MALAKA |LINTASTIMOR.ID – Di antara bukit yang retak dan tanah yang terus bergerak pelan menuju jurang, denyut kehidupan masyarakat di Kecamatan Rinhat kini seperti digantung di ujung kecemasan. Jalan di RT 005/RW 003 Desa Lotas, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur yang selama ini menjadi urat nadi penghubung belasan desa dan akses lintas kabupaten, kini rusak berat akibat tanah longsor.
Siang dan malam, kendaraan harus melintas bergantian dengan penuh waswas. Badan jalan yang menyempit dan tanah labil membuat setiap roda yang melaju terasa seperti sedang mempertaruhkan keselamatan.
Melalui surat resmi yang ditujukan kepada Bupati Malaka, perwakilan masyarakat Desa Lotas, Teklaradis Fatin, menyampaikan kondisi darurat tersebut sambil membawa suara keresahan warga yang selama ini hidup bergantung pada jalur itu.
Jalan tersebut bukan sekadar lintasan biasa. Ia menjadi penghubung vital bagi sedikitnya 15 desa di wilayah Kecamatan Rinhat dan sekitarnya, sekaligus akses masyarakat dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menuju Malaka.
Kerusakan jalan kini mulai berdampak langsung pada distribusi hasil bumi, akses pelayanan kesehatan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat pedalaman.
╔════════════════════════════════╗
“Saat ini warga hanya bisa melintas dengan sistem antrean kendaraan karena kondisi tanah yang sangat labil. Ini membahayakan keselamatan masyarakat dan menghambat aktivitas ekonomi warga,” tulis Teklaradis Fatin dalam laporan resminya kepada Pemerintah Kabupaten Malaka.
╚════════════════════════════════╝
Masyarakat meminta Pemerintah Kabupaten Malaka segera melakukan peninjauan lapangan melalui dinas terkait, membangun penahan tebing serta pengaspalan permanen di titik longsor, sekaligus menyiapkan jalur alternatif yang layak selama proses perbaikan berlangsung.
Di tengah kekhawatiran itu, muncul pula usulan dari warga Desa Muke, Blasius Tsu, yang menawarkan solusi agar pemerintah tidak mengeluarkan anggaran terlalu besar untuk penanganan sementara.
Menurutnya, pemerintah sebaiknya menutup sementara jalur KM 10 yang rawan longsor dan membuka kembali jalan lama dari arah cabang Desa Muke menuju Kantor Desa Lotas yang dinilai lebih aman meski berliku.
╔════════════════════════════════╗
“Solusi untuk Pemda Malaka agar jangan mengeluarkan banyak anggaran, sebaiknya tutup kembali jalan jalur KM 10 dan buka kembali jalan lama dari arah cabang Desa Muke keluar ke Kantor Desa Lotas. Karena jalan lama itu tidak ada longsor,” ujar Blasius Tsu di AI Hoin, Lotas ,Selasa 12 Mei 2026 pagi.
╚════════════════════════════════╝
Ia juga mengingatkan bahwa jalur KM 10 sebelumnya dibuka secara swadaya masyarakat oleh almarhum mantan Kepala Desa Lotas, Daniel Bobe, sebelum akhirnya diaspal dan digunakan sebagai jalur utama penghubung warga.
Secara kontekstual, kondisi ini memperlihatkan masih rentannya infrastruktur jalan di wilayah perbukitan Malaka terhadap bencana alam, terutama pada jalur yang belum memiliki sistem penahan tebing dan drainase yang memadai. Jika tidak segera ditangani, kerusakan kecil berpotensi berkembang menjadi putus total akses transportasi yang dapat melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat lintas desa.
Kini, di tengah jalan yang perlahan tergerus longsor, masyarakat hanya berharap satu hal sederhana: pemerintah hadir sebelum tanah benar-benar memisahkan mereka dari dunia luar.


















