Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalOtomotifPeristiwaPolkamTeknologi

Yang Mendarat di Jack Ukat Bukan Sekadar Pesawat, Tetapi Harapan Sebuah Daerah”

61
×

Yang Mendarat di Jack Ukat Bukan Sekadar Pesawat, Tetapi Harapan Sebuah Daerah”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KEFAMENANU |LINTASTIMOR.ID– Tepat pukul 10.55 WITA, Rabu (15/7/2026), langit Bumi Salu Miomaffo-Kuluan Maubes seolah sedang menulis sejarahnya sendiri. Dari ufuk timur, sebuah pesawat jenis Cessna 208B Grand Caravan EX perlahan menurunkan ketinggiannya, sebelum akhirnya menyentuh landasan Bandara Jack Ukat Kefamenanu dengan mulus.

Tepuk tangan dan sorak sukacita pun pecah. Ribuan warga yang sejak pagi memadati area bandara menyaksikan momen itu dengan mata berbinar. Sebagian mengabadikannya melalui telepon genggam, sebagian lainnya hanya berdiri memandang, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun dari peristiwa bersejarah tersebut.

Example 300x600

Pesawat milik Kefa Air yang lepas landas dari Bandara El Tari Kupang itu dikemudikan oleh Pilot Capt. Judha Ardiansyah bersama Copilot Capt. Nuruddin. Dengan kapasitas maksimal 12 penumpang, penerbangan perdana ini bukan sekadar mengangkut manusia, tetapi juga membawa optimisme baru bagi masa depan Kabupaten Timor Tengah Utara.

Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, S.Ip., M.A., yang hadir langsung dalam penyambutan, menyebut momen tersebut sebagai tonggak penting bagi daerah perbatasan.

“Hari ini bukan sekadar pendaratan sebuah pesawat di Bandara Jack Ukat. Hari ini adalah pendaratan harapan masyarakat TTU yang selama bertahun-tahun mendambakan konektivitas udara yang lebih baik,” ujar Yosep.

Ia menambahkan, ketika roda pesawat menyentuh landasan Jack Ukat, sesungguhnya yang ikut mendarat adalah semangat baru bagi masyarakat perbatasan.

“Yang tiba hari ini bukan hanya sebuah pesawat, tetapi juga harapan, peluang, dan keyakinan bahwa daerah perbatasan mampu tumbuh sejajar dengan daerah lain di Indonesia,” katanya.

Suasana penyambutan berlangsung meriah dan sarat nuansa budaya. Rombongan kru pesawat dan para penumpang perdana disambut secara adat melalui ritual takanab, pengalungan selendang, serta penampilan drum band dan tarian tradisional.

Hadir dalam penyambutan tersebut Wakil Bupati TTU Kamilus Elu, S.H., Ketua DPRD TTU Kristoforus Efi, S.T., Plh Sekda TTU Trinimus Olin, S.Kom., M.T., jajaran Forkopimda, Kapolres TTU AKBP Eliana Papote, Dandim 1618/TTU Letkol Arm Bambang Heryanto, Kejari Kefamenanu, Dansatgas Pamtas RI-RDTL, Kepala Rutan Kelas II Kefamenanu, para pimpinan OPD, camat, serta berbagai tokoh masyarakat.

Turut hadir pula Bupati Belu Wilibrodus Lay, Ketua DPRD Belu Theodorus Manehitu Djuang, Mantan Bupati TTU Drs. Anton Amaunut, Mantan Wakil Bupati TTU Aloysius Kobes, Ketua Umum KADIN NTT Alexander Bobby Lianto, Ketua KADIN TTU FX Dwijajanto Tantry Sanak, serta sejumlah tokoh lainnya.

Pemandangan menarik terlihat dari kekompakan para pejabat lingkup Pemerintah Kabupaten TTU yang mengenakan kaos lengan panjang bercorak biru bergambar pesawat dengan tulisan “Selamat Datang di Bumi Salu Miomaffo-Kuluan Maubes.” Sebuah simbol sederhana yang menggambarkan kebanggaan dan optimisme masyarakat menyambut babak baru transportasi udara di wilayah tersebut.

Rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib dengan pengamanan ketat aparat TNI-Polri, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan. Sekitar pukul 13.00 WITA, pesawat Kefa Air kembali lepas landas menuju Bandara El Tari Kupang.

Secara kontekstual, pendaratan perdana Kefa Air memiliki arti strategis bagi pembangunan kawasan perbatasan. Selama ini, keterbatasan akses transportasi menjadi salah satu tantangan utama dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat di TTU. Kehadiran penerbangan perintis diharapkan mampu membuka ruang investasi, mempercepat distribusi barang dan jasa, serta memperkuat sektor perdagangan, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata.

Bagi TTU, pesawat yang mendarat hari itu adalah simbol keterhubungan. Sebuah penanda bahwa wilayah perbatasan tidak lagi dipandang sebagai halaman belakang pembangunan, melainkan beranda terdepan Indonesia.

“Kami menyambut Kefa Air bukan hanya sebagai moda transportasi, tetapi sebagai jembatan yang mendekatkan masyarakat perbatasan dengan berbagai peluang pembangunan. Daerah perbatasan tidak boleh terus berada di pinggir peta pembangunan,” ungkap Yosep.

Di bawah langit Kefamenanu yang cerah, pesawat itu akhirnya kembali mengudara. Namun jejak yang ditinggalkannya tetap tinggal di hati masyarakat.

Sebab hari itu, yang mendarat di Bandara Jack Ukat bukan sekadar sebuah pesawat berkapasitas 12 penumpang. Yang ikut mendarat adalah mimpi-mimpi lama yang perlahan menemukan sayapnya.

“Pesawat ini mungkin hanya berkapasitas 12 penumpang, tetapi ia membawa muatan yang jauh lebih besar: harapan, mimpi, dan keyakinan bahwa Bumi Salu Miomaffo-Kuluan Maubes tidak pernah berjalan sendiri menuju kemajuan.”

Dan ketika pesawat itu menghilang di balik cakrawala Timor, masyarakat TTU seakan memahami satu hal: bahwa setiap pendaratan di tanah perbatasan selalu membawa kabar tentang masa depan yang sedang mendekat.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe