TIMIKA |LINTASTIMOR.ID-Senja belum sepenuhnya tenggelam di ufuk Mimika ketika sebuah kabar datang dari Kiura. Di kawasan yang selama ini akrab dengan sunyi dan panjangnya perjalanan, deru mesin bus akhirnya menjadi pertanda baru: akses yang selama bertahun-tahun dirindukan mulai hadir bagi masyarakat Suku Kamoro yang tinggal di sepanjang jalur Trans Papua.
Bagi warga di Kaliputih Kiura, perjalanan menuju Kota Timika bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah perjalanan untuk mencari layanan kesehatan, memenuhi kebutuhan rumah tangga, mengurus pendidikan anak, hingga mempertahankan denyut ekonomi keluarga. Selama ini, keterisolasian menjadi bagian dari keseharian mereka.
Wakil Ketua Komisi IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, mengatakan layanan Bus DAMRI pada rute Kaliputih Kiura–Timika kini mulai menjawab kegelisahan panjang masyarakat setempat.
“Beberapa waktu lalu saya terus mengupayakan agar masyarakat di wilayah itu mendapat layanan transportasi. Tadi malam saya mendapat telepon dari Bapak Hiro yang menyampaikan terima kasih karena kini masyarakat sudah dilayani Bus DAMRI dari Kaliputih Kiura ke Timika, pulang pergi,” ujar John Gobai.
Gobai menuturkan, dirinya selama ini rutin melakukan kunjungan kerja ke masyarakat Kamoro yang bermukim di sekitar kawasan perkebunan kelapa sawit di Kiura. Dalam setiap kunjungan itu, satu keluhan yang paling sering ia dengar adalah sulitnya memperoleh akses transportasi menuju Timika.
Kehadiran bus DAMRI, menurut dia, bukan hanya menghadirkan kendaraan umum, melainkan juga membuka ruang mobilitas yang lebih manusiawi bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota.
Di sepanjang bentangan Trans Papua yang menghubungkan Kabupaten Nabire, Kabupaten Mimika, hingga Kabupaten Deiyai, akses transportasi masih menjadi tantangan mendasar. Jarak yang jauh, biaya perjalanan yang tinggi, serta keterbatasan moda angkutan sering kali membuat masyarakat adat di kawasan pedalaman menghadapi kesulitan untuk menjangkau layanan publik.
“Terima kasih kepada Kementerian Perhubungan dan DAMRI yang terus melayani masyarakat Suku Kamoro yang tinggal jauh dari Kota Timika,” kata Gobai.
Secara kontekstual, hadirnya layanan transportasi publik di wilayah pedalaman Papua Tengah memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar konektivitas. Transportasi merupakan urat nadi pembangunan yang menentukan seberapa cepat masyarakat dapat mengakses pendidikan, layanan kesehatan, pasar, dan berbagai program pemerintah. Dalam banyak kasus di Papua, keterbukaan akses transportasi menjadi salah satu instrumen penting untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah dan memperkuat integrasi sosial-ekonomi masyarakat adat dengan pusat-pusat pertumbuhan.
Gobai berharap layanan tersebut tidak berhenti sebagai program sesaat, tetapi dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan agar masyarakat di kawasan pedalaman memperoleh akses transportasi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Di tanah yang selama ini terbiasa memandang jalan sebagai garis panjang menuju ketidakpastian, kehadiran sebuah bus mungkin tampak sederhana. Namun bagi warga Kamoro di Kiura, ia adalah simbol bahwa negara mulai hadir lebih dekat—membawa harapan, memperpendek jarak, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru di ujung jalan Trans Papua.


















