ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Di sebuah sudut Fatubenao A, Atambua, ketika pagi membuka hari dan anak-anak mulai belajar mengenal dunia, ada pengabdian yang tumbuh dari ruang sederhana. Bukan gedung megah atau bantuan besar yang menjadi titik awalnya, melainkan kepedulian seorang anggota polisi bersama istrinya, yang rela menyisihkan sebagian penghasilan demi membuka pintu pendidikan bagi anak-anak usia dini.
Di wilayah perbatasan Indonesia dan Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL), langkah itu mengambil bentuk nyata melalui PAUD Cahaya Anfaril, lembaga pendidikan gratis yang didirikan AIPDA Antonius Manek Nesi, S.IP., Kanit Bhabinkamtibmas Satuan Binmas Polres Belu.
Pada Selasa, 27 Oktober 2026, sekitar pukul 08.00 WITA, Anton—sapaan akrabnya—memantau kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan yang dirintisnya di Fatubenao A, Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Di tempat itu, sekitar 25 anak memperoleh kesempatan belajar tanpa dipungut biaya. Tiga orang tutor mendampingi mereka dalam proses pembelajaran, membantu anak-anak mengenal pengetahuan dasar, membangun kemampuan bersosialisasi, serta mengembangkan potensi sesuai tahap pertumbuhan mereka.
Bagi sebagian orang, mendirikan lembaga pendidikan mungkin membutuhkan dukungan modal dan fasilitas yang memadai. Namun, bagi Anton dan istrinya, langkah itu dimulai dari keputusan sederhana: menyisihkan sebagian gaji untuk memastikan anak-anak di lingkungan sekitar memiliki kesempatan belajar sejak dini.
Pendidikan yang tumbuh dari kepedulian
PAUD Cahaya Anfaril mulai beroperasi pada Agustus 2026. Lembaga ini didirikan secara pribadi sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan anak usia dini, terutama agar kesempatan belajar dapat dijangkau masyarakat tanpa dibebani biaya pendidikan.
Kepada Humas Polres Belu, Anton menjelaskan bahwa kehadiran PAUD tersebut merupakan upaya untuk memberikan ruang belajar bagi anak-anak di lingkungan sekitar.
Pendidikan pada usia dini memiliki peran penting dalam membangun fondasi perkembangan anak. Pada tahap ini, mereka mulai mengenal lingkungan, belajar berinteraksi dengan teman sebaya, mengembangkan bahasa, serta menumbuhkan rasa ingin tahu dan kreativitas.
Kesempatan belajar yang baik sejak awal diharapkan membantu anak-anak mempersiapkan diri sebelum memasuki pendidikan dasar.
“Pendidikan anak usia dini memiliki peran penting dalam membentuk fondasi perkembangan anak sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar. Karena itu, ketersediaan layanan pendidikan yang mudah dijangkau dan terjangkau bagi masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.”
— AIPDA Antonius Manek Nesi, Kanit Bhabinkamtibmas Satuan Binmas Polres Belu
Di balik kegiatan belajar mengajar itu, PAUD Cahaya Anfaril menyimpan cerita tentang komitmen yang dibangun dari rumah tangga sederhana. Tidak ada donatur tetap yang menjadi penopang utama operasionalnya. Untuk sementara, kebutuhan lembaga masih mengandalkan dana pribadi Anton dan istrinya.
PAUD Cahaya Anfaril juga telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) 3009260017905 sebagai identitas administrasi lembaga. Legalitas tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya pengelola untuk mendukung keberlangsungan kegiatan yang telah berjalan.
Ketika gaji menjadi jalan bagi harapan
Setiap lembaga pendidikan membutuhkan biaya agar kegiatan belajar dapat terus berlangsung. Ada kebutuhan operasional, perlengkapan pembelajaran, dan berbagai keperluan yang harus dipenuhi agar anak-anak dapat belajar dengan baik.
Bagi Anton dan istrinya, kebutuhan tersebut menjadi tanggung jawab yang mereka pikul bersama. Sang istri bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Belu. Dari penghasilan yang mereka terima, sebagian disisihkan untuk membiayai operasional PAUD Cahaya Anfaril.
Keputusan itu bukan berarti semua kebutuhan telah terpenuhi dengan mudah. Tanpa donatur tetap, keberlangsungan kegiatan masih bergantung pada kemampuan keluarga tersebut mengalokasikan penghasilan mereka.
Namun, Anton mengaku tetap berusaha menjaga agar kegiatan belajar anak-anak dapat berjalan.
“Kami belum ada donatur tetap, kami betul-betul dari dana pribadi. Jadi, saya dan istri bersepakat sebagian dari gaji kami untuk membiayai anak-anak di PAUD ini. Kami percaya bahwa ketika kita membantu orang itu dengan ikhlas, pasti Tuhan buka berkat yang luar biasa untuk kami, kami percaya itu. Sekalipun kami bukan orang kaya, tetapi untuk biaya operasional setiap hari untuk anak-anak PAUD itu ada.”
— AIPDA Antonius Manek Nesi
Bagi Anton, pengabdian tidak berhenti pada tugas menjaga keamanan dan membangun kedekatan antara polisi dengan masyarakat. Ada tanggung jawab sosial yang dapat diwujudkan melalui tindakan langsung, termasuk membantu anak-anak memperoleh akses pendidikan.
Ia memandang kepedulian terhadap pendidikan usia dini sebagai bagian dari tanggung jawab moral untuk ikut mempersiapkan generasi masa depan.
“Bagi kami, kepedulian terhadap pendidikan anak usia dini merupakan bentuk pengabdian dan tanggung jawab moral agar anak-anak dapat memperoleh kesempatan belajar sejak dini tanpa terbebani biaya pendidikan, sekaligus membantu mempersiapkan generasi masa depan yang cerah untuk anak-anak.”
— AIPDA Antonius Manek Nesi
Kata-kata itu menggambarkan alasan di balik upaya yang dijalankannya bersama sang istri. Pendidikan bukan hanya urusan lembaga formal atau tanggung jawab pemerintah. Kepedulian keluarga dan masyarakat juga dapat mengambil peran dalam membuka kesempatan belajar, terutama bagi anak-anak yang sedang membangun fondasi masa depannya.
Pengabdian polisi di luar tugas seragam
Di Kabupaten Belu, wilayah yang berbatasan langsung dengan RDTL, keberadaan PAUD Cahaya Anfaril menjadi contoh inisiatif masyarakat yang berangkat dari kebutuhan di lingkungan terdekat.
Langkah Anton memperlihatkan bahwa kehadiran anggota Polri di tengah masyarakat dapat diwujudkan melalui beragam bentuk pengabdian. Selain menjalankan fungsi kepolisian, ia mengambil bagian dalam upaya sosial yang menyentuh kehidupan keluarga dan masa depan anak-anak.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan yang dikutip dalam kegiatan ini, yakni “Polisi Bersama Masyarakat”: kehadiran polisi tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan ketertiban, tetapi juga dengan upaya membangun hubungan yang dekat, menumbuhkan kepedulian, dan mendukung kehidupan masyarakat.
Meski demikian, keberlangsungan PAUD Cahaya Anfaril tetap membutuhkan dukungan yang lebih luas. Partisipasi masyarakat, perhatian pemangku kepentingan, dan dukungan terhadap kebutuhan pendidikan dapat membantu menjaga agar pelayanan gratis tersebut terus berjalan.
Inisiatif pribadi seperti yang dilakukan Anton juga tidak menghapus pentingnya peran pemerintah dan pihak terkait dalam memperluas akses pendidikan anak usia dini. Justru, kerja bersama berbagai unsur diperlukan agar kesempatan belajar dapat menjangkau lebih banyak anak.
Cahaya kecil untuk masa depan perbatasan
Di PAUD Cahaya Anfaril, masa depan tidak dibicarakan melalui kata-kata besar. Ia dibangun perlahan, melalui kegiatan belajar, interaksi anak-anak, pendampingan para tutor, dan komitmen untuk mempertahankan layanan pendidikan gratis.
Sekitar 25 anak kini mendapatkan kesempatan untuk memulai perjalanan pendidikan mereka di tempat itu. Bagi mereka, ruang belajar tersebut merupakan bagian dari pengalaman awal mengenal pengetahuan, persahabatan, dan lingkungan di luar rumah.
Bagi Anton dan istrinya, setiap penghasilan yang disisihkan menjadi bagian dari usaha menjaga kesempatan itu tetap terbuka.
Perjalanan PAUD Cahaya Anfaril tentu masih menghadapi tantangan, terutama dalam memenuhi kebutuhan operasional secara berkelanjutan. Namun, inisiatif ini telah menunjukkan bahwa kepedulian dapat dimulai dari lingkungan sendiri, tanpa harus menunggu seseorang memiliki kekayaan berlimpah.
Di perbatasan Indonesia dan Timor-Leste, kisah ini meninggalkan pesan sederhana: masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar fasilitas yang tersedia, tetapi juga oleh kesediaan orang-orang di sekitarnya untuk membuka jalan.
Dan di Fatubenao A, salah satu jalan itu sedang dirintis melalui PAUD Cahaya Anfaril—dengan pengabdian, sebagian gaji, dan harapan agar anak-anak memperoleh kesempatan tumbuh serta belajar dengan lebih baik.


















