Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHiburanNasionalPeristiwa

Ribuan Jemaat Bersatu, Banti Merayakan Rumah Iman

1
×

Ribuan Jemaat Bersatu, Banti Merayakan Rumah Iman

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID — Pagi di Banti 2 seakan menemukan wajahnya yang lain.

Ribuan orang berkumpul. Pakaian adat dan atribut tradisional memberi warna pada suasana. Di antara kerumunan jemaat, tokoh gereja, tokoh adat, dan masyarakat setempat, sukacita mengalir dalam satu peristiwa yang telah lama dinantikan: peresmian Gereja Imanuel Kingmi Banti 2, Klasis Tembagapura.

Example 300x600

Sekitar 4.000 hingga 5.000 orang disebut menghadiri peresmian rumah ibadah tersebut di Banti 2, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.

Mereka datang bukan sekadar menyaksikan sebuah bangunan gereja diresmikan.

Ada rasa syukur yang hendak dirayakan. Ada kebersamaan yang ingin diteguhkan. Dan ada harapan agar gereja itu menjadi rumah iman yang terus hidup di tengah jemaat dan masyarakat.

Di tengah suasana penuh sukacita tersebut, Ketua Komisi II DPRK Kabupaten Mimika Dolfin Beanal menyampaikan rasa syukurnya atas rampungnya seluruh rangkaian peresmian.

“Saya pribadi mengucapkan syukur kepada Tuhan. Tuhan sungguh luar biasa karena seluruh rangkaian peresmian Gereja Imanuel Kingmi Banti 2 dapat berjalan dengan baik dan lancar,” kata Dolfin.

Ketika Gereja Menjadi Rumah Bersama

Bagi Dolfin, peresmian Gereja Imanuel Kingmi Banti 2 tidak berhenti sebagai sebuah seremoni.

Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kehidupan iman dan pelayanan jemaat di wilayah Banti.

Gereja diharapkan tidak hanya menjadi tempat umat berkumpul dalam ibadah, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan iman, merawat persaudaraan, dan membangun kehidupan bersama.

Harapan itu menemukan maknanya di tengah kehadiran ribuan warga yang memenuhi rangkaian peresmian.

Mereka datang dengan identitas dan latar kehidupan masing-masing, tetapi bertemu dalam satu ruang perayaan yang sama.

“Kami berharap gereja ini dapat terus menjadi tempat pertumbuhan iman, mempererat persaudaraan, serta menjadi berkat bagi masyarakat dan generasi yang akan datang,” ujar Dolfin.

Kalimat itu seperti menempatkan gereja bukan semata pada kemegahan bangunannya, melainkan pada kehidupan yang kelak tumbuh di dalamnya.

Sebab sebuah rumah ibadah pada akhirnya tidak hanya diukur dari dinding dan atapnya.

Ia hidup melalui doa, pelayanan, persaudaraan, dan keteladanan umat yang menjadikannya rumah iman.

Pakaian Adat, Sukacita, dan Identitas Banti

Peresmian berlangsung meriah.

Warga mengenakan pakaian adat dan atribut tradisional dalam berbagai rangkaian kegiatan. Warna-warni identitas budaya berpadu dengan suasana perayaan gerejawi.

Di antara kerumunan itu, wajah-wajah masyarakat Banti menghadirkan cerita tersendiri.

Ada jemaat yang datang untuk berdoa. Ada masyarakat yang hadir untuk merayakan. Ada pula tokoh-tokoh yang menyaksikan sebuah bagian penting dari perjalanan kehidupan gereja di kawasan Tembagapura.

Jumlah warga yang mencapai sekitar 4.000–5.000 orang memperlihatkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap peresmian tersebut.

Gereja dan masyarakat bertemu dalam satu perayaan.

Iman dan budaya berjalan beriringan.

Di situlah peresmian Gereja Imanuel Kingmi Banti 2 menemukan maknanya yang lebih luas: sebuah momentum keagamaan yang sekaligus memperlihatkan kuatnya ikatan sosial masyarakat.

Menjaga Rumah Iman untuk Masa Depan

Dolfin mengajak jemaat menjaga gereja tersebut sebagai ruang bersama.

Bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kehidupan sosial dan keagamaan yang semakin kuat.

“Kiranya gereja ini menjadi rumah bagi kita semua untuk bertumbuh dalam iman, menjaga persaudaraan, dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik,” katanya.

Harapan itu menjadi pesan penting setelah seluruh rangkaian peresmian selesai.

Sebab setelah kemeriahan berakhir, gereja akan kembali menjalankan fungsi utamanya: menjadi tempat umat datang membawa doa, pergumulan, syukur, dan harapan.

Di Banti 2, sebuah rumah ibadah telah diresmikan.

Namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana rumah itu terus dihidupkan oleh umatnya.

Bagaimana doa tetap bergema di dalamnya.

Bagaimana persaudaraan tetap dijaga.

Dan bagaimana generasi yang akan datang menemukan tempat untuk belajar bahwa iman bukan hanya tentang kata-kata, melainkan tentang kehidupan yang saling menguatkan.

Gereja Imanuel Kingmi Banti 2 kini berdiri bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai simbol harapan—tempat iman, budaya, persaudaraan, dan masa depan jemaat dipertemukan dalam satu rumah.

Example 300250