Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Kabupaten MimikaKesehatanNasionalOtomotifPeristiwaPolkam

Ketika Maulid Menyalakan Cahaya Damai di Mimika

2
×

Ketika Maulid Menyalakan Cahaya Damai di Mimika

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Minggu pagi itu, pesan tentang keteladanan menggema di tengah kehidupan Mimika yang tumbuh dari keberagaman. Di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Anwarul Fawaid, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar mengenang kelahiran seorang utusan Tuhan, melainkan menjadi ruang untuk kembali bercermin: tentang akhlak, persaudaraan, ilmu, dan cara manusia memperlakukan sesamanya.

Di tempat itu, Bupati Mimika Johannes Rettob hadir bersama para santri dan santriwati dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Minggu, 27 September 2026.

Example 300x600

Suasana peringatan membawa pesan yang sederhana, tetapi dalam: bahwa pembangunan sebuah daerah tidak hanya berdiri di atas jalan, gedung, jembatan, atau infrastruktur yang menjulang. Di balik seluruh pembangunan itu, ada manusia yang menjadi penentu arah masa depan.

Dan manusia, pada akhirnya, membutuhkan karakter.

Johannes mengajak para santri dan seluruh masyarakat Mimika menjadikan akhlak Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi dia, ilmu tanpa karakter kehilangan sebagian maknanya. Karena itu, generasi muda tidak hanya perlu tekun belajar, tetapi juga harus tumbuh dengan penghormatan kepada orang tua, guru, agama, dan sesama.

“Pembangunan Mimika bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang membangun manusia yang memiliki moral, karakter, dan nilai-nilai keagamaan yang kuat.”

Kalimat itu menjadi salah satu pesan penting yang dibawa Johannes dari tengah peringatan Maulid.

Mimika sendiri adalah ruang hidup yang dibangun dari banyak warna. Suku, agama, budaya dan latar belakang sosial bertemu dalam satu wilayah yang terus bergerak menuju masa depan.

Di tengah keragaman itu, toleransi bukan sekadar kata yang indah di atas mimbar. Ia harus hadir dalam kehidupan sehari-hari—dalam cara masyarakat menghormati perbedaan, menjaga persaudaraan, dan membuka ruang bagi sesama untuk hidup berdampingan.

Johannes mengingatkan, keberagaman merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama.

Sebab, kedamaian sebuah daerah tidak hanya lahir dari aturan yang tertulis, tetapi juga dari kesediaan manusia untuk saling menghormati.

Ia mengajak masyarakat Mimika menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai pijakan moral untuk membangun kehidupan yang harmonis.

“Di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya, mari terus merawat persatuan, memperkuat toleransi dan solidaritas, serta bergandengan tangan membangun Kabupaten Mimika yang maju, damai, dan harmonis.”

Pesan itu terasa semakin penting bagi generasi muda yang sedang tumbuh.

Para santri dan santriwati bukan hanya sedang belajar membaca dan memahami ilmu agama. Mereka juga sedang menyiapkan diri menjadi bagian dari masa depan Mimika.

Di tangan generasi seperti merekalah wajah Mimika kelak akan dibentuk—apakah menjadi daerah yang hanya tumbuh secara fisik, atau tumbuh sekaligus dengan manusia-manusia yang memiliki integritas.

Maulid kemudian menemukan maknanya yang lebih luas.

Ia bukan hanya tentang mengenang Rasulullah Muhammad SAW, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai yang diwariskannya diterjemahkan menjadi tindakan nyata: kasih sayang kepada sesama, penghormatan kepada orang tua dan guru, kepedulian terhadap lingkungan sosial, serta keberanian menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

Johannes berharap peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.

Baginya, nilai keteladanan harus keluar dari ruang peringatan dan masuk ke ruang kehidupan—ke rumah, sekolah, pesantren, tempat kerja, lingkungan masyarakat, hingga ruang-ruang pelayanan publik.

“Semoga keteladanan Rasulullah senantiasa menginspirasi kita untuk menebarkan kebaikan dan kasih sayang kepada sesama.”

Di Mimika, pesan itu menemukan rumahnya.

Sebab pembangunan sejatinya bukan hanya tentang apa yang berhasil didirikan manusia, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang berhasil dibentuk oleh sebuah daerah.

Dan pada pagi Maulid itu, pesan tersebut kembali menemukan maknanya: jalan menuju Mimika yang maju tidak cukup hanya dibangun dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan akhlak, toleransi, ilmu, dan kasih sayang.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.id Editor: Agustinus Bobe