Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwaPolkam

Fulan Fehan Menyatukan Dua Negeri: Melki Laka Lena Tegaskan Tenun NTT adalah Identitas, Diplomasi, dan Kekuatan Ekonomi Perbatasan

103
×

Fulan Fehan Menyatukan Dua Negeri: Melki Laka Lena Tegaskan Tenun NTT adalah Identitas, Diplomasi, dan Kekuatan Ekonomi Perbatasan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID – Hamparan warna-warni tenun membelah sore di jantung Kota Atambua. Dari panggung budaya yang berdiri di tanah perbatasan, benang-benang warisan leluhur seakan kembali berbicara, mengisahkan perjalanan panjang sebuah peradaban yang tidak pernah putus ditelan zaman.

Di tengah kemegahan Exotic Tenun dan Parade Tenun dalam rangkaian Festival Fulan Fehan IV, Jumat (26/6/2026), hadir Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena. Kehadiran keduanya tidak sekadar menyaksikan sebuah festival budaya, tetapi menegaskan bahwa perbatasan Indonesia–Timor Leste sedang membangun masa depannya melalui kebudayaan.

Example 300x600

Festival yang melibatkan Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Malaka, dan partisipasi masyarakat Timor Leste itu menjelma menjadi ruang perjumpaan yang melampaui batas administrasi negara. Di sana, budaya berbicara lebih lantang daripada sekat-sekat geografis.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa tenun ikat NTT bukan sekadar produk kerajinan, melainkan identitas yang menyimpan sejarah, nilai kehidupan, dan kekuatan ekonomi masyarakat.

╔════════════════════════════╗
“Tenun bagi kita di NTT bukan cuma sekadar kain. Tenun adalah cerita tentang berbagai situasi ketika tenun itu dihasilkan. Tenun juga adalah identitas yang menggambarkan siapa yang memakai kain tersebut, sekaligus hasil kerja keras dan kreativitas mama-mama NTT.”
╚════════════════════════════╝

Pernyataan itu disambut tepuk tangan panjang. Sebab di balik setiap motif tenun, tersimpan jejak kehidupan masyarakat yang diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.

Melki memberikan penghormatan khusus kepada para perempuan penenun yang selama ini menjaga nyala tradisi tetap hidup di tengah arus modernisasi. Menurutnya, keberadaan para penenun menjadi alasan utama mengapa tenun NTT tetap bertahan dan semakin dikenal hingga ke tingkat nasional.

Ia juga mengapresiasi peran Tim Penggerak PKK dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota yang terus mengkampanyekan penggunaan tenun dalam berbagai kegiatan resmi maupun sosial kemasyarakatan.

Data yang dihimpun para pegiat tenun menunjukkan sedikitnya lebih dari 700 motif tenun NTT telah berhasil diidentifikasi.

╔════════════════════════════╗
“Ini menunjukkan betapa kayanya budaya kita. Setiap motif memiliki cerita dan filosofi yang berbeda sehingga harus terus dilestarikan.”
╚════════════════════════════╝

Tidak berhenti pada pelestarian budaya, Pemerintah Provinsi NTT kini mulai menyiapkan regenerasi penenun melalui jalur pendidikan. Keterampilan menenun telah masuk sebagai muatan lokal di sejumlah SMA dan SMK.

Menurut Melki, langkah tersebut merupakan investasi budaya jangka panjang agar generasi muda tidak tercerabut dari akar identitasnya.

╔════════════════════════════╗
“Sekarang di SMA dan SMK sudah ada pelajaran menenun. Anak-anak belajar menenun di sekolah dan hasil tenun mereka dijual. Hasilnya bisa menjadi tambahan biaya pendidikan bagi para siswa.”
╚════════════════════════════╝

Kebijakan itu membuka peluang lahirnya generasi baru pelaku ekonomi kreatif yang berangkat dari kekayaan budaya lokal.

Budaya Menjadi Bahasa Persaudaraan

Festival Fulan Fehan tahun ini menghadirkan makna yang lebih luas dibanding sekadar pertunjukan seni dan budaya. Di kawasan yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, budaya tampil sebagai bahasa universal yang menyatukan masyarakat dua negara yang memiliki akar sejarah dan kebudayaan yang sama.

╔════════════════════════════╗
“Festival ini bukan hanya menyatukan Belu, TTU, dan Malaka, tetapi juga menyatukan dua negara. Kita memang berbeda secara administrasi pemerintahan, tetapi memiliki banyak kesamaan budaya, lagu, tarian, dan tenun. Budaya menjadi perekat hubungan persaudaraan kedua negara.”
╚════════════════════════════╝

Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa perbatasan tidak selalu identik dengan pemisah. Sebaliknya, di Pulau Timor, perbatasan justru menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat hubungan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat lintas negara.

Dalam konteks pembangunan kawasan timur Indonesia, Festival Fulan Fehan memperlihatkan bagaimana budaya mampu bertransformasi menjadi instrumen diplomasi rakyat (people-to-people diplomacy). Ketika masyarakat Indonesia dan Timor Leste bertemu dalam ruang budaya yang sama, yang lahir bukan hanya pertunjukan seni, melainkan kepercayaan, kolaborasi, dan peluang ekonomi baru. Inilah model pembangunan perbatasan yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga pada penguatan identitas dan relasi kemanusiaan.

Melki bahkan mendorong agar kerja sama budaya diperluas hingga Australia melalui Kota Darwin yang memiliki kedekatan historis dengan wilayah Timor.

╔════════════════════════════╗
“Saya berharap kabupaten-kabupaten perbatasan bersama Kota Kupang dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan Indonesia dengan Australia, khususnya melalui Darwin.”
╚════════════════════════════╝

Ia juga mengungkapkan bahwa kunjungan wisatawan ke NTT pada tahun sebelumnya meningkat hingga 146 persen dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

╔════════════════════════════╗
“Saya percaya event-event budaya seperti Festival Fulan Fehan akan terus memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya di Belu dan kawasan perbatasan, sekaligus meningkatkan ekonomi kedua negara.”
╚════════════════════════════╝

Sementara itu, Bupati Belu Wilibrodus Lay menegaskan bahwa semangat utama Festival Fulan Fehan adalah menjaga persaudaraan lintas batas.

╔════════════════════════════╗
“Kita menjaga batas tanpa batas dengan persaudaraan. Kita membangun kebudayaan dengan persaudaraan dan membangun kemitraan melalui kerja sama.”
╚════════════════════════════╝

Usai mengikuti parade tenun, Mendagri Muhammad Tito Karnavian bersama Gubernur Melki Laka Lena dan rombongan meninjau stan UMKM yang menampilkan berbagai produk unggulan masyarakat Belu.

Di tengah riuh tepuk tangan dan warna-warni tenun yang perlahan meninggalkan panggung, Festival Fulan Fehan kembali mengingatkan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung dan jalan raya. Ia juga tumbuh dari warisan budaya yang dijaga dengan cinta. Dan di tanah perbatasan Belu, tenun terus menenun kisah tentang identitas, persaudaraan, dan harapan yang menjangkau jauh melampaui garis batas negara.

Example 300250