Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupPeristiwaPolkam

Mimika Memanggil, Saatnya Intan Kembali Untuk Membangun

135
×

Mimika Memanggil, Saatnya Intan Kembali Untuk Membangun

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA| LINTASTIMOR.ID — Di tengah arus pembangunan yang terus bergerak dan tantangan zaman yang kian kompleks, peran perempuan hadir sebagai kekuatan yang tak lagi bisa dipinggirkan. Dari sektor pertanian hingga pertambangan, dari pendidikan hingga kesehatan, kontribusi perempuan menjadi denyut yang memperkuat arah masa depan daerah.

Di Kabupaten Mimika, sebuah kisah inspiratif muncul dari sosok perempuan yang selama ini berjalan dalam senyap, namun menyimpan jejak panjang pengabdian dan pengalaman. Ia adalah Noorintan Nuzulia, ST—yang akrab disapa Ibu Intan—seorang perempuan asal Yogyakarta yang pernah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mimika.

Example 300x600

Namanya mungkin tak sering terdengar di ruang publik, tetapi rekam jejaknya berbicara. Intan diketahui menjabat sebagai komisaris pada dua perusahaan, yakni PT Global Finance dan PT Lintang Wahyu Abadi.

Perempuan alumni ITB Bandung ini juga merupakan istri dari Agus Wahyudiono, S.Pd, seorang politikus DPP Partai Golkar yang pernah berkarier di PT Freeport Indonesia. Bersama keluarganya, Intan pernah tinggal di Kelurahan Pasar Sentral, Jalan Hasanudin, Gang Flora, sejak tahun 2000 hingga 2015—menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Timika.

Selama berada di Mimika, Intan tidak sekadar menjadi saksi pembangunan, tetapi turut menjadi pelaku. Bersama suaminya, ia merintis usaha batu tela dan batu pecah yang kemudian berkembang menjadi perusahaan kontraktor PT Lintang Wahyu Abadi. Dari usaha itu, lahir kontribusi nyata dalam berbagai proyek pembangunan, mulai dari pembangunan lapangan terbang di Kabupaten Nduga, permukiman masyarakat di Kwamki Narama, bandar udara di Bella, sekolah di Agimuga, hingga jalan lingkungan di Limau Asri SP 5.

Di sela kesibukannya sebagai pengusaha, Intan juga pernah dipercaya mengemban amanah sebagai bendahara Lemasko pada masa kepemimpinan almarhum Agapitus Mairimau—sebuah peran yang menegaskan kedekatannya dengan masyarakat lokal.

Lintas Timor berhasil menghubungi Ibu Intan melalui sambungan telepon seluler pada Selasa (14/04/2026). Dari percakapan itu, tergambar kerinduan yang tak pudar, sekaligus tekad yang kian matang untuk kembali.

“Terima kasih kepada masyarakat Mimika, terutama masyarakat Kamoro dan Amungme, yang telah memberikan makna kehidupan yang positif kepada saya selama berada di Timika. Saya adalah wanita biasa yang tentunya memiliki potensi yang sama dengan yang lainnya,” tutur Intan.

Baginya, perempuan di masa depan akan dihadapkan pada tantangan ekonomi yang tidak menentu. Karena itu, peningkatan kapasitas diri menjadi sebuah keharusan.

“Sebagai kaum perempuan, kita dituntut untuk terus belajar, memiliki ilmu pengetahuan, serta kemampuan dalam mengembangkan diri dan meningkatkan ekonomi keluarga. Kita tidak boleh kalah dari pria, karena kita memiliki hak yang sama dan harus menjadi pribadi yang kuat,” lanjutnya.

Lebih jauh, Intan menyoroti fenomena yang kerap terjadi: perempuan berpendidikan tinggi justru memilih bertahan di kota besar, meninggalkan daerah yang sesungguhnya membutuhkan sentuhan perubahan.

“Siapa yang akan membawa pembaruan di Kabupaten Mimika apabila perempuan berpendidikan tinggi dan berwawasan luas justru lebih memilih tinggal di ibu kota? Saya memahami bahwa setiap orang memiliki pilihan masing-masing. Namun, saat ini saya memilih untuk kembali ke Mimika, membuka peluang, serta menciptakan hal-hal baru dari pengalaman yang saya peroleh selama berada di Jakarta,” ujarnya.

Komitmennya pun ditegaskan dengan sederhana, namun sarat makna.

“Dengan kembalinya saya ke Mimika setelah sekian lama menimba pengalaman di Jakarta, apa yang telah saya peroleh akan saya kembangkan di Kabupaten Mimika,” tambahnya.

Sebagaimana pernah diungkapkan Mohammad Hatta, “Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, tetapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di daerah.” Sebuah pengingat bahwa kekuatan bangsa sesungguhnya bertumpu pada daerah—pada mereka yang memilih kembali, membangun, dan memberi arti.

Melalui kisah ini, masyarakat diajak untuk saling mendukung dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik tanpa memandang perbedaan. Sebab pada akhirnya, setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkontribusi, dan menjadi bagian dari perubahan.

Dan di Mimika, panggilan itu kini dijawab—oleh seorang perempuan yang pulang, bukan sekadar membawa rindu, tetapi juga harapan.

Example 300250