Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaHukum & KriminalNasionalPeristiwaPolkam

Ribuan Mahasiswa Kepung Bundaran HI, Aksi “Menuju Indonesia Bangkrut” Siap Menggema di Jantung Ibu Kota

65
×

Ribuan Mahasiswa Kepung Bundaran HI, Aksi “Menuju Indonesia Bangkrut” Siap Menggema di Jantung Ibu Kota

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA  |LINTASTIMOR.ID – Pagi Jakarta belum sepenuhnya terjaga ketika gelombang keresahan itu mulai bergerak dari kampus-kampus. Dari lorong-lorong fakultas, ruang diskusi, hingga halaman organisasi mahasiswa, suara yang selama berbulan-bulan bergaung dalam forum-forum kecil kini bersiap menjelma menjadi arus besar di jalanan ibu kota.

Jumat, 12 Juni 2026, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) direncanakan menjadi titik temu ribuan mahasiswa Jabodetabek yang mengusung tajuk aksi “Menuju Indonesia Bangkrut”. Gerakan yang diinisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) itu akan dimulai sejak pukul 10.00 WIB sebagai bentuk protes terhadap berbagai kebijakan ekonomi dan situasi demokrasi yang mereka nilai semakin mengkhawatirkan.

Example 300x600

Sebelum bergerak menuju pusat Jakarta, massa aksi akan berkumpul di Lapangan Parkir FISIP UI, Depok. Karena berlangsung pada hari Jumat, peserta juga dijadwalkan melaksanakan Salat Jumat berjamaah di sekitar lokasi aksi sebelum rangkaian orasi utama dimulai.

Bagi para mahasiswa, aksi ini bukan sekadar agenda demonstrasi rutin. Mereka menyebutnya sebagai panggung suara publik yang lahir dari keresahan masyarakat terhadap tekanan ekonomi yang dirasakan semakin berat.

┌──────────────────────────────┐
│ “Kami menegaskan bahwa aksi │
│ esok hari tidak terafiliasi │
│ dengan kelompok politik │
│ praktis mana pun. Ini adalah │
│ wadah perjuangan terbuka │
│ bagi seluruh mahasiswa dan │
│ elemen masyarakat sipil yang │
│ merasa hak-hak ekonominya │
│ tercekik oleh kebijakan │
│ penguasa saat ini.” │
│ │
│ — Anandaku Dimas │
│ Ketua BEM FH UI │
└──────────────────────────────┘

Pernyataan tersebut disampaikan Anandaku Dimas di Depok, Kamis (11/6), sebagai penegasan bahwa gerakan yang akan berlangsung di Bundaran HI merupakan gerakan moral yang berdiri di atas aspirasi mahasiswa dan masyarakat sipil.

Panitia memperkirakan sedikitnya 1.500 peserta akan hadir dalam aksi tersebut. Selain BEM seluruh fakultas Universitas Indonesia, sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai kampus telah menyatakan bergabung, di antaranya BEM IPB, Universitas Gunadarma, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UPN Veteran Jakarta, dan Universitas Pancasila. Aksi itu juga mendapat dukungan dari organisasi masyarakat sipil seperti Front Mahasiswa Nasional (FMN) dan Serikat Perempuan Indonesia (SPI).

Dalam aksi tersebut, aliansi mahasiswa membawa lima tuntutan utama yang ditujukan kepada pemerintah, yakni menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menghentikan pemborosan APBN, menolak militerisme di ruang sipil, serta mendesak Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan kebijakan yang dinilai membebani rakyat.

Tuntutan pertama menyoroti kenaikan harga BBM non-subsidi yang menurut mereka berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Sementara itu, Program Makan Bergizi Gratis dinilai perlu dievaluasi secara menyeluruh karena dianggap tidak tepat sasaran dan berpotensi membebani keuangan negara.

Mereka juga meminta penghentian proyek-proyek yang dianggap bukan prioritas nasional, termasuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Selain itu, mahasiswa menolak keterlibatan aparat keamanan dalam ruang sipil serta mengecam segala bentuk pembungkaman terhadap kritik dan kebebasan berekspresi.

Gelombang Kritik di Tengah Tekanan Ekonomi

Aksi yang akan berlangsung di Bundaran HI hadir di tengah meningkatnya diskursus publik mengenai kondisi ekonomi nasional. Dalam beberapa bulan terakhir, isu kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya hidup yang terus meningkat, serta kekhawatiran terhadap efektivitas belanja negara menjadi bahan perdebatan luas di berbagai lapisan masyarakat. Di tengah situasi tersebut, mahasiswa kembali mengambil posisi sebagai kelompok penekan yang berusaha menghadirkan kritik langsung ke ruang publik melalui aksi jalanan.

Sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat, panitia juga menyampaikan permohonan maaf atas potensi gangguan aktivitas dan kepadatan lalu lintas yang mungkin terjadi di sepanjang koridor Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan M.H. Thamrin selama aksi berlangsung.

Masyarakat yang memiliki aktivitas di kawasan pusat Jakarta diimbau menghindari area Bundaran HI sejak pagi hari dan memanfaatkan moda transportasi berbasis rel seperti MRT Jakarta maupun KRL Commuter Line untuk mengurangi dampak kemacetan.

Esok, Bundaran HI mungkin kembali dipenuhi spanduk, pengeras suara, dan lautan manusia berbaju almamater. Namun lebih dari itu, ruang publik tersebut akan menjadi tempat bertemunya harapan, kritik, dan kegelisahan sebuah generasi yang ingin suaranya didengar. Sebab dalam sejarah bangsa ini, jalanan sering kali menjadi ruang ketika kata-kata merasa tidak lagi cukup untuk mengetuk pintu kekuasaan.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe