Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwaPolkam

Restu Leluhur di Tanah Rejauw: Fajar Baru Pertahanan dan Kesejahteraan di Biak Timur

64
×

Restu Leluhur di Tanah Rejauw: Fajar Baru Pertahanan dan Kesejahteraan di Biak Timur

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Penyerahan lahan ulayat seluas 56 hektare oleh Marga Rejauw menjadi simbol harmonisasi sakral antara kearifan lokal masyarakat Biak dengan visi pembangunan TNI untuk mempercepat kesejahteraan di Papua

Simfoni di Kampung Makmakerbo

Example 300x600

BIAK |LINTASTIMOR. ID -Langit di Distrik Biak Timur pada Sabtu, 22 November 2025, menjadi saksi bisu sebuah rekonsiliasi agung antara tradisi dan modernitas. Di tengah semilir angin Kampung Makmakerbo, aroma tanah basah bercampur dengan kepul asap ritual “Kakes” yang khidmat.

Seekor ayam putih dikorbankan, bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebuah dialog spiritual kepada para leluhur untuk memohon restu bagi tanah yang akan beralih rupa menjadi markas Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 858/MSB. Suasana terasa magis saat darah putih bertemu dengan ketulusan hati Marga Rejauw, menandai babak baru bagi 56 hektare tanah ulayat yang kini diserahkan demi masa depan yang lebih benderang.

Ikrar Suci di Atas Batu Barapen

Di bawah tatapan haru warga, jemari Bernard Fredik Rejauw dan Letkol Kav John Alberth Suweny menari di atas kertas pelepasan lahan. Tak lama kemudian, api membakar batu-batu kali, mematangkan sajian dalam tradisi *Barapen*. Babi, ayam, dan ikan menyatu dalam panasnya kebersamaan, melambangkan bahwa tak ada lagi sekat antara penjaga kedaulatan dan pemilik tanah. Bernard, dengan suara yang bergetar namun tegas, menegaskan bahwa kehadiran seragam hijau di tanah mereka bukanlah ancaman, melainkan tangan pemerintah yang terulur untuk menjemput kesejahteraan yang selama ini dirindukan.

▮▮▮▮▮▮▮▮▮▮▮▮

> “Tanah ini adalah detak jantung kami yang kami persembahkan dengan ketulusan. Tidak perlu ada rasa cemas, karena kehadiran TNI adalah jawaban atas pergumulan panjang kami. Kami menyerahkan masa depan ini agar daerah ini tidak lagi sunyi dari kemajuan.”
>
> — Bernard Fredik Rejauw, Perwakilan Pemilik Hak Ulayat.
>
> ▮▮▮▮▮▮▮▮▮▮▮▮

Dandim 1708/BN pun menyambut sumpah tersebut dengan janji yang tak kalah kokoh. Baginya, setiap jengkal tanah yang diberikan adalah amanah Tuhan yang akan dibayar dengan pembangunan yang menyentuh akar rumput.

>
>
> “Kami berdiri di sini untuk mengawal harapan masyarakat. Pembangunan Yonif TP 858/SSB bukan sekadar tumpukan semen dan baja, melainkan motor ekonomi yang akan menghidupkan sektor peternakan dan perikanan bagi warga Makmakerbo.”
>
> — Letkol Kav John Alberth Suweny” Dandim 1708/BN.
>
> ▮▮▮▮▮▮▮▮▮▮▮▮

Analisis Kontekstual: Paradigma Baru Pertahanan

Secara strategis, pembangunan Yonif TP 858/MSB mencerminkan pergeseran paradigma TNI di Papua, dari pendekatan keamanan konvensional menuju pendekatan teritorial fungsional. Dengan menyandang nama “Batalyon Pembangunan,” satuan ini dirancang untuk menjadi katalisator ekonomi regional. Integrasi prajurit dalam sektor produktif seperti pertanian dan perikanan merupakan langkah preventif sekaligus solutif dalam mengatasi disparitas kesejahteraan. Dukungan penuh dari otoritas adat seperti Marga Rejauw memberikan legitimasi sosial yang sangat kuat, menciptakan model kolaborasi “tiga tungku” (pemerintah, adat, dan keamanan) yang ideal bagi pembangunan di Bumi Cenderawasih.

Fajar Kesejahteraan

Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto, menegaskan bahwa hasil rapat adat ini adalah fondasi paling kuat dalam percepatan pembangunan. Seiring matahari terbenam di ufuk Biak, makan bersama yang digelar menjadi penutup yang manis—sebuah perjamuan kasih yang menandakan bahwa pembangunan kini tidak lagi berjalan di atas paksaan, melainkan di atas hamparan karpet merah kearifan lokal.

Di tanah Makmakerbo, pembangunan kini tak hanya memiliki bentuk, tetapi juga memiliki jiwa. Ketika suara alam dan derap langkah pembangunan mulai beriringan, kita diingatkan bahwa kemajuan sejati adalah saat sebuah bangsa berani menanam benih harapan di atas tanah yang diberkati oleh restu leluhur.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe