ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Pagi itu di Gedung Wanita Bete Lalenok, suara-suara perempuan tidak lagi sekadar berbisik. Ia menjelma tekad. Di hari kedua kunjungannya di Kabupaten Belu, Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat, Ny. Tri Tito Karnavian, hadir bukan sekadar membawa agenda—tetapi menyalakan kesadaran di jantung wilayah perbatasan RI – RDTL, Kamis (16/04/2026).
Di ruangan yang dipenuhi kader dan tokoh perempuan itu, dua hal mengemuka sebagai denyut utama: perlindungan terhadap perempuan dan anak dari kekerasan, serta penguatan ekonomi keluarga melalui pelatihan pembuatan minyak kemiri. Dua isu yang tampak berbeda, namun sejatinya berakar pada satu hal—martabat manusia.
Dalam sambutannya, Ny. Tri Tito Karnavian menegaskan bahwa Belu bukanlah pinggiran, melainkan beranda depan Indonesia yang strategis, terutama dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
╔══════════════════════════════════════╗
║ “Belu itu istimewa karena berbatasan langsung ║
║ dengan Timor Leste. Saya hadir di sini untuk ║
║ menyemangati kader PKK agar bekerja keras ║
║ menyiapkan anak-anak kita menjadi SDM yang ║
║ hebat demi kelangsungan NKRI.” ║
║ ║
║ — Ny. Tri Tito Karnavian ║
╚══════════════════════════════════════╝
Pernyataan itu menggema, seolah menegaskan bahwa masa depan bangsa tidak hanya dibangun di kota-kota besar, tetapi juga di batas negeri—di tempat di mana perempuan menjadi penjaga pertama nilai dan kehidupan.
Salah satu pesan paling kuat yang disampaikan adalah tentang urgensi memutus mata rantai kekerasan dalam rumah tangga. Ia menyoroti bahwa kekerasan, baik fisik maupun verbal, masih menjadi ancaman nyata yang kerap tersembunyi di balik dinding rumah.
╔══════════════════════════════════════╗
║ “Kita harus mendidik anak-anak dan perempuan ║
║ untuk berani mengatakan ‘TIDAK’ terhadap ║
║ kekerasan. Mereka harus merasa aman di rumah ║
║ dan tahu bahwa hak-hak mereka dilindungi ║
║ undang-undang.” ║
║ ║
║ — Ny. Tri Tito Karnavian ║
╚══════════════════════════════════════╝
Seruan itu bukan sekadar imbauan, melainkan panggilan moral—agar rumah kembali menjadi ruang paling aman, bukan sebaliknya.
Tak berhenti di situ, Ny. Tri Tito Karnavian juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun keluarga ideal dan sehat, sebagai fondasi utama menciptakan generasi unggul dengan gizi yang cukup dan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni.
Di sisi lain, langkah konkret juga ditawarkan melalui pelatihan pembuatan minyak kemiri. Di tangan para kader, kemiri yang selama ini menjadi bagian dari keseharian, kini diangkat sebagai peluang ekonomi berkelanjutan.
╔══════════════════════════════════════╗
║ “Kita lihat potensi di sini sangat baik. ║
║ Melalui pelatihan ini, kami ingin mendukung ║
║ peningkatan ekonomi keluarga. Semoga produk ║
║ unggulan seperti minyak kemiri bisa berkembang ║
║ pesat.” ║
║ ║
║ — Ny. Tri Tito Karnavian ║
╚══════════════════════════════════════╝
Dari dapur-dapur sederhana di Belu, sebuah harapan ekonomi mulai diracik—pelan, namun pasti.
Di akhir sambutannya, ia pun berjanji akan membawa nama Belu, khususnya kawasan perbatasan Motaain, ke panggung yang lebih luas di tingkat pusat, agar semakin dikenal dan mendapat perhatian.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Bupati Belu, Ketua dan Staf Ahli TP PKK Kabupaten Belu, Pj Sekda Belu, Pengurus Dekranasda NTT, Forkopimda Kabupaten Belu, pimpinan OPD, organisasi wanita, serta para kader PKK dan undangan lainnya.
Secara kontekstual, kehadiran Ketua Umum TP PKK Pusat di wilayah perbatasan seperti Belu mencerminkan penguatan pendekatan pembangunan berbasis keluarga sebagai garda terdepan. Di tengah tantangan geografis, ekonomi, dan sosial, intervensi yang menyentuh isu perlindungan perempuan dan pemberdayaan ekonomi menjadi strategi penting untuk memperkecil kesenjangan dan memastikan bahwa visi Indonesia Emas 2045 tidak meninggalkan wilayah pinggiran.
Di Bete Lalenok hari itu, perempuan-perempuan tidak hanya mendengar—mereka menyerap, mengolah, dan bersiap bergerak. Sebab dari perbatasan, masa depan bangsa tidak sekadar dijaga, tetapi sedang ditenun—dengan keberanian, dengan ketekunan, dan dengan harapan yang tak pernah padam.


















