Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaPeristiwaPolkam

Jalan yang Terluka, Harapan yang Menunggu: Lotas Memanggil Tanggung Jawab

87
×

Jalan yang Terluka, Harapan yang Menunggu: Lotas Memanggil Tanggung Jawab

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

LOTAS | LINTASTIMOR.ID — Hujan turun bukan sekadar membasahi tanah, tetapi seperti mengulang luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Selama dua malam dan satu hari, derasnya air mengguyur Desa Lotas, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka—hingga akhirnya jalan itu kembali menyerah. Aspal yang dulu diperbaiki kini pecah, terkelupas, dan sebagian longsor di Kilometer 10, seolah berkata: perbaikan yang lalu hanyalah janji yang belum tuntas.

Jalan itu bukan sekadar jalur penghubung. Ia adalah nadi kehidupan. Lebih dari 15 desa di Kecamatan Rinhat menggantungkan langkahnya di sana. Bahkan warga dari kabupaten tetangga, Timor Tengah Selatan (TTS), turut melintasi jalur yang sama. Kini, setiap lubang dan retakan bukan hanya menghambat perjalanan—tetapi juga mengancam denyut ekonomi, akses pangan, dan harapan sederhana menuju ibu kota kabupaten.

Example 300x600

Di tengah keprihatinan itu, suara dari kejauhan datang membawa kepedulian. Lasarus Tsu, tokoh masyarakat asal Desa Muke yang kini bermukim di Mataram, menyampaikan harapan yang sederhana namun mendesak: jalan itu harus segera ditangani.

╔════════════════════════════════════╗
🌿 “Semoga dengan berita ini, pemerintah daerah Malaka bisa merespon cepat perbaikan jalan longsor KM 10 Desa Lotas MMalaka.”pinta Lasarus Tsu.
╚════════════════════════════════════╝

Kalimat itu mungkin singkat, tetapi ia memuat beban panjang dari perjalanan warga yang kini kian berat. Ketika jalan rusak, bukan hanya kendaraan yang terhambat—tetapi juga distribusi bahan makanan, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga roda pemerintahan desa.

Secara kontekstual, kerusakan berulang ini mengindikasikan persoalan yang lebih dalam dari sekadar cuaca ekstrem. Ada kemungkinan lemahnya kualitas konstruksi, kurangnya sistem drainase yang memadai, serta minimnya pengawasan dalam proses pembangunan sebelumnya. Jika tidak ditangani secara komprehensif, siklus kerusakan akan terus berulang—dan anggaran hanya akan habis untuk memperbaiki hal yang sama, tanpa solusi berkelanjutan.

Solusi yang Mendesak dan Realistis: Pemerintah daerah perlu mengambil langkah cepat dan terukur, bukan hanya tambal sulam:

  • Penanganan darurat segera, dengan perbaikan titik longsor agar akses minimal bisa dilalui warga.
  • Audit teknis konstruksi sebelumnya, untuk memastikan penyebab kegagalan perbaikan terdahulu.
  • Pembangunan ulang berbasis kualitas, termasuk penguatan struktur jalan dan sistem drainase yang mampu menahan curah hujan tinggi.
  • Pengawasan ketat dan transparansi anggaran, agar pembangunan tidak kembali menjadi proyek yang rapuh.
  • Pelibatan masyarakat lokal, baik dalam pengawasan maupun pemeliharaan, agar rasa memiliki terhadap infrastruktur meningkat.

Di ujung cerita ini, jalan di Lotas bukan hanya tentang tanah yang retak atau aspal yang terkelupas. Ia adalah cermin dari seberapa jauh negara hadir dalam kehidupan warganya.

Dan ketika jalan itu kembali diperbaiki nanti, semoga bukan hanya untuk dilalui—tetapi juga untuk dipercaya.

Example 300250