Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwa

Ketika Rompi PMI Harus Menahan Air Mata 

4
×

Ketika Rompi PMI Harus Menahan Air Mata 

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: NA. Riya Ison
Penulis adalah mantan Relawan sekaligus Humas PMI Provinsi Aceh pada masa konflik dan tsunami

Ada masa ketika sebuah rompi kemanusiaan bukan sekadar pakaian. Ia menjadi perisai, identitas, sekaligus sumpah moral.

Example 300x600

Saya pernah mengenakan rompi itu di tengah Aceh yang diselimuti ketegangan. Pada awal hingga pertengahan 2000-an, ketika konflik bersenjata masih menjadi bagian dari keseharian, menjadi relawan Palang Merah Indonesia (PMI) berarti bekerja di antara ketakutan, kecurigaan, dan ancaman yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi maut.

Sebagai relawan Tim Siaga sekaligus juru bicara PMI Provinsi Aceh, saya memahami satu hal sejak awal: dalam konflik, kemanusiaan tidak boleh mengenal warna kubu.

PMI harus berdiri di tengah.

Bukan karena tidak memiliki perasaan, melainkan karena justru terlalu menghargai kehidupan manusia.

Prinsip-prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional—kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan, dan kesemestaan—bukan sekadar rumusan yang tertulis dalam dokumen organisasi. Di medan konflik, prinsip itu diuji oleh darah, senjata, ketakutan, bahkan oleh hubungan keluarga sendiri.

Saya pernah mengalami ujian itu pada sebuah malam yang hingga hari ini masih tinggal dalam ingatan.

Bukan sekadar karena saya menyaksikan korban konflik.

Melainkan karena salah satu jasad yang harus saya evakuasi adalah adik ipar saya sendiri.

Ketika Kemanusiaan Berhadapan dengan Hubungan Darah

Sore itu saya baru tiba di Markas PMI Provinsi Aceh yang ketika itu berada di depan Stadion Lampineung. Sekarang, Markas PMI Kota Banda Aceh dan Markas PMI Provinsi Aceh telah berpindah ke Ajuen.

Belum lama berada di markas, telepon berdering.

Seorang kawan sesama relawan menerima panggilan tersebut. Dari seberang sambungan telepon datang laporan dari petugas Polsek Darussalam mengenai kontak tembak dalam sebuah operasi pemeriksaan atau sweeping di kawasan Siem, Aceh Besar.

Sebuah sedan Timor berwarna hijau dilaporkan tertembak setelah terjadi kontak senjata. Empat orang di dalam kendaraan tersebut menjadi korban.

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, muncul informasi bahwa para penumpang diduga merupakan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Aceh Besar.

Bagi kami, identitas korban bukan alasan untuk membedakan pertolongan.

Maka persiapan dilakukan. Kantong jenazah dan ambulans disiapkan. Kami bersiap menuju lokasi.

Namun, sebelum kendaraan bergerak, telepon kembali berdering.

Rencana berubah.

Pihak kepolisian mengabarkan bahwa jenazah akan dibawa langsung oleh aparat ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUZA). Kami diminta menunggu di kamar jenazah.

Maghrib tiba.

Setelah menunaikan salat, saya segera menuju kamar jenazah RSUZA.

Ruangan itu masih sunyi.

Tidak lama kemudian, sebuah jip hitam jenis Hiline masuk dan berhenti di halaman.

Insting saya mengatakan, kendaraan itulah yang membawa para korban dari Siem.

Pintu belakang terbuka.

Saya melihat salah seorang korban yang tubuhnya tinggi dan berada dekat pintu kendaraan.

Wajahnya dipenuhi noda darah.

Tetapi ada sesuatu yang sangat saya kenal.

Siluet tubuh itu.

Dan kemudian saya melihat ciri yang begitu spesifik: gigi atas bagian tengah yang sedikit renggang.

Saat itu, dunia seperti berhenti bergerak.

Korban tersebut adalah Kafrawi—adik dari istri saya sendiri.

Di kalangan pergerakan, ia dikenal dengan sapaan Teungku Awi, yang disebut sebagai Mualem wilayah Aceh Besar.

Di titik itulah prinsip kemanusiaan berhadapan langsung dengan hubungan darah.

Saya adalah seorang relawan.

Tetapi saya juga seorang kakak ipar.

Saya adalah manusia yang baru saja melihat keluarganya sendiri terbujur dalam keadaan mengenaskan.

Namun, di depan aparat yang berada di lokasi, saya tidak boleh kehilangan kendali.

Jasad Kafrawi menjadi jasad pertama yang saya turunkan dari bak mobil Hiline. Bersama rekan-rekan relawan, saya mengangkat tubuhnya menuju tempat pemandian di kamar jenazah.

Di sampingnya terdapat tiga jasad lain yang juga gugur dalam insiden di Siem.

Empat manusia.

Empat kehidupan.

Empat keluarga yang malam itu kehilangan seseorang.

Jarak dari tempat kendaraan berhenti menuju ruang pemulasaran sebenarnya tidak lebih dari dua puluh meter. Namun, malam itu jarak tersebut terasa begitu panjang.

Setiap langkah terasa berat.

Bukan karena tubuh korban semata.

Tetapi karena saya tahu, di depan mata berdiri sejumlah aparat Brimob yang kemungkinan baru saja terlibat dalam kontak tembak yang menewaskan orang yang secara pribadi sangat dekat dengan keluarga saya.

Di sinilah netralitas bukan lagi teori.

Ia menjadi pergulatan batin.

Rompi PMI dan Air Mata yang Harus Ditahan

Saya harus mengendalikan diri.

Bukan karena saya tidak berduka.

Justru karena saya sangat berduka.

Jika saya membiarkan emosi pribadi mengambil alih, bukan hanya profesionalitas saya yang dipertaruhkan. Kepercayaan terhadap PMI juga dapat ikut terciderai.

Dalam konflik, satu gerakan yang salah dapat melahirkan prasangka.

Satu kalimat yang tidak terukur dapat dianggap sebagai keberpihakan.

Satu luapan emosi dapat merusak kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.

Karena itulah saya menarik napas dalam-dalam.

Air mata saya tahan.

Saya mengenakan rompi PMI, tetapi malam itu rompi tersebut terasa seperti perisai yang harus menahan seluruh ledakan perasaan di dalam dada.

Saya melakukan identifikasi terhadap keempat jenazah secara klinis.

Proses berlangsung.

Saya tetap bekerja seolah-olah tidak mengenal siapa pun di antara mereka.

Padahal, salah satu korban adalah bagian dari keluarga saya sendiri.

Inilah paradoks terbesar kerja kemanusiaan di wilayah konflik: untuk tetap manusiawi, seorang relawan kadang harus belajar menahan kemanusiaannya sendiri agar pertolongan tidak kehilangan netralitas.

Setelah proses serah terima selesai, aparat meninggalkan lokasi untuk melanjutkan tugas patroli.

Ketika kendaraan mereka mulai menjauh, barulah pertahanan batin saya runtuh.

Air mata yang sejak tadi tertahan pecah.

Saya menoleh kepada rekan relawan dan berkata dengan suara bergetar:

“Korban yang tinggi itu… adalah adik iparku.”

Kalimat sederhana itu menjadi titik pecah dari keteguhan yang saya bangun sejak menerima jenazah.

Saya kemudian membersihkan sendiri wajah dan tubuh Kafrawi dari lumuran darah menggunakan kapas yang tersedia.

Setiap usapan terasa seperti percakapan terakhir.

Tidak ada lagi bahasa politik.

Tidak ada lagi identitas kelompok.

Tidak ada lagi perbedaan antara aparat dan kombatan.

Di hadapan kematian, semua label manusia menjadi begitu kecil.

Yang tersisa hanyalah seorang manusia yang telah pergi dan seorang keluarga yang kehilangan.

Konflik Tidak Pernah Hanya Membunuh Orang yang Memegang Senjata

Malam itu saya pulang menumpangi ambulans PMI untuk menyampaikan kabar duka kepada keluarga, terutama kepada ayah mertua.

Pada awalnya, beliau mengira Kafrawi hanya mengalami luka akibat kontak tembak.

Namun, ketika saya menjelaskan bahwa putranya telah meninggal dunia, ketabahannya runtuh.

Duka tidak membutuhkan banyak kata.

Ia datang seperti gelombang besar, menerjang pertahanan manusia tanpa meminta izin.

Malam itu jasad Teungku Awi kami bawa pulang.

Rumah yang biasanya menjadi tempat berkumpul keluarga berubah menjadi ruang duka. Tetangga dan kerabat berdatangan. Lantunan ayat suci terdengar di tengah kesunyian malam.

Melalui musyawarah keluarga, pelaksanaan fardhu kifayah disepakati untuk dilakukan keesokan harinya.

Namun, bahkan dalam suasana berkabung, kehidupan menuntut tanggung jawab lain.

Saya harus mengurus administrasi pemulangan Kek Hasyim, kakek dari istri saya, yang ketika itu masih menjalani perawatan di RSUZA.

Keputusan pemulangan dilakukan secara mendadak karena keluarga khawatir ia yang hampir pulih justru luput dari perhatian apabila tetap berada di rumah sakit dalam situasi kota yang masih fluktuatif.

Begitulah konflik bekerja terhadap sebuah keluarga.

Ia tidak hanya datang melalui suara senjata.

Ia masuk ke ruang keluarga.

Ia mengubah percakapan menjadi kabar kematian.

Ia membuat orang tua kehilangan anak.

Ia membuat seorang istri kehilangan saudara.

Ia memaksa seorang relawan memilih antara air mata dan profesionalitas.

Dan ia meninggalkan luka yang mungkin tidak terlihat oleh mereka yang tidak pernah mengalaminya.

Netralitas Bukan Berarti Tidak Memiliki Hati

Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa netralitas sering kali disalahartikan.

Netral bukan berarti tidak peduli.

Netral bukan berarti membenarkan kekerasan.

Netral juga bukan berarti seorang relawan tidak memiliki keluarga, perasaan, atau sikap batin terhadap penderitaan.

Netralitas dalam kerja kemanusiaan justru diperlukan agar pertolongan dapat menjangkau manusia tanpa diskriminasi.

Dalam konflik bersenjata, seorang korban tetaplah manusia sebelum ia diberi label apa pun.

Ia bukan semata-mata kombatan.

Bukan semata-mata aparat.

Bukan semata-mata anggota kelompok tertentu.

Di hadapan kemanusiaan, ia adalah seseorang yang terluka, seseorang yang kehilangan hidup, atau seseorang yang ditunggu kepulangannya oleh keluarga.

Karena itu, pengalaman di kamar jenazah RSUZA tersebut bagi saya bukan hanya kisah pribadi.

Ia adalah pelajaran tentang betapa mahalnya kepercayaan dalam kerja kemanusiaan.

Kepercayaan itu dibangun bukan dengan pidato.

Ia dibangun melalui konsistensi.

Ketika PMI datang mengambil korban tanpa terlebih dahulu menanyakan korban berada di pihak mana, di situlah kemanusiaan bekerja.

Ketika ambulans tetap bergerak menuju korban meskipun identitas korban tidak sesuai dengan latar belakang petugas, di situlah netralitas memperoleh maknanya.

Dan ketika seorang relawan mampu menahan air mata demi memastikan proses kemanusiaan berjalan tanpa prasangka, di situlah prinsip kemanusiaan diuji dalam bentuknya yang paling nyata.

Perang Meninggalkan Warisan Luka

Sebagai relawan lapangan, saya telah menyaksikan sendiri betapa mahal harga konflik bersenjata.

Karena itu, kisah ini tidak saya tulis untuk menghidupkan kembali kebencian.

Tidak pula untuk menunjuk siapa yang harus dipersalahkan.

Saya menuliskannya sebagai ibrah—pelajaran bagi generasi yang tidak mengalami langsung masa-masa kelam tersebut.

Sebab sejarah yang tidak direnungkan hanya akan menjadi tanggal dan angka.

Padahal, di balik setiap angka korban terdapat nama.

Di balik setiap nama terdapat keluarga.

Dan di balik setiap keluarga terdapat kehidupan yang ikut berubah selamanya.

Konflik sering kali dibicarakan dalam bahasa strategi, operasi, keamanan, wilayah, kekuasaan, dan kepentingan politik. Namun, dari sudut pandang kemanusiaan, konflik memiliki bahasa lain: kehilangan.

Kehilangan anak.

Kehilangan suami.

Kehilangan saudara.

Kehilangan rasa aman.

Bahkan kehilangan masa depan.

Karena itu, ukuran kerugian akibat konflik tidak semestinya berhenti pada jumlah korban atau kerusakan material. Ada kerusakan sosial dan psikologis yang jauh lebih panjang usianya daripada suara tembakan.

Satu peluru mungkin hanya membutuhkan sepersekian detik untuk menembus tubuh.

Tetapi luka yang ditinggalkannya dapat diwariskan dalam ingatan sebuah keluarga selama puluhan tahun.

Perdamaian Bukan Sekadar Berakhirnya Tembakan

Dari pengalaman tersebut, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: konflik tidak pernah benar-benar menghasilkan kemenangan bagi kemanusiaan.

Mungkin ada pihak yang memenangkan sebuah pertempuran.

Mungkin ada pihak yang mencapai tujuan politik tertentu.

Namun, ketika seorang ibu kehilangan anaknya, ketika seorang ayah harus menerima jasad putranya, ketika sebuah keluarga harus hidup dengan kenangan tentang seseorang yang tidak pernah kembali, maka kemanusiaan tetap membayar harga yang mahal.

Karena itu, perdamaian tidak boleh dipahami hanya sebagai berhentinya suara senjata.

Perdamaian harus menjadi proses memulihkan kepercayaan, merawat ingatan, menghormati korban, dan memastikan generasi berikutnya tidak mewarisi kebencian dari generasi sebelumnya.

Aceh telah melalui perjalanan panjang.

Apa yang terjadi pada masa lalu tidak perlu dihapus dari ingatan. Tetapi ingatan itu seharusnya ditempatkan sebagai pelajaran, bukan bahan bakar untuk mengulang pertikaian.

Sebab bangsa yang matang bukan bangsa yang melupakan luka, melainkan bangsa yang mampu mengubah luka menjadi kebijaksanaan.

Saya pernah berdiri di sebuah kamar jenazah, mengenakan rompi PMI, sementara di hadapan saya terbujur seorang anggota keluarga sendiri.

Saya pernah menahan air mata agar sebuah prinsip kemanusiaan tidak runtuh di hadapan senjata.

Dan dari pengalaman itu saya belajar bahwa kemanusiaan tidak boleh kalah oleh konflik.

Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan generasi yang pandai mewariskan dendam, melainkan generasi yang mampu memahami mengapa dendam harus dihentikan.

Perdamaian bukan tanda kelemahan.

Perdamaian adalah keberanian untuk menghentikan rantai kehilangan.

Sebab ketika senjata telah diam, yang tersisa adalah manusia—dengan luka, ingatan, keluarga, dan harapan untuk hidup tanpa rasa takut.

Itulah sebabnya perdamaian harus dijaga bukan hanya oleh mereka yang pernah menandatangani kesepakatan, tetapi juga oleh setiap generasi yang memahami betapa mahal harga sebuah konflik.

Kisah ini saya tutup bukan dengan kebencian, melainkan dengan penghormatan kepada mereka yang telah menjadi korban dan harapan kepada mereka yang masih hidup.

Semoga tidak ada lagi seorang relawan yang harus mengangkat jasad keluarganya sendiri atas nama sebuah perang.

Semoga tidak ada lagi seorang ayah yang harus menerima putranya dalam kantong jenazah.

Dan semoga Aceh, yang pernah begitu lama menangis, terus memilih jalan yang membuat anak-anaknya mengenal masa depan lebih baik daripada mengenal suara senjata.

Salam damai Aceh.

Example 300250
Penulis: NA. Riya IsonEditor: Agustinus Bobe