KUPANG |LINTASTIMOR.ID-Di bawah langit Kota Kupang yang terang pada penghujung Juni, ribuan toga memenuhi Gedung Grha Universitas Nusa Cendana. Namun siang itu, yang berlangsung bukan semata seremoni akademik. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pengukuhan gelar—sebuah panggilan untuk kembali, menanam, dan membangun tanah asal.
Sebanyak 1.421 lulusan Universitas Nusa Cendana (Undana) dari jenjang Doktor, Magister, Profesi, Sarjana, dan Diploma resmi dikukuhkan dalam Wisuda Periode II Juni 2026, Selasa (30/6/2026). Di hadapan para lulusan, keluarga, dosen, dan sivitas akademika, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena , menyampaikan pesan yang melampaui ucapan selamat.
“Bukan hanya wisuda. Ini adalah panggilan untuk pulang dan membangun.”
Kalimat itu meluncur sederhana, tetapi membawa gema yang panjang—tentang masa depan daerah yang tidak dibangun oleh orang lain, melainkan oleh anak-anaknya sendiri.
Melki berdiri di hadapan generasi yang baru saja menuntaskan satu fase penting kehidupan. Namun baginya, ijazah bukan garis akhir.
“Ijazah yang ada di tangan bukan sekadar tanda selesai menempuh pendidikan. Di baliknya ada doa orang tua, perjuangan panjang, dan tanggung jawab besar untuk Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.
Di ruang wisuda yang dipenuhi wajah lega dan harapan, pesan itu terasa seperti penegasan arah. Bahwa keberhasilan akademik baru memperoleh makna ketika kembali bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.
Gubernur NTT menyampaikan keyakinannya bahwa masa depan daerah berada di tangan generasi yang berani menciptakan perubahan. Ia mengajak para lulusan untuk tidak sekadar mencari ruang di kota-kota besar, tetapi berani melihat kampung halaman sebagai ruang tumbuh yang menjanjikan.
Menurutnya, desa bukan tempat untuk ditinggalkan, melainkan ruang untuk melahirkan gagasan.
“Kembalilah membangun desa. Kelola potensi kampung halaman. Jadilah pengusaha muda. Manfaatkan teknologi dan Artificial Intelligence dengan bijak, tetapi jangan pernah kehilangan hati, karakter, dan kepedulian sebagai manusia.”
Di tengah perubahan ekonomi dan percepatan teknologi, pesan itu menjadi relevan. NTT selama bertahun-tahun kerap ditempatkan dalam narasi daerah pemasok tenaga kerja dan pasar konsumsi. Karena itu, ajakan untuk kembali membangun sesungguhnya bukan sekadar seruan emosional, tetapi gagasan pembangunan: mengubah lulusan perguruan tinggi menjadi penggerak ekonomi lokal berbasis pengetahuan, inovasi, dan identitas daerah.
Melki menegaskan, NTT tidak boleh terus berada pada posisi sebagai daerah yang membeli dan bergantung.
“NTT tidak boleh selamanya menjadi daerah yang membeli. Kita harus menjadi daerah yang menghasilkan.”
Ia meyakini kekuatan baru daerah dapat lahir dari kemampuan generasi muda mengolah kekayaan pertanian, perikanan, budaya, pariwisata, hingga ekonomi kreatif menjadi nilai tambah yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Melki juga menyampaikan apresiasi kepada Rektor Undana, , seluruh sivitas akademika, para dosen, serta orang tua yang telah mengantarkan para lulusan menuju tahap ini.
Wisuda pun selesai. Nama-nama dipanggil. Foto-foto diabadikan. Tetapi mungkin yang akan tinggal paling lama bukanlah bunyi tepuk tangan atau kilau toga—melainkan satu pertanyaan yang diam-diam dibawa pulang setiap lulusan: setelah berhasil keluar dari kampus, beranikah mereka kembali untuk membangun tanah yang membesarkan mereka?
Karena pada akhirnya, sebuah daerah tidak dibangun oleh mereka yang paling jauh pergi, melainkan oleh mereka yang memilih pulang dan berkarya.


















