Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
NasionalPeristiwaPolkam

Gebyar Akbar Menggelegar, Pemuda Buntu Bedimbar Bergerak

46
×

Gebyar Akbar Menggelegar, Pemuda Buntu Bedimbar Bergerak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

DELI SERDANG |LINTASTIMOR.ID — Lapangan Alun-Alun Kecamatan Pasar 8, Desa Buntu Bedimbar, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, berubah menjadi ruang perjumpaan warga. Selama tiga hari, 28–30 Agustus 2026, semangat kemerdekaan tidak hanya terdengar dari panggung hiburan, tetapi juga tumbuh dari gotong royong masyarakat.

Di tengah riuh Gebyar AKBAR Buntu Bedimbar memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 itu, ada energi generasi muda yang bergerak dari balik panggung hingga ke tengah kerumunan.

Example 300x600

Mereka adalah Karang Taruna Desa Buntu Bedimbar.

Organisasi kepemudaan itu tidak datang sekadar untuk menyaksikan pesta kemerdekaan. Mereka mengambil bagian dalam mendukung, mengawal, dan menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan yang dikemas dalam Gebyar AKBAR.

Kegiatan tersebut menghadirkan beragam agenda. Mulai dari Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat desa se-Desa Buntu Bedimbar, perlombaan sepak bola antar-SD, perlombaan 17-an ibu-ibu antar-dusun, hingga karnaval kemerdekaan yang dilepas Bupati Deli Serdang.

Malam-malam kemerdekaan kemudian dipenuhi hiburan musik dengan penampilan Sandwich Band dan Kairos Band dari Medan.

Sekitar 50 tenda UMKM turut berdiri, memberi ruang bagi pelaku usaha masyarakat untuk memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung, dengan prioritas produk-produk unggulan hasil binaan Pemerintah Desa Buntu Bedimbar.

Namun, di balik gemerlap panggung, riuh suara warga, dan geliat pelaku UMKM, terdapat kerja sunyi para pemuda yang ikut memastikan pesta rakyat itu berjalan.

Pemuda Bukan Sekadar Penonton

Ketua Karang Taruna Desa Buntu Bedimbar, Daniel Iskandar Lubis, menempatkan keterlibatan pemuda bukan sebagai kewajiban seremonial, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada desa.

Baginya, generasi muda tidak semestinya hanya berdiri di pinggir, menyaksikan pembangunan berlangsung di hadapan mereka.

Pemuda harus berada di tengahnya.

“Karang Taruna Desa Buntu Bedimbar sangat mendukung dan ikut berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan Gebyar AKBAR ini. Kami bersama seluruh elemen masyarakat bergotong royong agar kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ini dapat berjalan dengan meriah dan memberikan manfaat bagi masyarakat.”

Bagi Daniel, kemerdekaan tidak cukup dimaknai melalui upacara, perlombaan atau hiburan. Kemerdekaan juga harus menghadirkan ruang bagi anak-anak muda untuk berkarya, berorganisasi dan mengambil tanggung jawab di tengah masyarakat.

Sebab, sebuah desa tidak hanya dibangun oleh gedung dan infrastruktur. Ia juga tumbuh dari manusia yang bersedia bergerak untuk lingkungannya.

Dari Pemuda, Untuk Desa

Keterlibatan Karang Taruna dalam Gebyar AKBAR memperlihatkan posisi strategis pemuda dalam kehidupan sosial desa.

Energi mereka dapat menjadi tenaga penggerak. Kreativitas mereka dapat menjadi gagasan. Sementara organisasi menjadi ruang untuk mengubah gagasan itu menjadi kegiatan yang memberi manfaat.

Daniel mengatakan, momentum tersebut juga menjadi kesempatan bagi pemuda untuk memperkuat persatuan masyarakat Desa Buntu Bedimbar.

“Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat persatuan masyarakat Desa Buntu Bedimbar. Melalui kegiatan seperti ini, para pemuda dapat berkontribusi dan mengambil peran positif dalam membangun desa yang kita cintai.”

Pesan itu terasa semakin relevan ketika energi generasi muda berhadapan dengan berbagai tantangan zaman.

Daripada energi tersebut terseret ke ruang-ruang negatif, Karang Taruna Buntu Bedimbar memilih mengarahkannya menjadi kekuatan sosial: bekerja bersama, membantu masyarakat, menghidupkan kegiatan desa, sekaligus membangun rasa memiliki terhadap kampung halaman.

Ketika Pesta Rakyat Menggerakkan Ekonomi

Gebyar AKBAR tidak berhenti pada panggung hiburan.

Sekitar 50 pelaku UMKM mendapat ruang untuk memperkenalkan produk mereka. Tenda-tenda usaha berdiri berdampingan dengan arena kegiatan, menjadikan perayaan kemerdekaan bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang perjumpaan antara produk lokal dan masyarakat.

Di sinilah kegiatan kepemudaan menemukan dimensi yang lebih luas.

Ketika olahraga, seni, keagamaan, hiburan dan UMKM dipertemukan dalam satu ruang, pemuda tidak hanya belajar mengelola sebuah kegiatan. Mereka juga belajar membaca potensi desa.

Karang Taruna menunjukkan bahwa pemuda dapat menjadi penggerak kegiatan sosial sekaligus bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.

Kades Apresiasi Semangat Kebersamaan

Kepala Desa Buntu Bedimbar, Mus Mulyadi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dan berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya Gebyar AKBAR.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan kerja bersama yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk generasi muda.

Selain menjadi momentum memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81, kegiatan itu juga memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM binaan Pemerintah Desa Buntu Bedimbar untuk memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat.

Mus berharap kebersamaan yang telah terbangun tidak berhenti ketika rangkaian Gebyar AKBAR berakhir.

Semangat itu, menurutnya, harus terus dibawa ke dalam kehidupan dan pembangunan desa.

Malam Terakhir, Semangat Belum Berakhir

Minggu, 30 Agustus 2026, Gebyar AKBAR memasuki malam penutupan.

Panggung kembali disiapkan. Pengamen Binjai dijadwalkan tampil sebelum pesta kembang api menutup rangkaian perayaan.

Langit malam Buntu Bedimbar akan dihiasi cahaya.

Namun, di balik kilatan kembang api itu, ada cahaya lain yang sesungguhnya lebih penting: keberanian anak-anak muda untuk mengambil peran.

Secara kontekstual, keterlibatan Karang Taruna dalam kegiatan desa menunjukkan bahwa pembangunan berbasis masyarakat tidak hanya membutuhkan kebijakan pemerintah, tetapi juga partisipasi generasi muda. Ketika pemuda diberi ruang untuk berorganisasi dan berkontribusi, kegiatan sosial dapat berkembang menjadi ruang pendidikan kepemimpinan, penguatan solidaritas sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Gebyar AKBAR mungkin selesai ketika panggung dipadamkan dan kerumunan perlahan meninggalkan lapangan.

Kembang api akan hilang di langit.

Musik akan berhenti.

Tenda-tenda UMKM akan dibongkar.

Tetapi semangat pemuda tidak seharusnya ikut selesai.

Karang Taruna Desa Buntu Bedimbar telah menunjukkan satu hal sederhana: pemuda tidak harus menunggu diberi peran untuk berguna bagi desanya. Mereka cukup memilih untuk hadir, bergerak dan bekerja bersama.

Sebab, desa yang kuat bukan hanya desa yang memiliki pembangunan.

Desa yang kuat adalah desa yang memiliki pemuda yang bersedia menjaganya tetap hidup.

Dan di Buntu Bedimbar, pemuda itu sedang bergerak.

 

Example 300250
Penulis: TimEditor: Agustinus Bobe