TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Di tengah geliat pembangunan Papua Tengah yang terus mencari bentuknya, sebuah panggung ekonomi rakyat sedang disiapkan di Mimika. Bukan sekadar deretan stan yang memajang kopi, kerajinan, pangan olahan, dan produk lokal, tetapi ruang perjumpaan bagi pelaku usaha dari delapan kabupaten untuk membawa cerita daerahnya masing-masing ke satu halaman yang sama.
Festival UMKM Kabupaten Mimika disiapkan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 Kabupaten Mimika. Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Mimika mematangkan persiapan kegiatan yang diharapkan menjadi salah satu festival UMKM terbesar di wilayah Provinsi Papua Tengah.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Mimika, Samuel Yogi, S.H., M.H., mengatakan festival tersebut tidak berhenti pada agenda promosi produk. Lebih jauh, kegiatan itu dirancang menjadi momentum memperkuat sinergi antarkabupaten sekaligus membuka ruang bagi UMKM Papua Tengah untuk memperluas jejaring dan daya saing.
Hal itu disampaikan Samuel dalam konferensi pers di Timika, Selasa (22/9/2026).
“Kegiatan festival ini betul-betul kegiatan festival yang terbesar di wilayah Provinsi Papua Tengah. Kabupaten Mimika menjadi percontohan untuk pengembangan UMKM,” ujar Samuel.
Pernyataan itu memberi gambaran tentang arah yang ingin dibangun Mimika: menjadikan festival bukan hanya sebagai perayaan, tetapi sebagai etalase ekonomi rakyat Papua Tengah.
Sejumlah pihak dari tingkat provinsi hingga pemerintah pusat telah diundang. Di antaranya Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah, unsur pimpinan provinsi, Ketua Kadin Provinsi Papua Tengah, hingga sejumlah pejabat kementerian.
Bagi pelaku UMKM, ruang semacam ini memiliki arti yang lebih luas. Festival dapat menjadi tempat memperkenalkan produk, mempertemukan produsen dengan calon pembeli, membangun jaringan antarpelaku usaha, sekaligus membuka peluang kolaborasi dan pemasaran lintas daerah. Jika dikelola secara berkelanjutan, perjumpaan semacam ini juga dapat mendorong produk lokal tidak berhenti di pasar daerah, tetapi perlahan menembus pasar Papua Tengah bahkan nasional.
Karena itu, Samuel mengajak masyarakat Amungme, Kamoro, lima suku, masyarakat Papua, serta seluruh masyarakat Nusantara yang berdomisili di Mimika untuk bersama-sama menyukseskan festival.
“Ini waktunya kita tetap konsisten mendukung UMKM. Mari kita sama-sama menyiapkan produk-produk unggulan kita supaya UMKM kita bisa bersaing dengan daerah lainnya,” katanya.
Ajakan itu menemukan bentuknya dalam kesiapan sejumlah kabupaten untuk ikut ambil bagian. Kabupaten Intan Jaya, Paniai, Deiyai, dan Nabire telah menyatakan kesiapan berpartisipasi.
Intan Jaya bahkan sempat mengajukan permintaan dua stan. Namun, panitia menetapkan satu stan untuk setiap kabupaten agar ruang partisipasi dapat dibagi secara proporsional.
“Intan Jaya sudah oke. Mereka sudah minta dua stan, tapi saya sudah sampaikan satu stan untuk Intan Jaya. Paniai juga rencana membawa kopi, begitu juga dari Deiyai dan Nabire,” jelas Samuel.
Empat kabupaten tersebut menjadi bagian awal dari perjumpaan yang lebih besar. Samuel mengatakan peluang kabupaten lainnya untuk bergabung masih terbuka.
Di titik inilah festival menemukan makna yang melampaui transaksi ekonomi. Produk UMKM membawa identitas daerah masing-masing. Kopi dari dataran tinggi, kerajinan tangan, pangan lokal, dan berbagai produk kreatif bukan hanya barang dagangan, tetapi juga representasi pengetahuan, budaya, dan kerja masyarakat setempat. Ketika produk-produk itu dipertemukan dalam satu ruang, festival dapat menjadi simpul ekonomi sekaligus ruang pertukaran identitas antardaerah di Papua Tengah.
“Ini menandai bahwa delapan kabupaten bersatu untuk sama-sama membangkitkan UMKM di Provinsi Papua Tengah,” ujar Samuel.
Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Mimika kini bergerak memastikan sisi teknis festival berjalan sesuai rencana. Koordinasi dilakukan dengan berbagai pihak, sementara staf telah berada di lapangan untuk mempersiapkan kebutuhan kegiatan.
“Persiapan dan undangan sudah. Staf sudah di lapangan. Dua atau tiga hari lagi pasti ada staf dari Dinas Koperasi menuju Nabire dan juga Jakarta untuk koordinasi,” katanya.
Konsep dan tema khusus festival masih dibahas bersama pihak event organizer (EO). Tema tersebut nantinya disesuaikan dengan tema nasional serta rangkaian peringatan HUT ke-30 Kabupaten Mimika.
Komunikasi dengan pemerintah pusat juga terus dilakukan, termasuk terkait kemungkinan kehadiran pejabat yang membidangi UMKM. Namun, Samuel belum membeberkan secara rinci daftar tamu penting sebelum kepastian kehadiran mereka diperoleh.
“Intinya bahasa umum dulu. Paling minggu depan begitu kita sudah ini,” katanya.
Di sisi lain, keberadaan Dekranasda Kabupaten Mimika juga menjadi bagian dari ekosistem promosi produk lokal. Samuel menyampaikan apresiasi karena selama ini Dekranasda turut membawa produk UMKM Mimika hingga ke tingkat nasional.
Ia berharap seluruh Dekranasda dari delapan kabupaten di Papua Tengah dapat hadir dan ikut menghidupkan festival.
“Semua Dekranasda dari delapan kabupaten kami harapkan hadir. Mari kita sama-sama menyukseskan kegiatan ini,” pungkasnya.
Festival itu pada akhirnya bukan hanya tentang stan yang berdiri, produk yang dipajang, atau transaksi yang terjadi. Ia adalah tentang bagaimana Mimika membuka pintu bagi daerah-daerah lain untuk duduk dalam satu ruang, memperkenalkan kekayaan masing-masing, lalu menenun semuanya menjadi satu cerita: bahwa ekonomi rakyat Papua Tengah dapat tumbuh ketika daerah-daerahnya memilih untuk berjalan bersama.


















