Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Hukum & KriminalInternasionalNasionalPeristiwaPolkam

Malam Digeruduk: Sindiket “Geng Ashraf” Tumbang, Jalur Gelap Migran Diputus di Ampang

67
×

Malam Digeruduk: Sindiket “Geng Ashraf” Tumbang, Jalur Gelap Migran Diputus di Ampang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUALA LUMPUR |LINTASTIMOR.ID — Di kedalaman malam yang seharusnya sunyi, dentuman keras memecah hening di sebuah lot kedai di Ampang. Jam menunjukkan pukul 12.40 pagi, Jumat, 3 April 2026. Dalam satu gerak cepat, pagar dan pintu utama sebuah rumah transit dihancurkan—membuka tabir praktik gelap yang selama ini bersembunyi di balik tembok biasa.

Jabatan Imigresen Malaysia (JIM) melalui Bahagian Penguatkuasaan berhasil menumpaskan sindiket penyeludupan migran warganegara Bangladesh yang dikenal sebagai “Geng Ashraf”. Rumah itu, yang tampak biasa dari luar, ternyata menjadi simpul transit bagi arus manusia yang dipindahkan secara diam-diam melintasi batas negara.

Example 300x600

Di dalamnya, 27 lelaki warga Bangladesh ditemukan—wajah-wajah lelah yang baru tiga hari menjejak negara jiran sebelum diseludup masuk ke Malaysia. Bersama mereka, turut ditahan tiga lelaki yang diduga menjadi bagian dari sindiket, berperan sebagai fasilitator sekaligus penjaga rumah transit.

Operasi ini bukan sekadar penindakan, melainkan pembongkaran satu jaringan yang telah bekerja senyap sejak Januari 2025. Jalur yang mereka gunakan tidak sederhana—melibatkan negara ketiga, menyusup melalui Kelantan, lalu mengalir ke Lembah Klang sebelum disebar ke berbagai destinasi.

╔════════════════════════════════════════════╗
“Sindiket ini dipercayai aktif sejak Januari 2025,
menggunakan laluan negara ketiga sebelum masuk
secara haram melalui Kelantan dan dibawa ke
Lembah Klang untuk dihantar ke lokasi tertentu.”
╚════════════════════════════════════════════╝

Di balik setiap perjalanan itu, ada harga yang harus dibayar mahal—hingga RM8,000 untuk setiap orang. Dalam hitungan kasar, sindiket ini diperkirakan telah mengaut keuntungan sekitar RM2.4 juta sejak beroperasi.

╔════════════════════════════════════════════╗
“Dengan bayaran sehingga RM8,000 bagi setiap
imigran, sindiket dianggarkan mengaut keuntungan
sekitar RM2.4 juta sepanjang tempoh operasi.”
╚════════════════════════════════════════════╝

Kini, seluruh imigran yang berusia antara 20 hingga 49 tahun itu ditempatkan di Depot Imigresen Putrajaya. Mereka akan menjalani proses penyiasatan di bawah Akta Antipemerdagangan Orang dan Antipenyeludupan Migran 2007 (ATIPSOM).

Jabatan Imigresen Malaysia menegaskan komitmennya untuk terus mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang terlibat dalam pelanggaran hukum keimigrasian, termasuk di bawah Akta Imigresen 1959/63, Akta Pasport 1966, serta peraturan terkait lainnya.

╔════════════════════════════════════════════╗
“Tindakan tegas akan diteruskan ke atas mana-mana
pihak yang melanggar undang-undang imigresen,
termasuk kesalahan di bawah ATIPSOM.”
╚════════════════════════════════════════════╝

Secara kontekstual, pengungkapan sindiket ini menyoroti realitas kompleks migrasi ilegal di kawasan Asia Tenggara—di mana faktor ekonomi, jaringan lintas negara, dan lemahnya pengawasan di titik-titik tertentu menciptakan ruang bagi praktik penyeludupan manusia. Malaysia, sebagai salah satu tujuan utama, terus berada di garis depan dalam menghadapi arus ini, menuntut strategi penegakan hukum yang adaptif dan kolaboratif lintas negara.

Malam itu, ketika pintu berhasil didobrak dan cahaya menyinari ruang gelap, yang terbuka bukan hanya sebuah tempat persembunyian—melainkan juga kisah tentang manusia, harapan, dan risiko yang dipertaruhkan dalam diam. Sebab di balik setiap perjalanan ilegal, selalu ada mimpi yang tersesat di jalan yang salah.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.id/Dewi KEditor: Agustinus Bobe