Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Kabupaten MimikaKesehatanPeristiwa

Pangan Lokal Disiapkan Mengisi Piring Siswa, Pemkab Mimika Pilih Melangkah dengan Kajian Matang

55
×

Pangan Lokal Disiapkan Mengisi Piring Siswa, Pemkab Mimika Pilih Melangkah dengan Kajian Matang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Di tanah yang kaya akan hasil alam, harapan menghadirkan pangan lokal ke meja makan anak-anak sekolah mulai menemukan ruang untuk diwujudkan. Namun, Pemerintah Kabupaten Mimika memilih tidak tergesa-gesa. Di balik semangat memanfaatkan kekayaan pangan daerah, tersimpan satu komitmen yang tak ingin dikompromikan: memastikan setiap sajian tetap memenuhi kebutuhan gizi dan membawa manfaat terbaik bagi generasi masa depan.

Pemerintah Kabupaten Mimika membuka peluang memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai bagian dari menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski demikian, sebelum kebijakan tersebut diterapkan, pemerintah akan terlebih dahulu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program yang saat ini sedang berjalan.

Example 300x600

Wakil Bupati Mimika yang juga Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Mimika, Emanuel Kemong, menegaskan bahwa setiap perubahan menu harus melalui kajian yang cermat agar tujuan utama program, yakni pemenuhan gizi peserta didik, tetap terjaga.

“Pada prinsipnya kami mendukung setiap inovasi yang mampu meningkatkan pemanfaatan hasil pangan lokal. Namun untuk Mimika, kami ingin memastikan pelaksanaan program yang sedang berjalan benar-benar optimal sebelum melakukan penyesuaian terhadap menu makanan,” ujar Emanuel Kemong, Rabu (8/7/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas langkah Pemerintah Kabupaten Nabire yang mulai menerapkan menu tanpa nasi selama dua hari dalam sepekan dengan mengganti sumber karbohidrat menggunakan pangan lokal seperti ubi, singkong, dan keladi.

Menurut Emanuel, Mimika memiliki potensi pangan lokal yang cukup besar untuk mendukung kebijakan serupa apabila nantinya dipandang layak diterapkan. Namun, pemerintah juga harus memperhatikan budaya dan kebiasaan konsumsi para siswa agar menu yang disajikan tetap diterima dengan baik serta tidak mengurangi efektivitas program.

Karena itu, Satgas MBG akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program sebagai dasar dalam menentukan arah pengembangan menu di masa mendatang.

“Yang kami pikirkan bukan hanya jenis bahan makanannya, tetapi juga bagaimana anak-anak dapat menikmati setiap menu yang disajikan. Aspek penerimaan itu sama pentingnya agar tujuan program benar-benar tercapai,” tuturnya.

Secara kontekstual, wacana pemanfaatan pangan lokal dalam Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berkaitan dengan diversifikasi menu, tetapi juga membuka peluang memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Jika dikelola secara tepat, kebijakan tersebut dapat menghadirkan manfaat ganda, yakni meningkatkan kualitas gizi peserta didik sekaligus memperluas pasar bagi petani serta pelaku usaha pangan lokal di Mimika.

Emanuel menambahkan, apabila hasil evaluasi menunjukkan bahwa penggunaan pangan lokal mampu memenuhi standar gizi sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat, maka kebijakan tersebut sangat terbuka untuk diterapkan pada waktu yang tepat.

“Kami tidak menutup kemungkinan mengembangkan menu berbasis pangan lokal. Namun, yang paling utama adalah memastikan kualitas gizi tetap terjaga, pelaksanaan program berlangsung efektif, dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para siswa,” tegas Emanuel.

Pada akhirnya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya diukur dari makanan yang tersaji di atas piring, melainkan dari kemampuan menghadirkan gizi, memberdayakan potensi daerah, dan menumbuhkan masa depan yang lebih sehat bagi setiap anak Mimika.

Example 300250