Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupKabupaten MappiKabupaten MimikaNasionalPolkam

Di Tengah Krisis, Harapan Itu Dibuka: Wabup Mimika Resmikan Lokakarya Pendidikan Keuskupan Timika

92
×

Di Tengah Krisis, Harapan Itu Dibuka: Wabup Mimika Resmikan Lokakarya Pendidikan Keuskupan Timika

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID – Di sebuah ruang pertemuan yang tenang di Hotel Swiss-Belinn Mimika, Selasa (14/4/2026), percakapan tentang masa depan perlahan menemukan nadanya. Bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah panggilan untuk menata ulang arah pendidikan di Tanah Papua—yang hari ini terasa semakin rapuh, namun tetap menyimpan harapan.

Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, membuka secara resmi Lokakarya Pendidikan Keuskupan Timika, sebuah forum reflektif yang mempertemukan gereja, pemerintah, dan dunia industri dalam satu meja pencarian solusi. Tema yang diusung pun terasa berat sekaligus jujur: “Membangun Kembali Pendidikan Katolik di Tanah Papua, Menemukan Terobosan di Tengah Krisis.”

Example 300x600

Di hadapan peserta yang terdiri dari para guru, kepala sekolah, pastor, hingga pimpinan tarekat, Kemong tidak sekadar memberi sambutan normatif. Ia mengajak semua yang hadir untuk melihat kenyataan apa adanya—tanpa ilusi.

╔════════════════════════════════════╗
“Kita lihat masa lalu pendidikan cukup baik dan kami dulu meningkatkan pendidikan dengan penuh tanggung jawab. Tapi kita lihat saat ini untuk OAP bahkan non OAP yang kurang mampu masih belum mendapatkan pendidikan yang baik, dan langkah Keuskupan hari ini saya ucapkan terima kasih.”
╚════════════════════════════════════╝

Pernyataan itu menggema pelan, seolah menjadi cermin yang memantulkan kegelisahan kolektif. Pendidikan yang dahulu menjadi jalan harapan, kini justru menyisakan jurang—terutama bagi mereka yang berada di pinggiran.

Namun forum ini tidak berhenti pada keluhan. Harapan justru diletakkan pada hasil-hasil konkret yang diharapkan lahir dari diskusi tiga hari tersebut. Wabup Kemong menegaskan pentingnya sinergi semua pihak untuk merumuskan kebijakan yang lebih berpihak.

╔════════════════════════════════════╗
“Saya harap dengan koordinasi semua pihak wajah pendidikan di Mimika bisa lebih baik lagi, dengan adanya lokakarya ini kami harap juga dapat memberikan dampak pada kebijakan yang akan kita ambil ke depan.”
╚════════════════════════════════════╝

Sementara itu, Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, membawa percakapan ke dimensi yang lebih dalam—bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan jiwanya di tengah tuntutan zaman.

╔════════════════════════════════════╗
“Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang utuh, bukan sekadar tenaga kerja.”
╚════════════════════════════════════╝

Baginya, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi perjalanan membentuk karakter, moral, dan nilai kemanusiaan yang tak boleh tergerus oleh arus pragmatisme.

Ketua panitia, Romo J. Sudrijanta, SJ, menambahkan bahwa lokakarya yang berlangsung pada 14–16 April 2026 ini diikuti sekitar 120 peserta dari berbagai unsur pendidikan Katolik di Papua. Mereka datang dengan satu tujuan: mencari jalan keluar.

╔════════════════════════════════════╗
“Kami berkumpul untuk refleksi bersama dan mencari terobosan baru karena kondisi pendidikan di Papua belum semakin baik. Harapannya dari sini lahir gagasan untuk memperbaiki sekolah-sekolah YPPK di Tanah Papua.”
╚════════════════════════════════════╝

Peserta yang hadir bukan hanya representasi institusi, tetapi juga saksi dari realitas pendidikan di lapangan—yang setiap hari berhadapan dengan keterbatasan, ketimpangan, dan harapan yang sering kali tertunda.

Analisis Kontekstual
Lokakarya ini hadir di tengah tantangan serius pendidikan di Papua, di mana kesenjangan akses dan kualitas masih menjadi persoalan struktural. Keterlibatan Keuskupan Timika bersama pemerintah daerah dan PT Freeport Indonesia menunjukkan bahwa penyelesaian krisis pendidikan tidak bisa lagi berjalan parsial. Diperlukan pendekatan kolaboratif lintas sektor yang tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia, nilai pendidikan, dan keberpihakan terhadap kelompok rentan—terutama Orang Asli Papua (OAP) dan masyarakat kurang mampu.

Pada akhirnya, dari ruang pertemuan itu, tidak hanya lahir diskusi—tetapi juga harapan yang pelan-pelan dirajut kembali. Sebab di tanah yang penuh tantangan ini, pendidikan bukan sekadar program kerja, melainkan janji masa depan yang harus ditepati.

Example 300250