim Kharina Jexi Abreanti Meilisa, keduanya dari Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur.

Untuk kategori Favorite Poster berdasarkan subtema, penghargaan Hukum dan Politik diraih oleh ketua tim Kharina Jexi Abreanti dari Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur. Subtema Kesehatan diraih oleh ketua tim Muhammad Fahmi Risaldy dari Universitas Mulawarman.

Subtema Lingkungan diraih oleh ketua tim Putu Ari Krisnayani dari Universitas Pendidikan Ganesha. Subtema Pangan diraih oleh ketua tim Aryanto Arby dari Universitas Mataram. Subtema Pariwisata dan Budaya diraih oleh ketua tim Ni Wayan Eka Setia Lestari dari Poltekkes Kemenkes Denpasar.

Selanjutnya, subtema Pendidikan diraih oleh ketua tim Ulil Amri Al-Islam dari Universitas Muhammadiyah Mataram. Subtema Pertanian diraih oleh ketua tim Henny Meilisa dari Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur. Subtema Sosial dan Ekonomi diraih oleh ketua tim Kharina Jexi Abreanti dari Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur.

Untuk subtema Teknologi, penghargaan diberikan kepada ketua tim Dwi Ramdoni Subekti dari Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri. Sementara penghargaan pada subtema terakhir diraih oleh ketua tim Yasmine Husna Jaida dari Universitas Muhammadiyah Metro.

Pada puncak acara, Universitas Muhammadiyah Mataram berhasil meraih predikat Juara Umum Jogja Essay Competition (JEC) 2026 atas pencapaian terbaik yang diraih para delegasinya di berbagai kategori perlombaan.

Capaian tersebut sekaligus menegaskan bahwa kompetisi ilmiah bukan hanya tentang podium dan penghargaan. Di balik setiap karya terdapat proses panjang untuk membaca persoalan, menyusun argumentasi, menguji gagasan, dan menawarkan jalan keluar. Dalam konteks Indonesia yang menghadapi tantangan global semakin kompleks, ruang-ruang semacam JEC menjadi penting karena mempertemukan kecerdasan akademik dengan keberanian untuk menawarkan perubahan.

JEC 2026 menjadi bukti komitmen untuk mendorong lahirnya generasi muda yang inovatif, kritis, dan berdaya saing. Panitia menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, dewan juri, mitra, sponsor, serta semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung yang menjulang atau teknologi yang semakin canggih. Ia dibangun oleh manusia-manusia muda yang berani berpikir, tekun mencari jawaban, dan percaya bahwa sebuah gagasan—sekecil apa pun ia bermula—dapat menjadi cahaya yang menuntun perjalanan panjang Indonesia menuju masa depan.

Example 300250