KUPANG | LINTASTIMOR.ID – Di bawah langit sore Desa Oelnasi yang perlahan meredup keemasan, suara tepuk tangan panjang memenuhi Gedung Olahraga Komitmen, Kecamatan Kupang Tengah, Kamis (21/5/2026). Di ruangan itu, ratusan tokoh adat, kepala desa, dan pemangku kepentingan duduk dalam satu tarikan napas yang sama: menjaga adat agar tetap hidup di tengah derasnya perubahan zaman.
Rapat Koordinasi (Rakor) Lembaga Adat Desa (LAD) Tingkat Kabupaten Kupang Tahun 2026 resmi ditutup oleh Wakil Bupati Kupang, , setelah berlangsung selama dua hari penuh diskusi, gagasan, dan harapan tentang masa depan desa-desa adat di Kabupaten Kupang.
Sebelumnya, kegiatan tersebut dibuka langsung oleh dan dihadiri ratusan tokoh adat dari berbagai wilayah di Kabupaten Kupang.
Dalam sambutan penutupnya, Aurum Titu Eki menegaskan bahwa posisi Lembaga Adat Desa kini tidak lagi sekadar menjadi penjaga ritus dan warisan leluhur semata. Menurutnya, LAD telah tumbuh menjadi kekuatan sosial yang strategis dalam menjaga keharmonisan masyarakat dan menopang pembangunan daerah.
╔════════════════════════════════╗
❝ “LAD bukan hanya penjaga tradisi, tetapi mitra strategis pemerintah dalam menjaga keharmonisan sosial, memperkuat persatuan, menyelesaikan persoalan masyarakat, serta mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan.” ❞
╚════════════════════════════════╝
Kalimat itu meluncur tegas dari podium, namun terasa hangat di telinga para peserta yang sejak pagi memenuhi ruangan. Beberapa tokoh adat tampak mengangguk perlahan, seolah menyadari bahwa adat kini tidak lagi berdiri di pinggir pembangunan, melainkan berada di jantungnya.
Wabup Kupang itu juga menekankan pentingnya membangun sinergi yang kuat antara pemerintah desa, LAD, dan seluruh elemen masyarakat. Ia berharap seluruh rekomendasi dan gagasan yang lahir selama rakor tidak berhenti sebagai dokumen formal, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan nyata di desa-desa.
“Pemikiran dan rekomendasi yang dihasilkan hendaknya tidak berhenti pada dokumen atau forum diskusi saja, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam program dan langkah konkret di tingkat desa,” ujarnya.
Lebih jauh, Aurum meminta agar LAD semakin aktif mendukung program prioritas pemerintah daerah tanpa meninggalkan identitas budaya masyarakat Kupang. Baginya, adat dan budaya bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan fondasi moral yang menjaga arah pembangunan tetap manusiawi.
╔════════════════════════════════╗
❝ “Adat dan budaya adalah identitas yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Pembangunan harus tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal kita sendiri.” ❞
╚════════════════════════════════╝
Di tengah modernisasi desa dan derasnya arus digitalisasi, pernyataan itu terasa seperti pengingat bahwa pembangunan tanpa akar budaya dapat membuat masyarakat kehilangan arah. Rakor LAD Kabupaten Kupang tahun ini tidak hanya berbicara tentang struktur kelembagaan adat, tetapi juga tentang bagaimana nilai gotong royong, penyelesaian konflik secara adat, dan penghormatan terhadap leluhur tetap dirawat di tengah perubahan sosial yang cepat.
Secara kontekstual, penguatan peran LAD menjadi penting di Kabupaten Kupang karena lembaga adat masih memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan masyarakat desa, terutama dalam menjaga stabilitas sosial, menyelesaikan persoalan komunal, hingga mendukung keberhasilan program pemerintah di tingkat akar rumput. Ketika pemerintah dan lembaga adat berjalan seirama, pembangunan tidak hanya bergerak secara administratif, tetapi juga diterima secara batiniah oleh masyarakat.
Acara penutupan turut dihadiri Asisten I Sekda Kabupaten Kupang, perwakilan , , , Ketua PERDIK, anggota KPU, Kepala Dinas PMD, para kepala desa, BPD, lurah, serta Ketua LAD se-Kabupaten Kupang.
Rakor kemudian ditutup dengan harapan agar seluruh elemen masyarakat tetap menjaga semangat persatuan dan gotong royong demi mewujudkan Kabupaten Kupang yang maju, adil, dan sejahtera.
Dan ketika kursi-kursi mulai kosong serta langkah kaki perlahan meninggalkan gedung, satu pesan tampak masih tertinggal di ruang itu: bahwa adat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan cahaya yang menjaga arah perjalanan sebuah daerah menuju masa depan.


















