MEDAN | LINTASTIMOR.ID – Di balik angka pengangguran, selalu ada cerita tentang harapan yang tertunda. Ada anak muda yang menyimpan ijazah tanpa kepastian pekerjaan, ada kepala keluarga yang terus mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan ada warga yang memiliki kemauan bekerja, tetapi belum menemukan keterampilan serta kesempatan yang tepat.
Di tengah realitas itu, Polrestabes Medan mencoba menghadirkan pendekatan berbeda. Polisi tidak hanya berdiri di garis depan penegakan hukum, tetapi juga melangkah ke ruang-ruang sosial, mendekati masyarakat, dan membuka jalan bagi mereka yang sedang berjuang mencari pekerjaan.
Melalui program Polisi Peduli Pengangguran (Poliran), Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr Jean Calvijn Simanjuntak mengunjungi Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Medan, Kamis (29/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari implementasi program prioritas Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto. Dalam kesempatan itu, sebanyak 64 pencari kerja yang telah menyelesaikan pelatihan dilantik, sementara 30 pencari kerja lainnya memulai tahapan pelatihan keterampilan.
Bagi puluhan peserta tersebut, kegiatan ini bukan hanya seremoni pelantikan atau pembukaan pelatihan. Ada sesuatu yang lebih besar sedang dibangun: kesempatan untuk mengubah keterbatasan menjadi kemampuan, dan kemampuan menjadi pintu menuju kehidupan yang lebih baik.
Ketika Pengangguran Menjadi Persoalan Bersama
Dalam sambutannya, Calvijn menempatkan persoalan pengangguran dalam hubungan yang lebih luas dengan pendidikan, kemiskinan, dan potensi gangguan keamanan masyarakat.
Menurutnya, persoalan sosial tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan penegakan hukum. Diperlukan langkah pencegahan yang menyentuh akar persoalan, termasuk membuka akses keterampilan dan kesempatan kerja bagi masyarakat.
“Persoalan besar yang kita hadapi adalah pendidikan, kemiskinan, dan pengangguran. Dengan mengurangi pengangguran, kita berharap dapat menekan penyalahgunaan narkoba dan kejahatan jalanan.”
— Kombes Pol Dr Jean Calvijn Simanjuntak, Kapolrestabes Medan.
Pernyataan tersebut menggambarkan cara pandang bahwa keamanan masyarakat tidak semata-mata dibangun melalui patroli, penindakan, dan proses hukum. Kesempatan memperoleh pekerjaan, pendidikan keterampilan, serta kemandirian ekonomi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Program Poliran sendiri mulai dijalankan sejak 15 Agustus 2026. Polrestabes Medan kemudian mengembangkan pemetaan pencari kerja melalui jajaran kepolisian sektor (polsek), agar masyarakat yang membutuhkan pelatihan dapat teridentifikasi secara lebih terarah.
Langkah itu berlanjut pada 15 Oktober 2026, ketika Polrestabes Medan mengundang Balai Latihan Kerja (BLK) dan BBPVP untuk melakukan pemetaan pencari kerja. Tujuh hari kemudian, tepatnya 22 Oktober 2026, kerja sama dengan BBPVP Medan dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Medan ditandatangani.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa program ini tidak berhenti pada gagasan, tetapi mulai diterjemahkan melalui pendataan, kemitraan, dan penyelenggaraan pelatihan.
191 Warga, 94 Kesempatan Pelatihan
Angka-angka yang disampaikan Kapolrestabes Medan memperlihatkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap akses pelatihan kerja.
Hingga pelaksanaan kegiatan tersebut, sebanyak 191 warga telah terdata dalam program Poliran. Dari jumlah itu, 94 orang telah mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan.
Sebanyak 64 orang telah menyelesaikan pelatihan, sedangkan 30 orang lainnya masih menjalani proses pembelajaran. Sementara itu, 97 warga lainnya masih menunggu giliran untuk memperoleh kesempatan yang sama.
Angka tersebut menjadi gambaran bahwa kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada pendataan. Ada pekerjaan lanjutan yang harus disiapkan agar warga yang sudah teridentifikasi benar-benar memperoleh akses pelatihan.
Polrestabes Medan pun berencana kembali merekrut pencari kerja untuk mengikuti gelombang pelatihan berikutnya.
Calvijn berharap program tersebut menjangkau lebih banyak warga, terutama mereka yang membutuhkan keterampilan praktis untuk memasuki dunia kerja.
Namun, keterampilan saja belum cukup. Seseorang yang telah menyelesaikan pelatihan tetap membutuhkan jembatan untuk bertemu dengan dunia usaha dan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
Karena itu, Polrestabes Medan juga merencanakan penyelenggaraan bursa kerja atau job fair.
“Ke depan, kami juga akan membuka bursa kerja atau job fair. Harapannya, warga tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga memiliki akses untuk memperoleh pekerjaan.”
— Kombes Pol Dr Jean Calvijn Simanjuntak.
Rencana tersebut menjadi bagian penting dari kesinambungan program. Sebab, keberhasilan pelatihan idealnya tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang lulus, tetapi juga dari seberapa jauh keterampilan yang diperoleh dapat mengantarkan mereka memasuki dunia kerja.
BBPVP, Ruang Mengubah Keterampilan Menjadi Masa Depan
Di sisi lain, BBPVP Medan memiliki peran strategis dalam memastikan peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga kesiapan menghadapi tuntutan dunia kerja.
Kepala BBPVP Medan, Amran, ST, menjelaskan bahwa pelatihan vokasi dirancang untuk membangun dua kemampuan sekaligus, yakni keterampilan teknis dan kemampuan nonteknis atau soft skill.
Menurutnya, peserta harus mengikuti seluruh tahapan pelatihan sejak hari pertama hingga selesai. Kedisiplinan, kesungguhan, dan konsistensi menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kompetensi.
Pelatihan juga tidak dapat disusun hanya berdasarkan keinginan peserta. Kebutuhan pasar kerja dan peluang penyerapan tenaga kerja harus menjadi pertimbangan utama.
“Pelatihan sebaiknya tidak hanya berdasarkan keinginan peserta, tetapi juga disesuaikan dengan peluang dan kebutuhan pasar kerja. Setelah pelatihan, peserta akan mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikasi.”
— Amran, ST, Kepala BBPVP Medan.
Penjelasan Amran memperlihatkan bahwa pendidikan vokasi memiliki orientasi yang lebih luas daripada sekadar mengajarkan seseorang mengoperasikan peralatan atau menyelesaikan pekerjaan teknis.
Ada standar kompetensi yang harus dipenuhi, ada proses evaluasi, dan ada sertifikasi yang menjadi pengakuan terhadap kemampuan peserta.
Pelatihan dapat dilaksanakan di lingkungan BBPVP, melibatkan keluarga, maupun langsung di tengah masyarakat sesuai kebutuhan. Dengan demikian, model pelatihan dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta dan kebutuhan lingkungan kerja.
Bagi lulusan yang telah menyelesaikan pelatihan, BBPVP juga membuka peluang untuk mencari pekerjaan secara mandiri maupun memanfaatkan jaringan kelembagaan yang dimiliki, termasuk melalui Apindo.
Bahkan, BBPVP Medan merencanakan pelatihan mekanik dengan menggandeng Indako sebagai bagian dari pengembangan keterampilan yang memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan dunia usaha.
Program vokasi ini juga diarahkan untuk membantu masyarakat yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK), baik di Kota Medan maupun sejumlah wilayah di Sumatera Utara.
Dari Barista hingga Operator Forklift
Salah satu kekuatan BBPVP Medan terletak pada keragaman program pelatihan yang disediakan. Berbagai kejuruan dirancang untuk menjawab kebutuhan sektor jasa, industri, konstruksi, hingga perdagangan.
Di bidang pariwisata, misalnya, tersedia sembilan program pelatihan yang membuka peluang bagi peserta untuk memasuki industri perhotelan, restoran, perjalanan wisata, dan layanan kebugaran.
Program tersebut meliputi barista, restaurant attendant, commercial cookery, commis pastry, bakery, housekeeping, front office, spa and therapist, serta tour guide.
Sektor pariwisata menjadi salah satu ruang yang membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan pelayanan, ketelitian, kreativitas, dan kemampuan berkomunikasi.
Di bidang bangunan, BBPVP Medan menyediakan delapan program pelatihan, yakni surveyor, AutoCAD, SketchUp, cabinet maker, kriya kayu, Archicad, Revit, dan finishing kayu.
Kejuruan ini memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan teknis yang berkaitan dengan pekerjaan konstruksi, desain, pengolahan kayu, serta penyelesaian bangunan.
Sementara itu, enam program pelatihan lainnya disediakan untuk mendukung kebutuhan sektor industri dan jasa. Program tersebut meliputi servis sepeda motor konvensional, pemasaran digital (digital marketing), pengelasan, kelistrikan, Hinode, dan operator forklift.
Keberagaman program tersebut memperlihatkan bahwa kesempatan kerja dapat dibangun melalui banyak jalur. Tidak semua orang harus memasuki pekerjaan formal di belakang meja. Ada yang dapat tumbuh melalui keterampilan mekanik, industri pengelasan, pelayanan pariwisata, pemasaran digital, maupun pengoperasian peralatan industri.
Di sinilah pendidikan vokasi menemukan relevansinya: mempertemukan potensi individu dengan kebutuhan nyata dunia kerja.
Polisi dan Masa Depan Kemandirian Masyarakat
Program Poliran merupakan bagian dari sejumlah kegiatan prioritas yang dijalankan Polrestabes Medan. Selain Polisi Peduli Pengangguran, terdapat pula Polisi Peduli Pendidikan, Polisi Peduli Pangan, Polisi Peduli Lingkungan, Subuh Keliling, serta berbagai kegiatan sosial dan pendekatan langsung kepada masyarakat.
Melalui rangkaian program tersebut, kepolisian berupaya memperluas ruang pengabdian, tidak hanya dalam urusan keamanan dan ketertiban, tetapi juga dalam menjawab persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Pendekatan ini menempatkan kepolisian sebagai salah satu unsur yang dapat mempertemukan kebutuhan warga dengan sumber daya yang tersedia di lingkungan pemerintah, lembaga pelatihan, dan dunia usaha.
Meski demikian, keberlanjutan program akan sangat ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan, kualitas pelatihan, keterhubungan dengan kebutuhan industri, serta tersedianya kesempatan kerja bagi para lulusan.
Sebab, tujuan akhir dari pelatihan bukan hanya menghasilkan peserta yang memiliki sertifikat kompetensi. Lebih dari itu, keterampilan tersebut harus membuka peluang bagi seseorang untuk memperoleh penghasilan, menopang keluarga, dan membangun masa depan secara mandiri.
Pada akhirnya, di balik 64 peserta yang telah menyelesaikan pelatihan dan 30 orang yang sedang memulai perjalanan baru, terdapat harapan yang sama: mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan hidup lebih bermartabat.
Di Medan, melalui Poliran dan kolaborasi bersama BBPVP, sebuah pesan sedang dibangun bahwa menjaga keamanan tidak selalu dimulai dari tindakan penegakan hukum. Terkadang, langkah pencegahan justru dimulai dengan membuka pintu pelatihan, memberikan keterampilan, dan menghadirkan kesempatan bagi mereka yang ingin bekerja.
Karena ketika seseorang memperoleh pekerjaan, yang tumbuh bukan hanya pendapatan. Ada harga diri yang kembali menemukan tempatnya, keluarga yang memiliki harapan, dan masyarakat yang memperoleh kesempatan untuk melangkah lebih jauh.


















