BANDA ACEH |LINTASTIMOR.ID— Lantunan shalawat mengalir di ruang pertemuan Azana Hotel, Lueng Bata, Banda Aceh. Sabtu (26/9/2026), suasana Maulid Nabi Muhammad SAW tidak sekadar menjadi ruang mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi titik temu para cendekiawan untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih panjang: bagaimana membangun manusia yang sehat, berpendidikan, dan mampu menggerakkan ekonomi umat.
ICMI Korda Banda Aceh bersama Tawakkal Specialist Hospital Malaysia mengemas peringatan Maulid itu dalam sebuah forum yang mempertemukan spiritualitas, gagasan, dan dialog publik. Tema “Membangun SDM Sehat untuk Memperkuat Ekonomi Ummat” menjadi benang merah yang menghubungkan rangkaian kegiatan, mulai dari pembacaan shalawat, doa, santunan anak yatim, pemaparan materi hingga diskusi bersama.
Di tengah suasana yang sarat kekhidmatan itu, Ketua ICMI Korda Banda Aceh, Iskandar Nurdin, S.Sos., M.Si., menempatkan silaturahmi bukan sekadar sebagai tradisi, melainkan sebagai energi untuk membangun kerja bersama. Ia melihat kualitas manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan, pendidikan, dan kekuatan ekonomi.
“Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat silaturahmi dan membangun kolaborasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kesehatan, pendidikan, dan ekonomi saling berkaitan dalam mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera,” ujar Iskandar.
Pernyataan itu menegaskan arah forum yang dibangun ICMI Banda Aceh. Maulid tidak berhenti pada seremoni keagamaan, tetapi diperluas menjadi ruang bertukar gagasan tentang kebutuhan masyarakat. Di titik inilah silaturahmi cendekiawan menemukan maknanya: mempertemukan pengetahuan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Iskandar juga menegaskan bahwa ICMI terus mendorong gagasan yang dapat memberikan manfaat nyata. Bagi kalangan cendekiawan, pemikiran tidak cukup berhenti di ruang diskusi. Ia perlu diterjemahkan menjadi kontribusi dan aksi yang konstruktif bagi masyarakat.
Forum itu kemudian bergerak ke pembahasan yang lebih spesifik. Tiga narasumber dengan latar belakang berbeda hadir membawa perspektif masing-masing—kesehatan, perjalanan, dan pendidikan. Ketiganya bertemu dalam satu gagasan besar: pembangunan sumber daya manusia membutuhkan sinergi lintas sektor.
Ustaz Mohd Khairuddin Khudri, Head of Health Tourism Tawakkal Specialist Hospital Malaysia, mengangkat peran layanan kesehatan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kesehatan ditempatkan bukan semata sebagai urusan pengobatan ketika seseorang sakit, tetapi sebagai bagian penting dari investasi manusia.
Perspektif berbeda datang dari Ustaz Muhammad Musazki bin Mohd Ozir, Managing Director An-Najwa Travel and Tours Sdn Bhd. Ia membahas hubungan antara kesehatan, perjalanan, dan pendidikan—tiga bidang yang dalam perkembangan masyarakat modern dapat saling berkelindan dalam membuka ruang pengetahuan, pengalaman, dan peluang ekonomi.
Sementara itu, Prof. Dr. Djamaluddin Idris, M.Ed., Guru Besar Manajemen dan Evaluasi Pendidikan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, membawa pembahasan pada fondasi pembangunan manusia. Ia menyoroti pembangunan sumber daya manusia unggul sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi umat.
Ketiga perspektif tersebut kemudian dipertemukan dalam dialog dan diskusi publik. Para peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi memperoleh ruang untuk menyimak, bertukar pandangan, dan membaca persoalan pembangunan manusia dari berbagai sudut.
Di antara lantunan shalawat, doa, santunan anak yatim dan percakapan para peserta, Maulid di Azana Hotel akhirnya menemukan wajah yang lebih luas. Ia menjadi ruang spiritual sekaligus intelektual—tempat nilai keagamaan bertemu dengan gagasan tentang kesehatan, pendidikan dan ekonomi.
Acara ditutup dengan makan bersama dan silaturahmi. Namun, percakapan yang lahir dari forum itu meninggalkan satu pesan penting: membangun umat bukan hanya tentang seberapa banyak gagasan yang dilahirkan, tetapi seberapa jauh gagasan tersebut mampu bergerak menjadi kolaborasi dan memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.
LintasTimor.id — Dari Banda Aceh, gagasan tentang manusia dan masa depan umat menemukan ruang untuk kembali dibicarakan.
















