TIMIKA| LINTASTIMOR.ID — Pagi di SMP Negeri 6 Timika, Jumat, 25 September 2026, tidak hanya diisi suara pelajaran dan riuh langkah para siswa. Di ruang sekolah itu, perhatian diarahkan pada sesuatu yang sering tumbuh diam-diam di tubuh remaja: anemia.
Para siswi mengikuti pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb), sementara pesan tentang pentingnya makanan bergizi, kebersihan diri dan konsumsi tablet tambah darah (TTD) disampaikan dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika membawa Aksi Bergizi ke lingkungan sekolah bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial. Edukasi, pemeriksaan kesehatan dan pemberian TTD dirangkai menjadi satu gerakan untuk membangun kebiasaan sehat sejak usia remaja.
Di tengah aktivitas itu, pesan yang disampaikan sederhana, tetapi memiliki konsekuensi panjang: kesehatan remaja hari ini merupakan bagian dari kualitas generasi Mimika di masa depan.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Nelly Pangaribuan, mengatakan pencegahan anemia perlu dimulai sejak remaja karena tubuh pada fase pertumbuhan membutuhkan asupan gizi yang memadai.
“Remaja putri harus memperhatikan asupan makanan dan membiasakan diri mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran. Ini merupakan salah satu langkah untuk mencegah anemia,” ujar Nelly.
Anemia kerap datang tanpa suara. Tubuh tidak selalu menunjukkan tanda yang langsung dikenali sebagai masalah kesehatan. Namun ketika kadar hemoglobin rendah, seseorang dapat mengalami kelelahan, lemas, pusing hingga kesulitan berkonsentrasi.
Bagi pelajar, dampaknya tidak berhenti pada kondisi fisik. Tubuh yang mudah lelah dapat memengaruhi kemampuan mengikuti pelajaran dan menjalani aktivitas sekolah secara optimal.
Karena itu, Aksi Bergizi ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran sebelum persoalan kesehatan berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Nelly menekankan bahwa perilaku hidup sehat tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit.
Makanan bergizi, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta disiplin mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran merupakan kebiasaan sederhana yang dapat dibangun sejak bangku sekolah.
Pesan itu kemudian diterjemahkan dalam suasana belajar yang lebih interaktif. Para siswa tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka diberi kesempatan menjawab pertanyaan, berdiskusi, memperkenalkan diri, hingga menyampaikan kembali pengetahuan yang telah diterima.
Cara tersebut membuat edukasi kesehatan bergerak dari sekadar materi menjadi pengalaman.
Di sekolah, pengetahuan tentang anemia tidak berhenti pada istilah medis. Ia diperkenalkan sebagai bagian dari keseharian remaja—tentang apa yang dimakan, bagaimana menjaga tubuh, dan bagaimana mengenali pentingnya kesehatan bagi proses belajar.
Kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Tema yang diangkat, “Sekolah Bersih, Siswa Sehat, Prestasi Meningkat dan Aksi Bergizi Remaja Sehat Bebas Anemia,” mempertemukan dua ruang yang saling berkaitan: kesehatan dan pendidikan.
Sekolah menjadi tempat pengetahuan ditanamkan. Kesehatan menjadi modal agar pengetahuan itu dapat tumbuh.
Bagi remaja putri, perhatian terhadap anemia memiliki makna yang lebih panjang. Masa remaja merupakan periode penting pertumbuhan dan perkembangan. Karena itu, kecukupan gizi dan kebiasaan hidup sehat bukan hanya menyangkut kondisi tubuh hari ini, tetapi juga bagian dari investasi kesehatan pada fase kehidupan berikutnya.
Dinkes Mimika berharap pesan yang disampaikan di SMP Negeri 6 Timika tidak berakhir ketika kegiatan selesai.
Sebab perubahan perilaku tidak lahir dari satu kali penyuluhan. Ia tumbuh dari kebiasaan yang diulang—dari pilihan makanan di meja makan, kedisiplinan menjaga kebersihan, hingga kesediaan mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran.
Di situlah Aksi Bergizi menemukan maknanya.
Bukan sekadar pemeriksaan Hb. Bukan hanya pemberian tablet tambah darah. Melainkan upaya menanamkan kesadaran bahwa tubuh yang sehat adalah bagian dari perjalanan seorang pelajar mengejar pengetahuan, prestasi, dan masa depan.
Dari ruang sekolah di Timika, pesan itu sederhana: generasi sehat tidak lahir secara kebetulan, tetapi dibentuk dari kebiasaan yang dimulai sejak remaja.


















