Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPolkamTeknologi

Nada Sumbang Literasi di Tanah Perbatasan Bupati Belu Ketuk Kesadaran Guru: Jangan Biarkan Anak Naik Kelas Tanpa Bisa Menulis Namanya Sendiri

104
×

Nada Sumbang Literasi di Tanah Perbatasan Bupati Belu Ketuk Kesadaran Guru: Jangan Biarkan Anak Naik Kelas Tanpa Bisa Menulis Namanya Sendiri

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Di antara harmoni suara yang mengalun lembut dari panggung Lomba Paduan Suara PGRI, terselip nada yang tak sepenuhnya merdu—sebuah kegelisahan yang diungkapkan dengan jujur dan tegas. Di Gedung Wanita Betelalenok, Kamis (30/4/2026), Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H, tidak hanya membuka sebuah lomba, tetapi juga membuka kenyataan yang selama ini tersembunyi di balik angka-angka pendidikan.

Tema “Melodi Pendidikan Guru Bergerak, Indonesia Pintar” seakan menemukan maknanya yang paling dalam ketika disandingkan dengan fakta: masih ada anak kelas 4 dan 5 sekolah dasar yang belum mampu membaca dan menulis dengan baik.

Example 300x600

Dengan suara yang tenang namun menghunjam, Bupati Willy Lay menyampaikan pesan yang menggugah nurani para pendidik.

╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Saya minta seluruh Kepala Sekolah dan Guru SD memperhatikan masalah literasi dan numerasi. Sangat memprihatinkan ketika anak mau naik kelas 5 tapi belum bisa menulis nama sendiri.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝

Pernyataan itu menggantung di udara, seperti nada minor dalam sebuah komposisi besar bernama pendidikan. Ia tidak menyalahkan, tetapi mengingatkan—bahwa di balik setiap anak yang belum mampu membaca, ada sistem yang harus diperbaiki, ada perhatian yang perlu diperkuat.

Bupati menegaskan, lulusan sekolah dasar harus memiliki fondasi dasar yang kokoh: mampu membaca dan menulis dengan baik. Karena di sanalah masa depan dibangun—dari huruf pertama yang dikenal, dari kata pertama yang ditulis dengan tangan kecil penuh harap.

Namun di tengah kritik yang tajam, ia tetap menabur harapan. Apresiasi diberikan kepada para guru yang tetap bersemangat, yang melalui lomba paduan suara ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga ruang ekspresi jiwa.

Ia bahkan membayangkan masa depan yang lebih luas bagi kegiatan ini.

╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Saya mengharapkan ke depannya, lomba ini tidak hanya di tingkat kabupaten, tetapi berkeliling ke setiap kecamatan.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝

Sebuah gagasan yang sederhana, namun sarat makna: mendekatkan semangat pendidikan ke akar rumput, menjangkau setiap sudut wilayah, dan membiarkan suara guru bergema lebih luas.

Tak berhenti di sana, Bupati Willy Lay juga mengungkapkan posisi pendidikan Kabupaten Belu yang saat ini masih berada di peringkat tiga dari bawah. Sebuah fakta yang tak bisa dipoles, tetapi harus dihadapi dengan keberanian.

Momentum Hari Pendidikan Nasional 2 Mei dijadikannya sebagai titik balik.

╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Setelah Hardiknas, kita harus berubah. Guru harus memantau siswa kelas 1 dan 2 yang belum bisa baca tulis, lalu panggil orang tuanya. Ajak orang tua terlibat memantau anak-anak di rumah.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝

Seruan itu bukan sekadar instruksi administratif, melainkan ajakan kolaborasi antara sekolah dan rumah—dua ruang utama tempat anak bertumbuh.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas. Di tengah arus modernisasi, bahasa ibu mulai perlahan hilang dari percakapan anak-anak kota. Maka, ia mendorong agar muatan lokal kembali dihidupkan.

╔══════════════════════════════════════╗
🌸 “Di hari-hari tertentu, biasakan anak-anak berkomunikasi menggunakan bahasa daerah. Jangan sampai kita kehilangan jati diri.” 🌸
╚══════════════════════════════════════╝

Ketua PGRI Kabupaten Belu, Yanurius Antonius Wadan Talok, S.Pd, dalam laporannya menyebut organisasi ini sebagai “rumah besar perjuangan” yang sempat mengalami stagnasi. Namun sejak menerima mandat pada 13 Desember 2025, PGRI berkomitmen untuk bangkit dan kembali menjadi motor perubahan.

Sebanyak 11 tim vokal group dari berbagai wilayah di Kabupaten Belu turut ambil bagian dalam lomba ini—membawa suara, semangat, dan harapan yang beragam, namun menyatu dalam satu tujuan: memuliakan pendidikan.

Analisis Kontekstual
Fenomena rendahnya literasi dan numerasi di tingkat sekolah dasar bukan hanya persoalan teknis pengajaran, tetapi cerminan dari tantangan struktural yang lebih luas—mulai dari kualitas pembelajaran awal, keterlibatan orang tua, hingga distribusi sumber daya pendidikan. Apa yang disuarakan Bupati Belu menjadi sinyal penting bahwa intervensi harus dimulai dari fondasi paling dasar. Tanpa itu, jenjang pendidikan berikutnya hanya akan menjadi bangunan rapuh di atas dasar yang belum kokoh.

Di penghujung acara, ketika gema lagu-lagu paduan suara perlahan mereda, tersisa satu resonansi yang tak mudah hilang: bahwa pendidikan bukan hanya tentang suara yang indah di panggung, tetapi tentang kemampuan anak-anak mengeja dunia dengan kata-kata mereka sendiri.

Dan di sanalah, masa depan Belu sedang ditulis—huruf demi huruf, oleh tangan-tangan kecil yang menunggu untuk diajarkan.

Example 300250