NTB | LINTASTIMOR.ID — Di tengah kibaran Merah Putih dan khidmatnya lagu kebangsaan, sebuah pesan kemanusiaan hadir tanpa banyak kata dari Lapangan Bumi Gora, Nusa Tenggara Barat, Senin (17/8/2026).
Pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu, Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal, didampingi Ketua TP PKK NTB Hj. Sinta Agathia M. Iqbal, mengenakan pakaian adat Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Pilihan busana tersebut segera menjadi simbol yang melampaui seremoni. Di balik kain dan motif budaya Manggarai, terselip pesan solidaritas untuk masyarakat NTT yang sedang menghadapi duka dan perjuangan setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7.
Iqbal seperti ingin mengatakan bahwa pada hari ketika Indonesia merayakan kemerdekaannya, tidak semua saudara sebangsa sedang berada dalam suasana yang sama. Sebagian masih berhadapan dengan kehilangan, ketakutan, dan upaya menyelamatkan kehidupan.
“Pakaian adat Manggarai ini kami kenakan sebagai bentuk solidaritas. Menunjukkan bahwa masyarakat Manggarai tidak sendiri. Kita bersama-sama dengan mereka dalam situasi sulit ini,” ujar Gubernur Miq Iqbal.
Pesan itu kemudian menemukan bentuknya dalam sebuah adegan yang lebih sederhana dan manusiawi.
Usai upacara, Gubernur NTB dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri memeluk serta menenangkan warga NTT yang menggelar aksi teatrikal solidaritas di luar halaman kantor.
Pelukan itu tidak memerlukan podium. Tidak pula membutuhkan protokol yang panjang. Ia menjadi bahasa yang paling sederhana untuk menyampaikan bahwa penderitaan di satu pulau dapat dirasakan oleh saudara di pulau lainnya.
NTB sendiri bukan daerah yang asing dengan getirnya bencana. Pengalaman gempa dahsyat pada 2018 membuat masyarakat NTB memahami bahwa setelah bumi berhenti berguncang, pekerjaan kemanusiaan justru baru dimulai—menemani mereka yang kehilangan, menguatkan mereka yang takut, dan memastikan tidak ada yang merasa berjalan sendirian.
Dalam konteks itulah, pakaian adat Manggarai yang dikenakan Iqbal memiliki makna lebih dalam daripada sekadar pilihan busana upacara. Identitas budaya yang biasanya hadir sebagai penanda asal-usul, pada momentum ini berubah menjadi jembatan solidaritas. Kebudayaan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi bergerak menjadi empati—menyatukan NTB dan NTT dalam pengalaman kemanusiaan yang sama.
Solidaritas itu pun tidak berhenti pada simbol.
Pemerintah Provinsi NTB telah mengerahkan tim misi kemanusiaan gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI-Polri, tenaga kesehatan hingga relawan untuk turun langsung membantu penanganan bencana di NTT.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa dukungan bagi NTT tidak hanya diwujudkan melalui pesan moral, tetapi juga melalui kerja nyata di lapangan.
Sebab kemerdekaan, pada akhirnya, bukan hanya tentang upacara, bendera, atau pidato. Kemerdekaan juga menemukan maknanya ketika sebuah daerah mampu menoleh kepada daerah lain yang sedang terluka, lalu memilih untuk hadir.
Hari itu, Merah Putih berkibar di Lapangan Bumi Gora. Namun di balik warna merah dan putih itu, ada warna kemanusiaan yang jauh lebih luas: kepedulian, persaudaraan, dan keberanian untuk merasakan luka orang lain sebagai luka bersama.
“Satu sakit, yang lain ikut merasakan. Kemerdekaan hari ini kita rayakan dengan mengibarkan Merah Putih, namun kemanusiaan kita wujudkan dengan mengulurkan tangan. Terus kuat, NTT! Kalian tidak sendirian.”
Di antara gemuruh perayaan kemerdekaan, pesan itu terasa sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia menjadi kuat: Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang berdiri bersama di hari bahagia, tetapi juga oleh saudara-saudara yang memilih tetap menggenggam tangan ketika sebagian lainnya sedang jatuh.


















