Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwa

Tepuk Jurnalis Menggema, Mimpi Wartawan Muda Menyala di Kefamenanu

23
×

Tepuk Jurnalis Menggema, Mimpi Wartawan Muda Menyala di Kefamenanu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KEFAMENANU |LINTASTIMOR.ID  — Siang itu, aula SMA Negeri 2 Kefamenanu tak hanya menjadi ruang belajar. Di antara suara tepuk tangan, seruan penuh semangat, dan wajah-wajah muda yang menyimpan rasa ingin tahu, benih-benih jurnalistik mulai menemukan tempatnya untuk tumbuh. Sabtu (10/10/2026), puluhan siswa-siswi menyelami dunia jurnalistik dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), dipandu wartawati Jude D’Lorenzo Taolin.

Pukul 13.00 WITA, kegiatan dimulai. Namun, suasana yang semula berada dalam bingkai pembelajaran formal perlahan berubah menjadi ruang perjumpaan yang hidup antara pengalaman seorang wartawati dan keberanian anak-anak muda untuk mengenal dunia di balik sebuah berita.

Example 300x600

Waktu yang tersedia bahkan terasa tak cukup menampung rasa ingin tahu peserta. Pertanyaan terus mengalir, gagasan saling bersahutan, sementara semangat belajar bertahan hingga sesi melampaui alokasi waktu yang telah ditentukan.

Sebelum memasuki materi, Jude menyampaikan apresiasi kepada Kepala SMAN 2 Kefamenanu, Arkadius Yosef Meomanu, S.Pd., beserta jajaran guru, pengurus OSIS, dan seluruh panitia LDK yang telah membuka ruang bagi pengembangan kemampuan jurnalistik di kalangan pelajar.

Baginya, memperkenalkan jurnalistik kepada generasi muda bukan sekadar mengajarkan cara merangkai kata. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan upaya menumbuhkan keberanian berpikir kritis, kepekaan membaca lingkungan, serta tanggung jawab menyampaikan informasi.

“Pertama-tama, saya ingin mengapresiasi pihak sekolah dan guru-guru hebat di sini yang sudah menginisiasi kegiatan luar biasa ini. Mengapa luar biasa? Karena kemampuan menulis dan berpikir kritis adalah modal utama anak muda untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga penggerak perubahan di tengah masyarakat,” ungkap Jude dalam sambutannya.

Pernyataan itu menjadi pintu masuk bagi sebuah pelajaran yang lebih luas: bahwa setiap anak muda sesungguhnya memiliki kesempatan untuk membaca zamannya, mengamati perubahan di sekitarnya, dan menyampaikan sesuatu yang bermakna melalui tulisan.

Ketika tepuk tangan menjelma semangat jurnalistik

Suasana semakin hangat ketika siswa-siswi SMAN 2 Kefamenanu menyambut kegiatan dengan lagu selamat datang. Kehangatan itu kemudian menjelma menjadi energi kolektif saat Jude mengajak peserta menyerukan yel-yel “Jurnalis Muda”, dipandu langsung oleh Ketua OSIS.

“Jurnalis Muda?” seru pemateri.

“Jujur, Kritis, Terpercaya!” jawab para peserta dengan penuh semangat.

Seruan itu disambut dengan tepuk tangan khas jurnalistik yang membuat suasana aula semakin bergairah.

“Prok, prok, prok! Cari Fakta!”

“Prok, prok, prok! Tulis Berita!”

“Prok, prok, prok! 5W 1H!”

Bagi sebagian orang, yel-yel mungkin hanya menjadi selingan untuk mencairkan suasana. Namun, di ruangan itu, setiap seruan membawa pesan sederhana tentang fondasi jurnalistik: mencari fakta, menyusun berita, dan memastikan informasi memiliki unsur yang jelas.

Di tengah keriuhan tersebut, pembelajaran menemukan bentuknya yang berbeda. Jurnalistik tidak hadir sebagai sekumpulan definisi yang harus dihafal, melainkan sebagai pengalaman yang melibatkan suara, gerak, keberanian, dan rasa ingin tahu.

Jude memahami bahwa untuk mendekatkan dunia jurnalistik kepada remaja, bahasa yang digunakan harus bersahabat dengan kehidupan mereka. Karena itu, ia tidak membangun jarak antara pemateri dan peserta. Ia memilih pendekatan santai, komunikatif, dan terbuka, seolah mengajak mereka memasuki dunia berita melalui pintu yang selama ini mungkin terasa asing.

“Hari ini, kita tidak akan belajar teori yang kaku atau menghafal rumus di dalam kelas. Kita akan membongkar rahasia bagaimana sebuah peristiwa di sekitar kita bisa disulap menjadi tulisan yang dibaca banyak orang, tajam, dan mencerahkan. Siap untuk menjadi jurnalis muda hari ini?” sapanya.

Pertanyaan itu tidak berhenti sebagai pembuka. Ia menjadi undangan bagi para peserta untuk mengambil bagian, menyampaikan pendapat, dan menguji pemahaman mereka sendiri.

Dari fakta sederhana menuju berita bermakna

Di hadapan para siswa, Jude menguraikan dasar-dasar jurnalistik dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian pelajar.

Ia memulai dari pengertian jurnalistik, kemudian memperkenalkan rumus 5W+1H—what, who, when, where, why, dan how—sebagai enam pertanyaan mendasar untuk membantu wartawan memahami sebuah peristiwa secara utuh.

Materi berlanjut pada struktur berita, mulai dari judul, teras berita atau lead, tubuh berita, hingga kaki berita. Para peserta juga diajak mengenali perbedaan antara fakta dan opini, dua hal yang kerap bersinggungan dalam arus informasi sehari-hari.

Di tengah derasnya informasi melalui media sosial, pemahaman tersebut menjadi semakin penting. Sebuah informasi yang menarik belum tentu benar, sementara sebuah peristiwa yang tampak sederhana dapat menjadi berita bermakna apabila ditulis berdasarkan fakta, disusun secara jelas, dan disampaikan secara bertanggung jawab.

Jude kemudian membawa peserta lebih dekat pada praktik jurnalistik melalui studi kasus yang bersumber dari fenomena nyata di sekitar kehidupan remaja. Mereka diajak melihat bahwa bahan berita tidak selalu harus ditemukan jauh dari lingkungan mereka.

Kegiatan sekolah, aktivitas organisasi, persoalan kebersihan, prestasi teman, hingga berbagai peristiwa di lingkungan tempat tinggal dapat menjadi bahan pemberitaan selama memiliki nilai berita dan didukung fakta yang dapat diperiksa.

Pesan pentingnya ialah seorang jurnalis tidak cukup hanya pandai menulis. Ia harus memiliki kepekaan untuk melihat sesuatu yang luput dari perhatian orang lain, keberanian untuk bertanya, serta kedisiplinan untuk membedakan informasi yang benar dari kabar yang belum terverifikasi.

Mario Lopes dan Nona Radja menguji keberanian

Pembelajaran mencapai tahap yang lebih menantang ketika teori harus dibuktikan melalui praktik.

Setelah sesi penyampaian materi dan tanya jawab, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok diminta menyusun judul dan draf berita berdasarkan rumus 5W+1H, kemudian mempresentasikan hasilnya di hadapan peserta lain.

Di sinilah suasana kelas berubah menjadi ruang kerja redaksi kecil. Para siswa tidak lagi sekadar mendengarkan penjelasan, tetapi mulai berhadapan langsung dengan tantangan memilih fakta, menyusun kalimat, menentukan judul, dan membangun alur berita.

Persaingan sehat terlihat di antara peserta, termasuk Mario Lopes dan Nona Radja, yang menunjukkan pemahaman terhadap materi melalui karya berita yang mereka susun.

Keberanian tampil di depan teman-teman menjadi bagian penting dari proses tersebut. Sebab, menulis berita bukan hanya perkara menemukan kata yang tepat, melainkan juga kemampuan mempertanggungjawabkan informasi dan menjelaskan bagaimana sebuah tulisan dibangun.

Latihan itu memperlihatkan bahwa pembelajaran jurnalistik dapat menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan lebih dari satu keterampilan sekaligus: literasi, komunikasi, kerja sama, ketelitian, dan kepemimpinan.

Dari lembar-lembar latihan sederhana, para peserta mulai mengenali bahwa sebuah berita yang baik tidak lahir hanya dari keinginan untuk bercerita. Ia membutuhkan fakta yang jelas, susunan yang teratur, dan tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan.

Ketika rasa ingin tahu melampaui batas waktu

Antusiasme peserta mendapat perhatian dari Wakil Ketua Panitia LDK, Vian Suni. Ia menilai tingginya keterlibatan siswa menjadi salah satu hal yang menonjol dalam pelaksanaan materi jurnalistik tersebut.

“Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti materi jurnalistik ini, sampai-sampai alokasi waktu kegiatan bisa bertambah hingga sesore ini. Kami sangat senang melihat semangat belajar mereka yang luar biasa,” ujar Vian.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak semata-mata diukur dari selesainya materi sesuai jadwal. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni ketika peserta terdorong untuk bertanya, mencoba, dan terus belajar setelah penjelasan diberikan.

Bagi panitia, pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan selama kegiatan LDK. Pengetahuan jurnalistik perlu menjadi bagian dari proses pembentukan karakter kepemimpinan dan budaya literasi di lingkungan sekolah.

“Harapan kami, materi yang disampaikan hari ini tidak berhenti di sini, tetapi bisa menjadi bekal kepemimpinan dan literasi yang bermanfaat bagi siswa-siswi SMAN 2 Kefamenanu ke depannya,” tambah Vian.

Harapan itu menempatkan jurnalistik dalam makna yang lebih luas. Pelajar yang terbiasa memeriksa fakta, mendengarkan berbagai sudut pandang, dan menyusun informasi secara bertanggung jawab memiliki bekal penting untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin dipenuhi arus informasi.

Dari aula sekolah menuju masa depan jurnalistik

Bagi Jude D’Lorenzo Taolin, tingginya rasa ingin tahu para peserta menjadi pengalaman yang menggembirakan. Ia melihat bahwa pendekatan yang santai dan terbuka mampu menciptakan suasana belajar yang membuat siswa tidak ragu menyampaikan pertanyaan.

“Puji Tuhan, banyak sekali peminat yang ingin belajar soal dunia jurnalistik. Artinya, anak-anak tidak bosan. Saya membawakan materi dengan santai dan tidak terlalu kaku. Saya tekankan bahwa kita di sini sama-sama belajar. Karena itu, anak-anak jadi berani bertanya lebih banyak dan rasa ingin tahunya tinggi sekali,” ungkap Jude.

Antusiasme tersebut bahkan berlanjut setelah sesi pembelajaran selesai. Sejumlah peserta bertukar nomor kontak dengan Jude untuk membuka kesempatan berdiskusi lebih lanjut mengenai langkah awal mengenal dan menekuni dunia jurnalistik.

Pertukaran kontak itu menjadi penanda bahwa pembelajaran tidak harus berakhir ketika peserta meninggalkan aula. Ada kemungkinan percakapan berlanjut, pertanyaan baru muncul, dan keberanian menulis tumbuh melalui proses belajar yang lebih panjang.

Di hadapan para jurnalis muda yang baru mulai mengenal dunia pemberitaan, Jude kemudian menyampaikan pesan penutup. Ia mengajak para siswa untuk tidak memandang kegiatan menulis sebagai beban sekolah, melainkan sebagai kesempatan untuk merekam peristiwa, mengembangkan pemikiran, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

“Harapan saya setelah kegiatan hari ini, adik-adik tidak lagi melihat menulis sebagai beban atau tugas sekolah yang membosankan. Menulis adalah cara kalian merekam sejarah, menyuarakan kebenaran, dan mengasah ketajaman berpikir,” pesannya.

Ia juga mengingatkan para peserta agar memulai latihan dari lingkungan terdekat, belajar menyaring informasi, tidak mudah mempercayai hoaks, dan berani menuangkan gagasan positif melalui tulisan.

“Mulailah melatih kepekaan dari lingkungan terdekat—dari kejadian di sekolah, di rumah, atau di lingkungan sekitar kalian. Jadilah anak muda yang bijak menyaring informasi, tidak mudah percaya hoaks, dan berani menuangkan gagasan positif lewat tulisan. Siapa tahu, dari ruangan ini lahir jurnalis-jurnalis hebat di masa depan!” tutup Jude.

Pesan itu seolah meninggalkan gema tersendiri di aula SMAN 2 Kefamenanu. Tepuk tangan boleh berhenti, yel-yel boleh mereda, dan kegiatan LDK pada hari itu boleh berakhir. Namun, keberanian untuk bertanya, ketekunan mencari fakta, dan keinginan menulis dengan jujur adalah bekal yang dapat terus dibawa pulang.

Sebab, perjalanan menjadi jurnalis tidak selalu dimulai dari ruang redaksi, kamera profesional, atau halaman utama sebuah media. Terkadang, perjalanan itu bermula dari sebuah aula sekolah, dari pertanyaan sederhana seorang siswa, dari selembar draf berita yang masih perlu diperbaiki, dan dari keberanian pertama untuk menyampaikan kebenaran melalui kata-kata.

Di Kefamenanu, Sabtu itu, benih-benih tersebut telah menemukan ruang untuk tumbuh. Masa depanlah yang kelak akan menjawab seberapa jauh mereka berkembang.

(*)

Example 300250
Penulis: Jude TaolinEditor: Agustinus Bobe