Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwaTeknologi

TIFA 2026 Resmi Bergema, Mimika Teguhkan Papua sebagai Panggung Budaya dan Episentrum Ekonomi Kreatif

97
×

TIFA 2026 Resmi Bergema, Mimika Teguhkan Papua sebagai Panggung Budaya dan Episentrum Ekonomi Kreatif

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Irama tifa kembali menggema, memecah keheningan sore di pelataran Gedung Eme Neme Yauware. Di antara hentakan tari, warna-warni busana adat, dan semangat para pelaku seni, Kabupaten Mimika sekali lagi menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan denyut kehidupan yang terus bergerak, menghidupkan identitas sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Timika Inside Festival of Art (TIFA) ke-VI Tahun 2026 resmi dibuka oleh Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Bokeyau, mewakili Bupati Mimika Johannes Rettob, Kamis (2/7/2026). Festival seni dan budaya tahunan ini akan berlangsung selama tiga hari, 2–4 Juli 2026, dengan menghadirkan berbagai inovasi yang melibatkan pelaku seni, UMKM, hingga perwakilan budaya dari sejumlah kabupaten di Papua.

Example 300x600

Mengusung tema “Bernada dalam Gerak, Menebus Irama dan Mengukir Prestasi,” TIFA tahun ini tampil lebih kaya melalui kolaborasi lintas sektor yang memadukan seni pertunjukan, pelestarian budaya, promosi pariwisata, dan penguatan ekonomi kreatif.

“Tema tersebut mengandung makna bahwa seni memiliki peran penting sebagai perekat persatuan, pelestari budaya, sekaligus ruang untuk melahirkan kreativitas dan prestasi,” ujar Fransiskus Bokeyau dalam sambutannya.

Menurut Fransiskus, TIFA telah berkembang jauh melampaui sebuah festival pertunjukan. Selama enam tahun penyelenggaraannya sejak pertama kali digelar pada 2019, festival ini telah menjelma menjadi ruang bersama yang mempertemukan keberagaman budaya Papua sekaligus memperkuat rasa persaudaraan masyarakat.

Ia menyampaikan apresiasi kepada TIFA Creative, panitia, relawan, sponsor, komunitas seni, pelaku budaya, serta seluruh pihak yang terus menjaga semangat festival hingga mampu menjadi agenda budaya yang dinantikan masyarakat.

“TIFA telah menjadi etalase budaya Mimika sekaligus ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada publik yang lebih luas,” katanya.

Fransiskus menilai Mimika memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, mulai dari keragaman suku, bahasa, adat istiadat, seni tari, musik tradisional, kerajinan tangan, hingga nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi identitas daerah. Kekayaan tersebut, menurutnya, harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi penerus.

Ia juga menegaskan bahwa penyelenggaraan festival diyakini memberi dampak nyata terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kehadiran peserta maupun pengunjung dari berbagai daerah diperkirakan mampu menggerakkan aktivitas UMKM, pengrajin, pelaku kuliner, jasa transportasi, hingga sektor perhotelan.

Pemerintah Kabupaten Mimika, lanjutnya, berkomitmen terus mendukung kegiatan seni dan budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan karakter masyarakat, identitas budaya, serta kualitas sumber daya manusia.

“Jadikan festival ini sebagai ajang saling belajar, bertukar pengalaman, serta memperkuat jaringan antar pelaku seni dan budaya,” pesannya kepada seluruh peserta.

Hadir dengan Wajah Baru

Founder TIFA, Alfo Smith Kutanggas, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini membawa sejumlah terobosan yang memperluas manfaat festival bagi masyarakat.

Selain menghadirkan perlombaan seni, TIFA 2026 juga melibatkan sektor UMKM dan pameran budaya yang diikuti Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dari sejumlah kabupaten di Papua. Masing-masing daerah menampilkan produk unggulan dan kekhasan budayanya sehingga menghadirkan mozaik keberagaman Papua dalam satu panggung bersama.

“Tahun ini memang sedikit berbeda. Kami tidak hanya menghadirkan perlombaan seni, tetapi juga melibatkan UMKM agar dampak ekonomi dari festival ini bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujar Alfo.

Sebanyak 137 peserta mengikuti berbagai cabang perlombaan seni yang digelar selama festival berlangsung.

Perpaduan Seni, Fashion, dan Ekonomi Kreatif

Selama tiga hari pelaksanaan, pengunjung akan disuguhkan beragam penampilan tari kreasi maupun tari Nusantara dari sanggar-sanggar seni terbaik. Penampilan para peserta akan dinilai oleh dewan juri profesional yang didatangkan dari Jayapura, Bali, dan Jakarta.

Kemeriahan festival juga diperkaya melalui Papua Family Fashion Show yang menampilkan karya busana bernuansa budaya Papua dari berbagai kelompok usia.

Di sisi lain, sekitar 30 pelaku UMKM dari Kabupaten Mimika, Kabupaten Deiyai, hingga Kabupaten Puncak turut memamerkan aneka produk kerajinan, kuliner, dan hasil ekonomi kreatif kepada masyarakat.

Melalui berbagai inovasi tersebut, panitia berharap TIFA berkembang menjadi lebih dari sekadar festival tahunan, melainkan ruang promosi budaya Papua, penggerak ekonomi kreatif, sekaligus destinasi wisata budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia.

Secara kontekstual, penyelenggaraan TIFA menunjukkan semakin kuatnya paradigma pembangunan daerah yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi kemajuan. Di tengah arus modernisasi, festival seperti TIFA tidak hanya berfungsi menjaga identitas lokal, tetapi juga membuktikan bahwa seni, budaya, dan ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan sebagai kekuatan baru dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperluas daya tarik pariwisata Papua.

╔════════════════════════════════════╗
❝ Ketika tifa dipukul dan tarian mulai bergerak, yang lahir bukan sekadar pertunjukan, melainkan denyut sebuah peradaban yang terus menjaga akarnya sambil melangkah menuju masa depan. Dari Mimika, budaya kembali berbicara bahwa kemajuan akan selalu menemukan jalannya ketika tradisi tetap diberi ruang untuk hidup. ❞
╚════════════════════════════════════╝

Example 300250