Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanKabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkam

Saat Polisi Menanam Alarm di Masa Depan Siswa

2
×

Saat Polisi Menanam Alarm di Masa Depan Siswa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID — Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika suara upacara mengikat halaman SMA Negeri 6 Mimika dalam satu barisan. Senin, 28 September 2026, sekitar pukul 07.20 WIT, para siswa berdiri dalam disiplin seragam sekolah. Di hadapan mereka, polisi membawa pesan yang jauh lebih panjang daripada sebuah amanat upacara: tentang masa depan yang bisa dijaga, tetapi juga bisa runtuh ketika salah memilih jalan.

Di tengah barisan itu berdiri Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Kasat Binmas) Polres Mimika AKP Budiman Sianturi sebagai pembina upacara.

Example 300x600

Bukan sekadar berbicara tentang aturan, Budiman membawa ruang sekolah memasuki realitas kehidupan remaja: tawuran, narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, penggunaan media sosial hingga keselamatan berlalu lintas.

Pesannya tegas.

Masa depan seorang pelajar tidak hanya ditentukan oleh nilai di ruang kelas, tetapi juga oleh keputusan-keputusan kecil yang dibuat ketika tidak ada guru yang melihat.

“Kami mengajak para siswa bersama-sama dengan polisi menjaga keamanan, baik di sekolah maupun di rumah. Ajak juga keluarga menjadi bagian dalam menjaga Kamtibmas,” kata Budiman dalam amanatnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya terdapat sebuah pesan sosial: keamanan bukan semata-mata urusan polisi. Ia tumbuh dari keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, dan pilihan setiap anak muda.

Ketika Masa Depan Berhadapan dengan Pilihan

Budiman mengingatkan para siswa agar tidak mendekati tawuran, narkoba, minuman keras maupun pergaulan bebas.

Bagi polisi, perilaku tersebut bukan hanya persoalan ketertiban sesaat. Ada masa depan yang dipertaruhkan.

Seorang pelajar yang terseret kekerasan dapat kehilangan kesempatan. Seorang remaja yang terjerat narkoba dapat menghadapi persoalan hukum dan sosial. Begitu pula penyalahgunaan minuman keras maupun pergaulan yang tidak sehat dapat membuka pintu bagi berbagai persoalan lain.

Karena itu, pesan yang disampaikan di halaman sekolah bukan sekadar larangan.

Ia adalah peringatan.

Ia adalah alarm.

Dan alarm itu ditujukan kepada generasi yang sedang berdiri di ambang masa depan.

Media Sosial, Ruang Digital yang Tak Pernah Tidur

Perhatian Budiman tidak berhenti pada perilaku di dunia nyata.

Media sosial juga menjadi bagian dari pesan Kamtibmas.

Para siswa diminta lebih bijaksana menggunakan ruang digital dan tidak menjadikannya tempat menyebarkan konten maupun perilaku yang dapat memicu persoalan sosial.

Di zaman ketika satu unggahan dapat bergerak lebih cepat daripada sebuah kabar dari mulut ke mulut, kehati-hatian menjadi bagian dari kecakapan hidup.

Jari yang menyentuh layar mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Tetapi akibat sebuah unggahan dapat tinggal jauh lebih lama.

Karena itu, literasi digital bagi pelajar tidak hanya menyangkut kemampuan menggunakan teknologi. Ia juga menyangkut kemampuan menahan diri, berpikir sebelum membagikan sesuatu, serta memahami konsekuensi dari apa yang ditinggalkan di ruang digital.

Helm, Disiplin Kecil yang Menjaga Nyawa

Pesan berikutnya membawa perhatian kembali ke jalan raya.

Para siswa yang mengendarai sepeda motor diminta menggunakan helm standar.

Pesannya sederhana, tetapi menyentuh persoalan keselamatan yang sangat dekat dengan kehidupan pelajar.

Helm bukan sekadar perlengkapan berkendara. Ia merupakan bagian dari ikhtiar melindungi kepala ketika risiko di jalan datang tanpa pemberitahuan.

Dalam konteks itu, kepatuhan berlalu lintas menjadi bagian dari pendidikan karakter: belajar menghormati aturan sebelum berhadapan dengan konsekuensi pelanggaran.

Dari Amanat Menjadi Tantangan

Ada cara berbeda yang dilakukan Budiman agar pesan Kamtibmas tidak berhenti ketika upacara selesai.

Ia memberikan sejumlah challenge kepada para siswa.

Tantangan tersebut digunakan untuk menguji daya ingat mereka terhadap materi Kamtibmas yang baru disampaikan.

Di titik itu, halaman sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat upacara.

Ia berubah menjadi ruang interaksi.

Pesan polisi diuji kembali melalui ingatan para siswa. Apa yang baru saja didengar tidak dibiarkan menguap bersama selesainya amanat.

Pendekatan tersebut membuat pendidikan Kamtibmas bergerak dari pola satu arah menuju keterlibatan siswa.

Sebab pesan yang diingat memiliki peluang lebih besar untuk dibawa pulang.

Polisi Masuk ke Sekolah, Pesan Pulang Bersama Siswa

Dalam kegiatan tersebut, Budiman hadir bersama personel Sat Binmas Polres Mimika, yakni Kanit Bintibsos Aipda Syamsir, Aipda Budiman, Brigpol Nixon Mehue, S.H., dan Briptu Indra Hutauruk.

Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya kepolisian membangun komunikasi dengan lingkungan pendidikan.

Budiman juga menyampaikan apresiasi kepada pihak SMA Negeri 6 Mimika yang memberikan kesempatan kepada kepolisian untuk hadir sekaligus menjadi pembina upacara.

Upacara berlangsung sekitar 50 menit dan berakhir pukul 08.10 WIT.

Namun, pesan yang dibawa pagi itu diharapkan tidak berakhir ketika barisan dibubarkan.

Sebab setelah bendera kembali tenang, siswa kembali ke kelas, dan halaman sekolah kembali lengang, kehidupan mereka tetap berjalan.

Di jalan pulang ada lalu lintas.

Di rumah ada keluarga.

Di lingkungan ada pergaulan.

Di tangan ada telepon genggam.

Dan di depan mata terbentang masa depan yang belum ditentukan.

Di situlah pesan Budiman menemukan maknanya: menjauhi tawuran, narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, serta menggunakan media sosial secara bijak bukan hanya tentang mematuhi nasihat polisi. Itu adalah cara seorang pelajar menjaga dirinya sendiri agar masa depan tidak dicuri oleh keputusan yang dibuat hari ini.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.id Editor: Agustinus Bobe