Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanKabupaten Mimika

Di Tengah Bayang Tambang, Kantor Polisi Berubah Menjadi Sekolah bagi Anak-anak yang Kehilangan Pendidikan Sejak 2017

110
×

Di Tengah Bayang Tambang, Kantor Polisi Berubah Menjadi Sekolah bagi Anak-anak yang Kehilangan Pendidikan Sejak 2017

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MIMIKA |LINTASTIMOR.ID– Di sebuah ruangan sederhana di Kantor Polsek Tembagapura, suara anak-anak mengeja huruf dan menghitung angka kini menggantikan kesunyian yang selama bertahun-tahun menyelimuti masa kecil mereka. Meja-meja belajar ditata seadanya, buku-buku dibuka dengan penuh rasa ingin tahu, sementara para polisi yang biasanya berseragam untuk menjaga keamanan, kini berdiri di depan kelas sebagai guru.

Di tempat inilah harapan kecil kembali dinyalakan.

Example 300x600

Polsek Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menyulap salah satu ruang kantornya menjadi ruang belajar bagi anak-anak dari Kampung Banti Satu, Banti Dua, dan Kimbely—tiga kampung yang sejak 2017 mengalami keterbatasan akses pendidikan hingga menyebabkan banyak anak tidak mengikuti proses belajar mengajar secara normal.

Kapolsek Tembagapura, Iptu Firman, mengaku tergerak setelah melihat langsung kondisi anak-anak usia sekolah yang bertahun-tahun kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.

“Kami prihatin melihat anak-anak yang sudah cukup lama tidak mendapatkan pendidikan. Karena itu, kami memanfaatkan salah satu ruangan di Polsek sebagai tempat belajar agar mereka tetap bisa memperoleh pengetahuan dasar,” ujar Iptu Firman.

Di ruang sederhana itu, para anggota polisi menjalankan peran yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak hanya bertugas menjaga keamanan di wilayah operasional PT Freeport Indonesia, tetapi juga menjadi pengajar bagi anak-anak yang haus akan ilmu pengetahuan.

Mereka mengajarkan membaca, menulis, berhitung, hingga berbagai pengetahuan dasar lainnya. Setelah kegiatan belajar selesai, anak-anak juga menerima makanan bergizi gratis dan pakaian sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan mereka.

Bagi anak-anak itu, ruang belajar di kantor polisi bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan ruang untuk kembali merajut mimpi yang sempat tertunda.

Aipda Lebu Tadang mengatakan kondisi pendidikan di tiga kampung tersebut telah berlangsung cukup lama dan menjadi keprihatinan bersama.

“Sejak 2017, anak-anak usia sekolah di Kampung Banti Satu, Banti Dua, dan Kimbely tidak menerima proses belajar mengajar dengan baik. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan,” katanya.

Potret ini menghadirkan ironi yang sulit diabaikan. Di tengah kawasan Tembagapura yang dikenal dunia sebagai salah satu pusat industri pertambangan terbesar melalui operasional PT Freeport Indonesia, masih terdapat anak-anak yang bertahun-tahun hidup tanpa akses pendidikan yang memadai.

Secara kontekstual, pendidikan merupakan hak dasar yang dijamin konstitusi dan menjadi fondasi utama pembangunan manusia. Ketika akses pendidikan terputus dalam waktu yang panjang, yang hilang bukan hanya proses belajar, melainkan juga kesempatan generasi muda untuk membangun masa depan yang lebih baik. Karena itu, langkah Polsek Tembagapura menjadi pengingat bahwa kehadiran negara tidak selalu harus hadir melalui bangunan megah, tetapi juga melalui kepedulian yang menjawab kebutuhan paling mendasar masyarakat.

Inisiatif yang dilakukan Polsek Tembagapura diharapkan menjadi jembatan sementara bagi anak-anak di Banti Satu, Banti Dua, dan Kimbely agar tetap memperoleh hak mereka untuk belajar. Namun, harapan yang lebih besar tetap tertuju pada hadirnya solusi yang berkelanjutan dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

Sebab di balik deru mesin tambang dan gemerlap nilai ekonomi yang dihasilkan bumi Papua, masih ada anak-anak yang setiap pagi hanya menginginkan satu hal yang sederhana: sebuah ruang kelas, seorang guru, dan kesempatan untuk bermimpi tentang masa depan mereka.

Example 300250