NABIRE |LINTASTIMOR.ID — Di tengah pusaran ketegangan geopolitik global yang tak selalu tampak di permukaan, denyut kehidupan masyarakat justru terasa paling nyata di dapur-dapur sederhana. Di sanalah, nyala api kecil dari LPG menjadi simbol keberlanjutan hidup. Menyadari itu, Pertamina Patra Niaga bersama Dinas ESDM Provinsi Papua Tengah bergerak senyap namun pasti—menjaga agar api itu tak pernah padam.
Langkah kolaboratif ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan respons strategis menghadapi ketidakpastian global yang berpotensi merambat hingga ke wilayah timur Indonesia. Koordinasi intensif terus dibangun, memastikan bahwa setiap tabung LPG yang tiba bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan matang.
Kepala Dinas ESDM Provinsi Papua Tengah, Fretz James Borai, menegaskan pentingnya pengawasan dan pengaturan distribusi yang presisi di tengah potensi lonjakan konsumsi.
“Menjadi penting untuk terus dilakukan pengawasan serta pengaturan distribusi secara optimal sehingga dapat mengantisipasi potensi peningkatan konsumsi di lapangan.”
Sementara itu, dari tubuh Pertamina Patra Niaga, komitmen serupa digaungkan dengan nada yang tak kalah tegas. Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Papua Maluku, Bramantyo Rahmadi, menekankan bahwa keberlanjutan suplai adalah fondasi utama menjaga stabilitas energi masyarakat.
“Pertamina akan terus melanjutkan koordinasi baik ini. Di tengah kondisi geopolitik saat ini, kami juga terus mencari alternatif suplai di luar dari rute suplai reguler untuk menjamin ketersediaan LPG bagi masyarakat.”
Tak berhenti di sana, langkah strategis lain pun disiapkan—membangun kemandirian stok di Papua Tengah agar tak lagi sepenuhnya bergantung pada jalur distribusi dari Surabaya dan Makassar. Upaya diversifikasi suplai dari Ambon dan Jayapura menjadi bagian dari peta besar tersebut, membuka kemungkinan pengelolaan distribusi yang lebih fleksibel dan adaptif.
“Kami menyampaikan kepada Dinas ESDM pentingnya rantai distribusi yang kuat, yang mandiri untuk menjaga ketersediaan stok LPG untuk masyarakat. Salah satu upaya yang disampaikan adalah mencoba diversifikasi titik suplai dari Ambon dan Jayapura, sehingga Pertamina Patra Niaga dapat mengatur dengan lebih baik lagi perencanaan suplai dan menjamin ketersediaan LPG di agen.”
Secara kontekstual, langkah ini mencerminkan kesadaran baru dalam tata kelola energi nasional—bahwa wilayah timur Indonesia tidak lagi bisa diposisikan sebagai penerima pasif, melainkan harus menjadi simpul mandiri dalam rantai distribusi energi. Ketika geopolitik global mengguncang jalur logistik, strategi desentralisasi suplai menjadi jawaban rasional sekaligus visioner.
Pada akhirnya, menjaga LPG bukan sekadar menjaga komoditas—melainkan menjaga ritme kehidupan. Sebab di setiap nyala api yang tetap hidup, ada harapan yang tak ikut padam.


















