ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Pagi itu, langit Haliwen tampak bersahabat. Angin yang berembus dari perbukitan perbatasan membawa suasana hangat ketika rombongan Pemerintah Kabupaten Belu berdiri menyambut tamu penting yang datang dari ibu kota. Di Bandara A.A. Bere Tallo, Atambua, Rabu (24/6/2026), kehadiran Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat, Ny. Tri Tito Karnavian, menjadi penanda bahwa perhatian terhadap daerah perbatasan terus mengalir hingga ke ujung timur Nusantara.
Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Belu, Ketua TP PKK Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), serta Staf Ahli TP PKK Belu, menyambut langsung kedatangan Ny. Tri Tito Karnavian di ruang kedatangan bandara. Sambutan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan penghormatan.
Kunjungan kerja Ketua Umum TP PKK Pusat kali ini akan berlangsung di dua kabupaten, yakni Kabupaten TTU dan Kabupaten Belu. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam berbagai bidang pembangunan, termasuk pemberdayaan masyarakat dan penguatan sektor pariwisata berbasis budaya.
Di Kabupaten Belu, Ny. Tri Tito Karnavian dijadwalkan mengikuti rangkaian kegiatan Festival Fulan Fehan 2026 yang akan berlangsung pada 25 hingga 27 Juni mendatang. Festival yang digelar di hamparan sabana Fulan Fehan itu telah berkembang menjadi salah satu etalase budaya paling bergengsi di kawasan timur Indonesia, mempertemukan keindahan alam, tradisi leluhur, dan identitas masyarakat Belu dalam satu panggung kebanggaan.
“Kehadiran pemerintah pusat dalam momentum Festival Fulan Fehan bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan simbol kuat bahwa budaya lokal memiliki tempat terhormat dalam agenda pembangunan nasional.”
Secara kontekstual, kunjungan Ketua Umum TP PKK Pusat ini memiliki makna strategis bagi Belu. Di tengah semakin ketatnya persaingan destinasi wisata daerah, dukungan dan perhatian dari pemerintah pusat menjadi energi penting untuk memperkuat promosi kawasan perbatasan sebagai destinasi budaya yang bernilai tinggi. Festival Fulan Fehan tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga menjadi ruang pelestarian warisan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pemerintah Kabupaten Belu berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat berjalan sukses serta memberikan dampak positif bagi pengembangan pariwisata dan perekonomian masyarakat setempat. Kehadiran berbagai pihak dalam festival itu sekaligus menjadi bukti bahwa membangun daerah tidak hanya dilakukan melalui infrastruktur, tetapi juga dengan menjaga akar budaya yang menjadi identitas bangsa.
Di tanah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga itu, setiap langkah tamu yang datang sesungguhnya membawa pesan yang lebih besar: bahwa Belu bukan sekadar wilayah di ujung negeri, melainkan beranda Indonesia yang menyimpan keindahan, martabat budaya, dan harapan yang terus tumbuh menuju masa depan.


















