TIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Di balik angka-angka yang kerap dibaca sebagai statistik, tersimpan ribuan wajah anak yang sedang menunggu kesempatan untuk tumbuh sehat. Dari ruang pelatihan di Hotel Grand Tembaga, Rabu (15/7/2026), Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika mengumpulkan tenaga kesehatan dari seluruh penjuru daerah, bukan sekadar untuk mengikuti pelatihan, melainkan memperkuat barisan terdepan dalam menghadapi salah satu tantangan pembangunan manusia: stunting.
Selama empat hari, 15–18 Juli 2026, dokter, perawat, bidan, tenaga gizi, dan berbagai profesi kesehatan dari 26 puskesmas bersama tiga rumah sakit rujukan—RSUD Mimika, Rumah Sakit Mitra Masyarakat, dan Rumah Sakit Banti—mengikuti pelatihan tatalaksana stunting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta guna memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan di tingkat primer.
Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Mimika, Hasmawati K, menegaskan bahwa pelatihan tersebut dirancang agar seluruh tenaga kesehatan memiliki standar pemahaman dan langkah penanganan yang sama dalam menghadapi persoalan stunting.
“Melalui pelatihan ini kami ingin seluruh tenaga kesehatan di puskesmas memiliki pemahaman yang sama dalam mendeteksi, menangani, dan melakukan pendampingan terhadap anak yang mengalami stunting maupun yang berisiko stunting,” ujar Hasmawati.
Menurutnya, laporan rutin dari puskesmas dan posyandu menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Mimika berada pada kisaran 9,7 persen. Namun, di balik persentase yang terlihat rendah itu terdapat kenyataan yang tidak sederhana. Dari sekitar 32 ribu balita, lebih dari 2.000 anak masih mengalami stunting.
“Persentasenya memang di bawah 10 persen, tetapi jika dilihat dari jumlah balitanya, kasus stunting masih cukup tinggi sehingga membutuhkan perhatian serius dari semua pihak,” katanya.
Hasmawati menjelaskan, penanganan stunting tidak dimulai ketika seorang anak telah mengalami gangguan pertumbuhan. Upaya pencegahan justru harus dimulai jauh sebelumnya, sejak remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, hingga periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Stunting merupakan masalah gizi kronis yang dipengaruhi banyak faktor. Karena itu pencegahannya harus dilakukan sejak dini agar anak dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ukuran kesehatan anak tidak dapat dinilai hanya dari berat badan. Anak yang tampak gemuk belum tentu memiliki pertumbuhan yang normal apabila tinggi badannya tidak sesuai dengan usia.
“Banyak orang tua menganggap anaknya baik-baik saja karena badannya berisi. Padahal bisa saja tinggi badannya tidak sesuai umur. Kondisi ini perlu diperiksa secara rutin di posyandu atau puskesmas,” ungkapnya.
Hasmawati menambahkan, wilayah kerja Puskesmas Wania dan Puskesmas Mimika Baru mencatat jumlah kasus terbanyak. Namun kondisi tersebut dipengaruhi oleh jumlah populasi balita yang memang lebih besar dibandingkan wilayah lainnya. Meski demikian, seluruh puskesmas di Mimika terus melakukan pemantauan pertumbuhan anak secara berkala.
“Kami tidak menunggu sampai anak dinyatakan stunting. Ketika berat badan anak tidak naik dalam dua kali penimbangan berturut-turut, petugas sudah melakukan pendampingan dan intervensi agar kondisinya tidak semakin memburuk,” tuturnya.
Secara kontekstual, pelatihan ini menunjukkan bahwa strategi penurunan stunting tidak lagi hanya berorientasi pada penanganan kasus, tetapi bergeser menuju penguatan kapasitas tenaga kesehatan sebagai ujung tombak layanan primer. Dengan kompetensi yang lebih baik, deteksi dini, edukasi keluarga, dan intervensi cepat di tingkat puskesmas diharapkan mampu menekan munculnya kasus baru sekaligus meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak di Kabupaten Mimika.
Melalui pelatihan ini, Dinas Kesehatan Mimika berharap kualitas pelayanan penanganan stunting di seluruh puskesmas semakin meningkat sehingga percepatan penurunan angka stunting dapat berjalan lebih efektif. Sebab, pada akhirnya, keberhasilan melawan stunting bukan hanya tentang menurunkan persentase di atas kertas, melainkan memastikan setiap anak Mimika memiliki hak yang sama untuk bertumbuh, bermimpi, dan menatap masa depan dengan tubuh yang sehat serta harapan yang utuh.


















