TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Secangkir kopi kadang hanya berhenti sebagai minuman. Tetapi di tangan sebuah koperasi yang ingin tumbuh, biji-biji kopi dapat berubah menjadi cerita tentang petani, ekonomi masyarakat, identitas daerah, bahkan mimpi menembus batas negeri.
Dari Cafe Rumah Kopi Amungme Gold, Kamis, 24 September 2026, mimpi itu kembali diucapkan.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika, Samuel Yogi, datang menghadiri Rapat Anggota Koperasi Produsen Amungme Gold Coffee (KPAGC) Tahun Buku 2025. Di hadapan pengurus koperasi, ia tidak sekadar berbicara tentang laporan organisasi.
Ia berbicara tentang keberanian.
Keberanian untuk membuat kopi Amungme Gold tidak berhenti di Mimika.
Keberanian untuk membangun rumah produksi.
Keberanian menghimpun petani.
Dan, yang paling jauh, keberanian membawa nama Amungme Gold menembus pasar nasional hingga kemungkinan pasar internasional.
“Tidak ada kata alasan. Kita harus membuat program dan harus dijalankan. Tahun ini tidak apa-apa, tetapi ke depan harus diseriuskan,” tegas Samuel.
Koperasi tidak boleh berjalan di tempat
Bagi Samuel, rapat anggota merupakan momentum untuk melihat kembali perjalanan koperasi sekaligus menyusun arah usaha ke depan.
Ia mendorong KPAGC memperkuat kelembagaan, permodalan, fasilitas produksi dan jaringan pemasaran.
Sebab produk unggulan tidak lahir hanya dari hasil kebun.
Ia membutuhkan organisasi yang mampu mengelola produksi, memastikan kualitas, membangun pasar dan menjaga kesinambungan usaha.
Di sinilah tantangan KPAGC berada.
Kopi mungkin sudah ada.
Petani juga ada.
Pasar mulai terbuka.
Namun seluruh mata rantai itu harus disatukan dalam sebuah sistem usaha yang kuat.
Samuel melihat kebutuhan modal sebagai salah satu kunci.
Ia berharap pemerintah dan mitra pembangunan, termasuk PT Freeport Indonesia, dapat memperkuat dukungan untuk pembangunan rumah produksi, pengadaan fasilitas hingga kebutuhan operasional koperasi.
“PT Freeport dan pemerintah sama-sama membantu pembangunan gedung rumah produksi dan juga dana operasional bagi koperasi,” ujarnya.
Tetapi bantuan, menurut Samuel, harus memiliki arah.
Bukan sekadar membangun fasilitas, melainkan memastikan fasilitas itu benar-benar meningkatkan kapasitas produksi dan membuat koperasi mampu bertahan sebagai kekuatan ekonomi masyarakat.
Dari Mimika, kopi menemukan jalan
Ada pengalaman yang membuat keyakinan Samuel semakin kuat.
Ketika membawa kopi Amungme Gold ke Bali, beberapa karton kopi tersebut, menurut Samuel, mendapat respons pasar yang baik hingga habis terjual.
Pengalaman sederhana itu menyimpan pesan penting.
Bahwa kopi dari Mimika tidak harus selalu berputar di lingkaran pasar lokal.
Ada konsumen di luar daerah.
Ada kemungkinan membuka jaringan baru.
Dan ada peluang yang jauh lebih besar jika koperasi berani mengelola pemasaran secara serius.
“Kita harus paham, kopi Amungme Gold ini kenapa tidak bisa kita buka di luar Indonesia sebagai produk di luar negeri,” katanya.
Pernyataan itu menjadi semacam garis horizon.
Mimika sebagai titik awal.
Indonesia sebagai pasar berikutnya.
Dan dunia sebagai ruang yang ingin dijajaki.
Tentu jalan menuju pasar internasional tidak pendek. Dibutuhkan kualitas yang konsisten, kapasitas produksi, kemasan, perizinan, distribusi dan strategi pemasaran yang matang.
Tetapi sebuah tujuan besar selalu dimulai dari keberanian untuk menyebutnya.
Ketika petani dikumpulkan dalam satu pintu
Samuel juga menaruh perhatian pada kekuatan produksi di tingkat petani.
Ia mendorong agar kopi dari berbagai kelompok petani dihimpun dan dikelola melalui KPAGC.
Gagasannya sederhana, tetapi memiliki konsekuensi besar: produksi disatukan, pemasaran diperkuat, dan koperasi menjadi pusat pengembangan usaha kopi masyarakat.
“Semua kopi yang ada di belakang ini harus satu pintu. Teman-teman dari kelompok lain yang mau mengambil atau membeli kopi, silakan melalui Amungme Gold,” ujarnya.
Konsep satu pintu tersebut diarahkan untuk membuat pemasaran lebih terorganisasi.
KPAGC diharapkan tidak hanya dikenal sebagai rumah kopi, tetapi berkembang menjadi wadah ekonomi yang menghubungkan petani dengan pasar.
Di sana, keberhasilan koperasi tidak lagi semata-mata diukur dari aktivitas di dalam gedung.
Ukuran sesungguhnya berada di kebun-kebun petani.
Apakah produksi meningkat?
Apakah akses pasar terbuka?
Apakah petani memperoleh manfaat ekonomi?
Dan apakah koperasi mampu bertahan ketika dukungan program berhenti?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang pada akhirnya menentukan masa depan Amungme Gold.
Kopi yang membawa nama masyarakat
Samuel meminta seluruh kelompok petani membangun komitmen bersama.
“Supaya ke depan kita sama-sama berkomitmen. Semua penjualan kopi diarahkan melalui koperasi,” katanya.
Karena itu, komunikasi dengan pemerintah dan mitra usaha harus terus dibangun.
Kebutuhan koperasi harus dipetakan secara jelas. Modal, rumah produksi, fasilitas, kapasitas produksi, distribusi dan pemasaran tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Semua harus bergerak sebagai satu ekosistem.
Sebab di balik secangkir Amungme Gold, terdapat tangan petani yang bekerja di kebun.
Ada keluarga yang menggantungkan penghasilan.
Ada koperasi yang mencoba membangun masa depan.
Dan ada sebuah daerah yang ingin membuktikan bahwa kekayaan lokal dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Pada akhirnya, perjalanan Amungme Gold bukan semata perjalanan sebuah merek kopi.
Ia adalah perjalanan dari tanah Mimika menuju ruang pasar yang lebih luas.
Dari kebun ke rumah produksi.
Dari rumah produksi ke pasar.
Dari pasar menuju peluang yang lebih besar.
Dan jika seluruh mata rantai itu mampu dibangun dengan serius, suatu hari nama Amungme Gold bukan hanya dikenal karena cita rasanya.
Ia dapat dikenang sebagai salah satu cerita tentang bagaimana Mimika menanam, masyarakat bekerja, koperasi bergerak, dan sebuah kopi mencoba mengetuk pintu dunia.
“Kalau kita mau membantu masyarakat Amungme dan Kamoro, berarti kita harus serius,” tegas Samuel.


















