TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Pagi di pela , buhan itu tidak sekadar sibuk—ia berdenyut dengan harapan. Satu per satu tabung LPG Bright Gas diturunkan dari kapal, berderet seperti jawaban atas kegelisahan yang sempat mengendap di dapur-dapur warga. Selasa (14/4/2026), sebanyak 4.000 tabung akhirnya tiba di Timika, membawa kepastian yang lama dinanti.
Di tengah aktivitas bongkar muat yang terus berlangsung, suara besi beradu dan langkah pekerja menjadi irama yang menenangkan: distribusi sedang bergerak, kehidupan perlahan kembali normal.
Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Rayon II Papua Tengah, Junaedi Kala, memastikan bahwa seluruh proses berjalan sesuai rencana. Tabung-tabung tersebut akan segera dialirkan ke dua agen utama yang melayani wilayah Timika.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
“LPG ini akan segera disalurkan ke Agen resmi. Hari ini fokus pembongkaran di pelabuhan, harapannya seluruh tabung sudah didistribusikan ke Agen dan besok sudah bisa dilakukan penjualan normal kepada masyarakat.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Pernyataan itu menjadi angin segar. Setelah hari-hari yang diwarnai kekhawatiran, kini distribusi mulai menunjukkan ritmenya kembali.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mimika, drh. Sabelina Fitriani, turut memantau langsung proses tersebut. Ia memastikan bahwa kedatangan kargo LPG ini telah sesuai jadwal yang dikoordinasikan bersama Pertamina Patra Niaga.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
“Saat ini stok aman, dengan tibanya stok ini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sampai akhir April. Namun kita harus terus mengantisipasi tantangan logistik ke depan.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa ketergantungan suplai dari Makassar perlu diimbangi dengan perencanaan alternatif untuk menjaga ketahanan distribusi ke depan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
“Masyarakat agar tetap tenang, beli sesuai kebutuhan, dan tidak panic buying. Praktik penimbunan akan diawasi dengan ketat.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Di balik angka 4.000 tabung itu, tersimpan cerita tentang rantai distribusi yang panjang dan rentan—dari Makassar menuju Timika, melintasi tantangan geografis yang tidak sederhana. Dalam konteks ini, kedatangan LPG bukan sekadar logistik, melainkan bagian dari stabilitas sosial: ketika energi tersedia, kehidupan berjalan lebih tenang, ekonomi berdenyut, dan rasa aman ikut terjaga.
Kini, ketika tabung-tabung itu bergerak dari pelabuhan menuju agen, lalu ke rumah-rumah warga, ada satu hal yang perlahan kembali menyala—bukan hanya api di kompor, tetapi juga keyakinan bahwa kebutuhan dasar akan selalu menemukan jalannya.
Dan di dapur-dapur sederhana Timika, nyala api itu akan kembali bercerita tentang kehidupan yang terus bertahan, meski diuji oleh jarak dan waktu.


















