Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
NasionalPeristiwaPolkam

Jokowi Menyusuri Lampung: Bersama Kaesang, Merawat Jejak Politik dan Menyapa Ingatan Publik

57
×

Jokowi Menyusuri Lampung: Bersama Kaesang, Merawat Jejak Politik dan Menyapa Ingatan Publik

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

SOLO |LINTASTIMOR.ID-Lampung pagi itu bukan sekadar titik persinggahan. Ia menjadi halaman pertama dari perjalanan panjang yang dipilih Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, untuk kembali hadir di tengah denyut masyarakat.

Example 300x600

Jumat, 26 Juni 2026, Jokowi memulai safari keliling Indonesia dari ujung selatan Sumatra—sebuah perjalanan tiga hari yang tidak disusun untuk memberi jeda, melainkan menghadirkan perjumpaan. Dari Mesuji hingga Lampung Tengah, dari ruang konsolidasi hingga panggung budaya, dari forum politik hingga pembagian sembako, setiap titik kunjungan membawa pesan yang lebih luas dari sekadar agenda perjalanan.

Setibanya di Bandara Radin Inten II, waktu seolah dipadatkan. Tidak ada ruang panjang untuk beristirahat. Rangkaian kegiatan telah menunggu: halalbihalal bersama 1.350 kader dan simpatisan PSI se-Lampung di Mesuji, salat Jumat berjemaah, lalu bergerak ke Tulangbawang untuk menghadiri konsolidasi yang melibatkan sekitar 3.000 peserta sebelum menutup hari dengan menyaksikan Kirab Pawai Budaya dan Karnaval Gajah.

Namun sorotan terbesar dari safari ini tak hanya terletak pada rute yang panjang, melainkan pada satu gambar politik yang sulit diabaikan: Jokowi berjalan berdampingan dengan putra bungsunya sekaligus Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep.

Sabtu, 27 Juni, duet itu dijadwalkan hadir dalam Rapat Koordinasi Daerah PSI Bandar Lampung—agenda yang dipersiapkan sebagai ruang konsolidasi sekaligus penguatan struktur partai hingga tingkat bawah.

Ketua DPD PSI Bandar Lampung, Randy Aditia Gumay Gumanti, menyebut seluruh persiapan terus dimatangkan agar agenda berjalan tertib dan terukur.

Ia mengatakan sekitar 1.600 pengurus PSI Bandar Lampung ditargetkan hadir sebagai bagian dari penguatan organisasi dan konsolidasi kader.

Menariknya, ruang itu tidak sepenuhnya tertutup.

Masyarakat umum juga diberi kesempatan hadir setelah proses verifikasi peserta selesai sekitar pukul 10.00 WIB.

“Untuk masyarakat yang ingin hadir dan ikut menyaksikan agenda, kami persilakan datang setelah proses verifikasi peserta selesai sekitar pukul 10.00 WIB. Dresscode yang disiapkan panitia adalah putih-hitam agar pelaksanaan kegiatan tetap tertib dan seragam,” ujar Randy.

Hari kedua safari tidak berhenti di politik. Jokowi dijadwalkan bertemu para tokoh adat Lampung dan menerima penganugerahan gelar dari lima kerajaan di Kedaton Keagungan. Setelah itu perjalanan berlanjut menuju Museum Transmigrasi dan Desa Bagelen, lalu meninjau aktivitas UMKM di Maliosewu sebelum menutup hari bersama jajaran DPW dan DPD PSI se-Lampung.

Sementara pada Minggu, 28 Juni, agenda bergeser ke ruang yang lebih sosial dan kultural. Jokowi akan menghadiri kirab budaya di Lampung Timur, melanjutkan perjalanan ke Kota Gajah, Lampung Tengah, untuk membagikan paket sembako, lalu bersilaturahmi dengan para kiai dan sekitar 1.800 santri di pondok pesantren sebelum kembali ke ibu kota.

Di tengah rangkaian itu, muncul pertanyaan yang ikut bergerak bersama rombongan: apakah safari ini sekadar memenuhi undangan masyarakat, atau sedang merajut arah politik yang lebih panjang?

Spekulasi itu menguat setelah muncul anggapan bahwa aktivitas keliling daerah dapat dibaca sebagai langkah membangun pengaruh menuju kontestasi 2029.

Namun Sekjen Relawan Pro Jokowi (Projo), Freddy Damanik, menepis tafsir tersebut.

Menurut Freddy, Jokowi tetap berkomitmen mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Tujuan Pak Jokowi keliling Indonesia ini bukan membangun oposisi, mengoreksi, bukan juga mengambil panggung pemerintah,” kata Freddy.

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut lebih sebagai cara menjaga kedekatan emosional dengan masyarakat dan memastikan semangat keberlanjutan pembangunan tetap hidup.

Secara kontekstual, safari ini menunjukkan bahwa setelah tidak lagi berada di kursi kekuasaan formal, pengaruh politik tidak selalu bergerak melalui jabatan. Kehadiran di daerah, pertemuan dengan tokoh lokal, organisasi politik, relawan, hingga ruang budaya dapat menjadi bentuk lain dari komunikasi politik—lebih cair, lebih simbolik, tetapi tetap memiliki resonansi terhadap peta kekuatan nasional.

Jokowi sendiri sebelumnya menyatakan bahwa kondisi kesehatannya telah membaik dan ia siap kembali memenuhi undangan dari berbagai daerah, sekaligus memberi motivasi kepada masyarakat serta bertemu dengan relawan dan kader PSI.

Dan mungkin di situlah makna perjalanan ini berada—bahwa politik pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang sedang berkuasa, melainkan siapa yang masih terus dicari jejak langkahnya ketika panggung utama telah ditinggalkan.

Example 300250